Antara Cucian dan Tulisan
Gambar oleh Nick Morrison dari Unsplash
Sudah 30 hari lamanya aku menjalani tantangan menulis blog di akun Mediumku. Ada hal yang terasa tak biasa sejak aku menjalaninya—terutama saat aku kembali ke kesibukan pekerjaan rumah tangga: mencuci baju, mencuci piring, memasang sprei, merapikan rumah, mengurus anak, dan sebagainya.
Seharusnya semua itu adalah kegiatan normal yang biasa kulakukan—bahkan otomatis. Tapi sekarang, rasanya berbeda. Menulis membuatku terpaksa mengatur waktu dengan lebih baik dan penuh kesadaran.
Kurasa menulis blog tidak semudah menulis status di media sosial. Menulis status terasa cepat, impulsif, dan intuitif—tidak terlalu menguras pikiran, tenaga, dan waktu. Tapi ketika menulis blog, aku ingin tulisanku terstruktur, mengalir, nyaman dibaca, dan tidak sembarang bicara—terlebih ketika menggunakan bahasa asing.
Sering kali, setelah satu jam fokus menulis, kepalaku mulai terasa pusing. Rasanya ingin segera merebahkan diri dan “bertamasya” ke alam mimpi. Tapi bahkan setelah itu, tulisannya belum tentu selesai. Masih ada bagian yang perlu direvisi, fakta yang perlu dicek, dan alur yang perlu diperbaiki.
Aku biasanya menulis di sekitar jam 10 malam hingga 1 dini hari—waktu yang sebelumnya kugunakan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah saat bayiku tidur. Tapi karena tulisanku jarang selesai dalam waktu singkat, suara ketikan keyboard justru membangunkannya. Akhirnya, malam yang seharusnya tenang berubah menjadi kompromi antara menulis dan menenangkan anak.
Beberapa hari terakhir, aku mulai menyadari sesuatu: aku mulai mengabaikan pekerjaan rumahku.
Apakah ini saat yang tepat untuk merekrut asisten rumah tangga? Kuharap begitu. Tapi dengan budget bulanan yang alakadarnya, rasanya belum memungkinkan. Aku juga masih bertanya-tanya, bagaimana caranya mempercayakan pekerjaan rumah kepada orang lain.
Meskipun menulis terasa “mengacaukan” ritme keseharianku, ada hal lain yang justru terasa semakin jelas: ada yang kurang jika aku tidak menulis, meskipun hanya satu hari.
Seolah-olah hidupku menjadi tidak lengkap tanpa menuangkan sesuatu ke dalam tulisan. Seolah-olah ada ruang dalam pikiranku yang terus meminta untuk diisi. Bukan sekedar ingin produktif, tapi ada dorongan untuk memahami sesuatu—hal-hal yang sebelumnya tidak kupikirkan.
Namun, menulis setiap hari tidak selalu berarti mempublikasikan setiap hari. Dari 30 hari yang sudah berlalu, aku hanya berhasil menerbitkan 17 tulisan. Tidak sesuai ekspektasi awal, karena beberapa tulisan memang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami dan dikaji. Tapi aku cukup puas dengan tulisan-tulisan yang sudah tampil di Mediumku.
Selain itu, ada hal lain yang terasa tidak biasa: penggunaan bahasa Inggrisku terasa lebih alami saat menulis. Aku lebih mudah menjelaskan dan mengungkapkan sesuatu, bahkan terkadang terasa lebih luas dan puitis.
Di sisi lain, ada sedikit rasa sedih.
Aku juga ingin lebih mahir dalam berbahasa Indonesia—bahasa ibuku sendiri. Tapi untuk menulis di dua blog dengan bahasa yang berbeda bukanlah hal yang mudah, apalagi saat aku masih berusaha menyeimbangkan banyak hal dalam hidupku.
Untuk sekarang, aku memilih bersyukur. Setidaknya, aku sudah menulis sampai sejauh ini.
Sebenarnya, menulis blog tidak harus selalu panjang dan dalam. Aku pernah melihat blog Seth Godin—tulisannya singkat, tapi tajam. Setiap kali membacanya, aku sering berpikir, “kok bisa?”
Mungkin karena aku masih belajar, aku merasa harus menuangkan semuanya ke dalam tulisanku. Aku takut ada sesuatu yang penting tidak tercantumkan di tulisanku.
Aku teringat sebuah saran dari pak Tatang Hernas Soerawidjaja ketika memberikanku masukan untuk penelitianku: coba jelaskan apa yang kamu pahami seolah-olah kamu menjelaskannya kepada kakek-kakek dengan bahasa yang sederhana.
Ternyata, ada istilah untuk itu—teknik Feynman. Teknik Feynman memberikan metode menjelaskan materi yang telah dipelajari untuk disederhanakan, kemudian memperbaiki pemahaman kita.
Dan semakin kupikirkan, sebenarnya aku sudah sering melihat contoh yang jauh lebih indah dari itu.
Rasulullah ﷺ dikenal memiliki keistimewaan yang disebut Jawami’ al-Kalim (جوامع الكلم)—kemampuan menyampaikan kalimat yang singkat, namun padat makna. Sedikit kata, tapi dalam.
Semantara aku di sini masih sering merasa perlu menuliskan semuanya, panjang lebar, takut ada yang terlewat. Tapi mungkin memang itu bagian dari proses belajar. Belajar merangkai kata, memahami, dan menyederhanakan.
Dan dari situ, aku mulai menyadari sesuatu. Yang berubah ternyata bukan hanya rutinitasku, tapi juga caraku melihatnya. Pekerjaan rumah masih sama, waktu tetap 24 jam, kesibukanku tidak berkurang, tapi hal-hal yang dulu terasa biasa, kini terasa lebih terlihat. Di antara cucian yang belum selesai, di sela-sela ketikan larut malam, dan di dalam diri yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kuharap perubahan kecil dalam hidupku ini bisa membuatku lebih bijak dalam memandang segala sesuatu di sekitarku. Kuharap Allah memudahkanku untuk menyeimbangkan kehidupanku sehari-hari dan menulis. Dan kuharap Allah bukakan pintu rejekiku dari menulis! Hahaha.
Ngomong-ngomong, kalau kalian penasaran seperti apa 17 tulisan yang “mengacaukan” rutinitasku, kalian bisa mampir ke akun Mediumku disini. Siapa tahu ada tulisan yang sesuai dengan perasaan kalian saat ini.
Tulisan ini merupakan bagian dari Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Mei 2026 dengan tema “Hari Biasa yang Tak Biasa.”

.jpg)
Hebat sekali Bela, masih bisa menyempatkan diri menulis sambil punya bayi. Setiap ibu memang perlu me time yang sehat kaya gini.
BalasHapusKeren teh Bela... Menulis itu memang membahagiakan.
BalasHapusTeh, bisa nulis 17 tulisan blog pas anak masih bayi itu udah rekor. aku kayanya dulu 1 aja perjuangan. Jadi aku baru bisa berhasil ngeblog ketika anak sudah 3-4 tahun ke atas deh.
BalasHapusMenulis memang perlu demi ekspresi diri ibu, apalagi kalau sehari2 sibuk ngurus rumah dan anak