Aku dan Gunung Cucianku

 


Foto oleh Annie Spratt di Unsplash

Sudah hampir satu tahun sejak aku pindah rumah, selama itu pula aku tidak pernah benar-benar menang melawan gunung cucian di rumah. Khususnya untukku yang sebelum menikah tidak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga.

Setelah punya keluarga sendiri, baju-baju kotor datang lebih cepat daripada sebelumnya. Terlebih ketika anak-anak lahir. Salah satu dari mereka sering gumoh sehingga aku harus lebih sering berganti pakaian. Dalam sehari, keranjang cucian bisa kembali terisi meskipun baru saja dikosongkan.

Urusan mencuci baju juga tidak semudah yang orang-orang sangkakan. Aku pernah tinggal di rumah dengan air yang hanya mengalir tiga jam sehari. Pernah juga di rumah dengan sumur berisi air berlumpur. Dengan beban cucian sebanyak itu, air bersih yang tersedia tidak pernah cukup untuk menyelesaikan semuanya dalam satu waktu. 

Mencuci di malam hari merupakan satu-satunya waktu yang tersedia saat anak tidur. Namun hal ini memaksaku untuk bersahabat dengan rasa dingin dan basah dalam waktu yang lama. Itu bukan sesuatu yang sanggup aku lakukan setiap malam.

Jasa laundry kadang menjadi solusi praktis, tapi harus yang amanah karena risikonya nyata. Baju bisa hilang, tertukar, atau baru selesai tiga hari kemudian. Self-service laundry lebih andal, tapi biayanya cukup mahal dan lokasinya jauh.

Urusan menyetrika adalah babak tersendiri. Setiap kali kusetrika satu sisi sampai rapi, sisi yang lain ternyata masih kusut. Akhirnya kedua sisi kusetrika ulang. Begitu terus sampai waktu habis tak terasa. 

Saat pertama kali menyetrika serius setelah menikah, aku menghabiskan hampir dua jam untuk merapikan sepuluh potong pakaian. Di rumah kontrakan sekarang, mencari colokan yang bisa dijangkau sambil menjaga bayi saja sudah jadi tantangan tersendiri. Colokan di ruang tamu dipakai suamiku bekerja, colokan di kamar terhalang baby crib, lantai dua tidak bisa kugunakan karena atapnya bocor dan anakku tidak bisa kutinggal sendiri. Bisa saja menyetrika sambil duduk di lantai seperti yang ibuku lakukan setiap hari, tapi punggungku tidak setangguh itu.

Kadang aku hanya ingin beristirahat daripada berhadapan dengan tumpukan pakaian yang seolah tidak ada habisnya. Semua hambatan itu berbeda-beda bentuknya, tapi berakhir di ujung yang sama. Aku tetap harus berhadapan dengan gunung cucian itu. Lalu aku menyadari sesuatu. Barangkali gunung cucian itu memang tidak dirancang untuk dikalahkan.

Setelah baju dicuci, dikeringkan, disetrika, dan disimpan rapi di lemari, cepat atau lambat baju itu akan dipakai lagi. Ia akan terkena keringat, tumpahan makanan, gumoh bayi, debu jalanan, atau aktivitas sehari-hari lainnya. Lalu ia kembali ke keranjang cucian. Siklus itu tidak pernah berhenti.

Padahal, manusia modern memiliki banyak kemudahan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Mesin cuci dapat membersihkan pakaian dalam 30 menit. Mesin pengering mempercepat proses yang dulu bergantung pada cuaca. Bahkan layanan laundry dapat mengambil alih sebagian pekerjaan tersebut. Namun semua kemudahan itu tidak pernah benar-benar menghilangkan gunung cucian.

Dulu orang mencuci di sungai, menggilas baju dengan batu, menimba air dari sumur sebelum bisa memulai. Jauh lebih merepotkan secara fisik. Tapi rupanya kemudahan tidak selalu berarti pekerjaan menjadi lebih sedikit.

Ruth Schwartz Cowan dalam More Work for Mother menjelaskan ironi ini. Teknologi rumah tangga memang menghilangkan bagian yang paling melelahkan, tapi tidak mengurangi beban pekerjaan secara keseluruhan. Ketika mencuci menjadi lebih mudah, standar kebersihan ikut meningkat. Yang dulu masih dianggap layak dipakai, sekarang dianggap harus segera dicuci.

Dan ketika standar itu sudah terbentuk, susah sekali untuk mundur. Perusahaan deterjen ikut mengunci standar itu, menggeser definisi kotor dari noda yang terlihat menjadi bakteri yang tak tampak. Aku pernah mencoba memakai baju yang sama dua hari berturut-turut karena memang belum kotor. Tapi ada saja yang memperhatikan. Standar kebersihan bukan lagi soal higienitas semata, ia sudah menjadi cara orang menilai orang lain dari luar.

Karena mencuci menjadi lebih mudah, kita mencuci lebih sering. Karena baju lebih mudah dibersihkan, kita berharap pakaian selalu bersih. Karena teknologi menghemat waktu, kita mengisi waktu yang tersisa dengan pekerjaan lain.

Mungkin itu sebabnya pekerjaan rumah terasa tidak pernah selesai. Hambatannya berubah, alatnya berubah, tetapi sifat pekerjaannya tetap sama. Selesai hari ini untuk dimulai lagi besok.

Aku sering membayangkan memiliki ruang laundry impian. Ada mesin cuci sendiri, mesin pengering sendiri, meja setrika yang nyaman, lemari yang cukup besar, dan segala perlengkapan yang membuat pekerjaan rumah terasa lebih mudah. Namun bahkan jika semua itu benar-benar ada, aku curiga cucian tetap akan terus datang. Sebab yang membuat pekerjaan ini terasa tidak pernah selesai bukan semata-mata karena alatnya kurang canggih. Melainkan karena setiap hari selalu ada kehidupan yang berlangsung di rumah ini.

Ada suami yang giat bekerja. Ada anak-anak yang bermain dengan sehat dan ceria. Ada pakaian yang kupakai untuk menjalani hari-hariku sebagai ibu rumah tangga. Dan semua kehidupan itu menghasilkan cucian.

Gunung cucian memang melelahkan. Kadang membuat frustrasi. Kadang membuatku ingin menyerah. Tapi ia bukan sekadar tumpukan kain yang menunggu dibersihkan. Ia adalah jejak dari kehidupan yang terus berlangsung. Dan selama rumah ini masih dipenuhi orang-orang yang hidup, bekerja, bermain, makan, dan tumbuh bersama, gunung cucian itu akan selalu kembali.

Komentar

Postingan Populer