Rukun Iman 8 : Beriman Kepada Takdir Allah

Kali ini kita memasuki rukun yang terakhir, yaitu rukun yang keenam, beriman dengan takdir. Rukun ini memiliki kedudukan yang sangat vital di dalam agama kita. Saking vitalnya, sampai-sampai tauhid atau keimanan seseorang tidak akan sah manakala dia tidak mengimani takdir ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ’anhuma, beliau pernah berkata,

"Takdir adalah aturan tauhid. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah -عَزَّ وَجَلَّ- dan beriman kepada takdir, maka itulah tali yang kokoh yang tidak akan dapat putus. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah -عَزَّ وَجَلَّ- dan mendustakan takdir, maka dia telah membatalkan tauhidnya." (al-Qadr, 205; al-Ibanah, 1624; Usulul ‘Itiqad, 1224).

Makna Iman Kepada Takdir

Para ulama kita mengatakan iman kepada takdir maknanya adalah meyakini bahwa segala sesuatu yang baik maupun yang buruk terjadi dengan sepengetahuan Allah dan takdirnya. Iman dengan takdir itu adalah kita yakin apapun yang terjadi entah itu sesuatu yang baik ataupun yang buruk menurut pandangan kita (Sesuatu yang baik contohnya rizki kita lancar, sehat, panen berhasil, dan mampu beribadah. Sesuatu yang buruk menurut kita contohnya rizki kita seret, sakit, panen gagal, bermaksiat), semuanya ini harus kita yakini bahwa itu tidak terjadi kecuali sepengetahuan Allah dan dengan takdir Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Qamar ayat 49,

إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَـٰهُ بِقَدَرٍۢ ٤٩

Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.

Sesungguhnya segala sesuatu kami ciptakan dengan takdir. Apapun yang terjadi di alam semesta ini itu pasti terjadi dengan takdir, kehendak, dan pengetahuan Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa beriman dengan takdir itu sudah ijma para ulama. Beliau berkata,

“Sudah jelas dalil-dalil yang qath’i dari al-Qur-an, as-Sunnah, ijma’ Sahabat, dan Ahlul Hil wal ‘Aqd dari kalangan salaf dan khalaf tentang ketetapan qadar Allah Azza wa Jalla.”

Ulama salaf maupun khalaf, mereka semua sepakat wajib meyakini dengan adanya takdir. Sehingga ketika ada orang tidak percaya denggan takdir, dia bukan hanya menyelisihi al-Quran, bukan hanya menyelisihi sunnah, dia juga menyelisihi ijma’ para ulama. Makannya takdir ini masalah prinsip.

Cakupan Iman Kepada Takdir

1.      Meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara global maupun secara rinci.

Secara global itu misalnya seseorang lahir tahun 1980 kemudian meninggal tahun 2010. Secara rinci itu misalnya seseorang lahir pada tanggal 20 Juli 1980 jam 10:20:21, pada umur 19 tahun lewat 1 hari jam sekian dia akan menikah dengan seorang Wanita yang ditemui secara tidak sengaja di pengajian Fulan dengan tema tertentu. Seluruh kejadian yang global maupun yang rinci, Allah sudah tahu sebelum kejadian itu terjadi. Kalau setelah terjadi, manusia juga tahu. Dalilnya adalah surat at-Talaq ayat 12. Allah berfirman,

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَـٰوَٰتٍۢ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا ١٢

 

Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. At-Talaq [65]: 12)

 

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِى كِتَـٰبٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ ٧٠

 

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, Yang demikian itu sudah terdapat dalam suatu Kitab (Lau Ma). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj [22]: 70)

 

Dalam ayat lain, Allah ngasih sampel. Dalam ayat lain, Allah ngasih contoh bagaimana detilnya pengetahuan dan ilmu Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا ٥٩

 

Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya (QS. Al-An’am: 59)

 

Tidak ada satu daun pun yang jatuh melainkan Allah tahu pohon mana, kapan, dimana, dan berapa daun itu jatuh. Seluruh pohon yang ada di permukaan bumi. Kapan terakhir ada daun jatuh dari pohon di sekitarmu? Tidak tahu. Meskipun di dekat rumahmu hanya ada satu pohon yang bila ada daun jatuh, menghitungnya mudah. Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala, semuanya tahu. Mulai dari dahulu sampai hari kiamat. Itulah detilnya ilmu Allah ‘azza wa jalla. Ini Allah sampaikan dalam surat al-An’am ayat 59. Poin yang pertama adalah meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, yang global maupun detil. Kata kunci dalam poin yang pertama adalah mengetahui. Siapa yang mengetahui? Allah.

 

2.      Meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menulis segala sesuatu sebelum kejadiannya di lauhul mahfudz.

Kata kuncinya adalah menulis. Bukan hanya diketahui oleh Allah, tetapi ditulis oleh Allah subhanahu wa ta’ala secara detil. Dalilnya adalah surat al-Hajj ayat 70.

 

 

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِى كِتَـٰبٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ ٧٠

 

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, Yang demikian itu sudah terdapat dalam suatu Kitab (Lau Ma). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj [22]: 70)

 

Yang dimaksud kitab disini adalah Lauhul mahfudz. Seluruh kejadian di muka bumi ini, maupun di alam semesta, di langit, yang besar maupun yang kecil, detil telah tertulis di dalam lauhul mahfudz. Kalian sekarang ada yang garuk-garuk, itu sudah ditulis.  Apalagi yang ngantuk.

Bisakah kalian menulis aktifitas kalian secara detil satu hari? Tidak mungkin! “Ustadz, saya punya jadwal, ustadz.” Itu jadwal global. Berangkat kantor jam 7, pulang kantor jam 2. Tapi pada jam berapa kamu menyalakan motor, pada menit berapa mulai ngegas, berhenti di lampu merah menit keberapa, di lampu merah melihat apa, ketika berhenti batuk berapa kali. Bisakah detail kegiatanmu satu hari saja kamu tulis? Tidak bisa. Allah tulis apa yang akan kita lakukan seumur hidup kita. Dan bukan yang hanya kita lakukan, yang akan dilakukan oleh seluruh manusia. Dan bukan apa yang dilakukan oleh manusia saja, tapi juga yang dilakukan oleh binatang, tumbuhan. Oleh karena itu di surat Al-An’am ayat 59 Allah bicara tentang daun. Bukan hanya makhluk-makhluk ini saja, gunung meletus, banjir, gempa, semuanya sudah ditulis oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak sulit bagi Allah. Oleh karena itu, Allah tutup firmannya dalam surat al-Hajj ayat 70,

 

إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ ٧٠

 

Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj [22]: 70)

 

“Ustadz, Benarkah Allah yang menulis takdir kita?” Allah memerintahkan makhluknya untuk nulis, yaitu al-Qalam atau Pena. “Lho? Yang menulis pena tapi tadi ustadz bilang Allah yang menulis?” Lho? Yang memerintahkan pena untuk menulis kan Allah. Perumpamaanya, jika ada surat, kopnya Presiden Republik Indonesia, tanda tangannya Presiden Republik Indonesia, surat itu ditunjukkan kepada Anda. Anda bilang mendapatkan surat dari Presiden. Padahal yang menulis surat tersebut adalah sekretaris yang diperintah Presiden.

 

Saya katakan bahwa Allah telah menulis padahal realitanya yang menulis adalah pena karena Allah yang memerintahkannya. Keterangannya terdapat dalam hadits Riwayat Abu Dawud, dan hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikhul Albani. Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

 

إن أول ما حلق الله القلم, قل له: أكتب! قل: رب وماذا أكتب؟ قل: أكتب مقادير كل شيء حتى تقوم الساعة

 

“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.'” (Shahih, riwayat Abu Dawud (no. 4700), dalam Shahiih Abu Dawud (no. 3933), Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam ­asy-Syari’ah (no.180), Ahmad (V/317), dari Shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu)

 

Pertama kali Allah menciptakan Qalam, yaitu Pena, Allah berfirman kepada Pena, “uktub!” Artinya “tulis!” Perintah ini bersifat global. Tulis! Karena masih global, Pena bertanya. Pena ini bisa bicara. Pena ini bukan pena seperti pena di dunia yang tidak bisa bicara. Ini penanya Allah. Sesuatu yang mudah jangan dibuat sulit. Pokoknya apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi, seperti apa yang Allah sebutkan dalam surat Yasin ayat 82.

 

إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٨٢

 

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.

 

Maka pena pun bertanya ketika mendapatkan perintah tapi perintahnya masih bersifat global, “Robbi wa maalaa aktub?”, “Yaa Allaah, apa yang harus saya tulis?”, Baru kemudian Allah berfirman, “uktub maqqodiirokulli syayin hatta takuumassaa”, “Tugasmu menulis takdir segala sesuatu  sampai hari kiamat.”

 

Kalau pena itu manusia, mungin penanya bisa kesal diberi perintah seperti itu.Tapi tidak apa-apa karena itu bentuk ibadahnya pena. Ibadah kita, shalat, puasa, zakat. Ibadah pena menulis. Kapan kejadiannya pena disuruh menulis? Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam menyebutkannya dalam hadits Riwayat Muslim,

 

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرُ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

 

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al- ‘Ash

 

Allah menulis takdir para makhluk. Lihat, siapa yang menulis? Allah. Padahal yang mengeksekusi Pena. Nabi tetap mengatakan, yang menulis Allah walaupun yang menjalankan tugasnya Pena. Karena yang menyuruh pena ini Allah. Allah menulis takdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Kamu mau punya anak 5, semuanya laki-laki. Setelah nomor lima berhenti. Itu sudah ditulis sama pena atas perintah Allah 50.000 tahun sebelum adanya langit dan bumi.

 

3.      Meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak dan kekuasaan Allah.

Maksudnya, Allah menghendaki ini terjadi. Allah menghendaki sore ini kamu berangkat ke Masjid Agung. Allah menghendaki sore ini temanmu bermain bola walaupun kamu sudah ajak ke Masjid Agung. Allah menghendaki kita punya mobil besok, misalnya. Allah menghendaki hari ini narik becak dapatnya Rp10.000. Apapun yang terjadi di muka bumi ini, yang baik maupun yang jelek, ingat, iman kepada takdir itu mencakup yang baik maupun yang buruk. Maka apapun yang terjadi di muka bumi ini baik maupun buruk dengan kehendak Allah. Setan. baik atau buruk? Sumber buruk. Setan ada di muka bumi ini, siapa yang menciptakan? Allah.  Berarti Allah menghendaki adanya setan?  Iya!

 

“Lho ustadz, setan kan jahat, ustadz? Kenapa Allah menciptakan setan?” Jadi Allah menciptakan setan bukan supaya kita ikuti. Ada orang yang nyate tikus. Tikus kok disate? Kan haram? Loh? Allah buat apa menciptakan tikus kalau bukan buat disate? Loh? Itu kesimpulan darimana? Setan diciptakan oleh Allah, walaupun aslinya jahat, sebagai ujian. Kalau nggak ada setan, masjid agung ini penuh terus. Nanti hakim di pengadilan agama nggak ada kerjaan, nggak ada yang cerai. Langgeng semuanya pernikahan. Pasti ada hikmahnya.

 

Kalau tikus hikmahnya apa, ustadz? Mungkin jadi kucing punya makanan. Kemudian ada pabrik racun tikus. Itu bisa jadi nafkah. Pabrik perangkap tikus. Dan mungkin masih ada hikmah yang lainnya yang mungkin kita nggak sampai untuk mengetahui semuanya. Apa dalilnya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah? Al-Quran surat al-Qasas ayat 68.

 

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ ٦٨

 

DanTuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

 

Jadi apapun yang diciptakan oleh Allah, itu pasti dengan kehendaknya  Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hadits Riwayat bukhari dan muslim, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

 

Innahu yaf’alu maa yasyaa’ laa mukrihalahu

 

Sesungguhnya Allah melakukan apa yang dia kehendaki. Tidak ada yang bisa memaksa Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Berbeda dengan manusia. Manusia itu kadang-kadang melakukan sesuatu yang tidak dia kehendaki. Dipaksa oleh seseorang untuk melakukan sebuah perbuatan. Dia tidak mau. Tapi mau nggak mau, karena dia dipaksa, dia lakukan. Allah nggak. Seluruh apa yang diperbuat oleh Allah dengan kehendaknya, dan tidak ada yang memaksa Allah subhanahu wa ta’ala.

 

4.      Meyakini bahwa Allah lah yang menciptakan segala sesuatu.

Kata kuncinya adalah menciptakan. Seluruh yang ada di muka bumi ini, yang baik, yang buruk, yang besar, yang kecil, dahulu, sekarang, disini, disana, semuanya Allah yang menciptakan. Allah berfirman dalam surat ar-Ra’d ayat 16.

 

قُلِ ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍۢ وَهُوَ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّـٰرُ ١٦

 

Katakanlah, "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Mahaperkasa."

 

Allah pencipta segala sesuatu. Termasuk perbuatan kita! Allah bukan hanya menciptakan kita, fisik kita, tapi apa yang kita perbuat itu diciptakan sama Allah. Allah menghendaki kita melakukan itu. Allah menakdirkan kita melakukan itu. Makannya ayat lain lebih tegas dan lebih jelas. Dalam surat ash-Shaffaat ayat 96 Allah berfirman,

 

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ ٩٦

 

padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat."

 

Jadi kita sholat itu yang menciptakan dan menakdirkan Allah. Kita puasa, yang menakdirkan Allah. Kita bohong, Allah yang menakdirkan. Cuma Allah nggak suka kalau kita bohong. Jadi jangan, “ah, Allah kok yang ciptakan. Nggak apa-apa bohong.” Bukan! Allah nggak suka. Karena Allah nggak suka kalau kita berbuat maksiat. Terus, kenapa Allah takdirkan kita bohong? Banyak hikmah dibalik itu. Allah takdirkan kita bohong, berbuat maksiat, hikmahnya setelah itu kita taubat. Kita taubat dapat pahala. Dari awal saya katakan, beriman dengan takdir yang baik dan yang buruk, semuanya. Ustadz, kalau semuanya sudah ditakdirkan Allah, kita pasrah aja dengan takdir, ustadz. Ini pertanyaan ini pernah ditanyakan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jadi pikiran itu bukan pikiran yang baru. Itu sudah lama pikiran itu. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda,

 

 

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ أَوْ مِنْ الْجَنَّةِ

 

Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempat duduknya di neraka atau di surga.”

 

Qoolu, mereka bertanya, berarti yang tanya nggak Cuma satu, banyak yang tanya,

Yaa rasulallaah, afalaa takilu ‘alaa kitaabinaa wanad’u ‘amal?

 

Para Sahabat bertanya: “Ya Rasûlullâh, kalau begitu tidakkah kita meninggalkan amalan, dan kita pasrah saja pada suratan takdir?” Beliau pun menjawab:

 

اعْمَلُوا ؛ فكلٌّ مُيَسرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

 

“Beramallah! Karena semua orang dimudahkan untuk melakukan apa yang menjadi tujuan ia diciptakan.” (HR. al-Bukhâri 4949 kitab tafsir dan no 6217 kitab al-adab; juga Muslim 2647 kitab al-qadr.)

 

Semua dari manusia sudah ditentukan nanti di akhirat surga atau neraka. Termasuk yang hadir disini? Ya, semuanya! Sudah ditentukan, ditakdirkan nanti surga atau neraka. Begitu mendengar apa yang disampaikan oleh nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat bertanya, Wahai rosul, gimana kalau misalnya kita mengandalkan ketentuan Allah itu, kita andalkan apa yang sudah ada di lauhul mahfudz kemudian kita nggak perlu beramal? Lagipula, kalau kita sudah ditakdirkan kelak di surga, untuk apa amal? Pada akhirnya masuk surga kok. Atau sebaliknya, kalau ternyata ditakdirkan masuk neraka ngapain capek-capek amal? Toh nanti juga masuk neraka. Shahabat bertanya kepada nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ya sudah kalau begitu nggak usah beramal aja, wahai Rasul. Kan sudah ditetapkan surga atau nerakanya. Kata nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tetaplah kalian beramal. Karena masing-masing akan dimudahkan oleh Allah sesuai dengan garis takdirnya sendiri-sendiri.

Saya beri contoh. Sekarang kamu di masjid. Lagi ngaji. Ngaji ini jalan ke Surga atau Neraka? Surga. Mudah-mudahan ini pertanda kalau kita ditulisnya di surga. Mudah-mudahan itu berarti sesuatu yang belum pasti. Tapi kita disuruh berbaik sangka.

 

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

 

Aku itu, kata Allah, terserah hambaku berprasangka kepadaku. Kalau kita berprasangka baik, maka kita akan dikasih yang baik. Kita ini sedang dimudahkan oleh Allah menuju takdir kita. Semoga takdir kita ke surga, makannya sekarang ini Allah buka dan gerakan hati kita untuk datang ke masjid, ngaji, karena ini jalan menuju takdir kita di surga. Insyaa Allah. Maka kalau sudah dimudahkan sama Allah jalannya, jangan belok! Kalau sudah ketemu jalannya, terus ikuti jalan ini, jangan belok-belok. Berarti cakupannya empat. Yang pertama mengetahui, yang kedua menulis, yang ketiga berkehendak, yang keempat menciptakan. Dan ini semuanya kaitannya dengan Allah.

 

Buah Iman Kepada Takdir Allah

1.      Selalu bergantung kepada Allah.

Karena yang menentukan semuanya adalah Allah. Kerja, nyari rizki. Yang menentukan banyak sedikitnya rizki adalah Allah. Maka kita tidak bergantung kepada pekerjaan yang kita lakukan. Berobat, kita boleh nggak berobat? Boleh. Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam menyuruh “tadaawaw” berobatlah kalian. 

 

berdasarkan hadits Usamah bin Syarik Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: Seorang Arab badui bertanya :

 

يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَلَا نَتَدَاوَى؟ قَالَ: نَعَمْ، يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً أَوْ قَالَ دَوَاءً إِلَّا دَاءً وَاحِدًا. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُوَ؟ قَالَ: الْهَرَمُ

 

“Wahai Rasulullah, bolehkah kita berobat?” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda: “Berobatlah, karena Allah telah menetapkan obat bagi setiap penyakit yang diturunkan-Nya, kecuali satu penyakit!” Para sahabat bertanya: “Penyakit apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Pikun.” [H.R At-Tirmidzi IV/383 No:1961 dan berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Dan diriwayatkan juga dalam Shahih Al-Jami’ No:2930]

Referensi :

 

Tapi ketergantungan kita dalam berobat bukan kepada dokter atau kepada obat. Karena yang menentukan sembuh tidak sembuh adalah Allah. Maka orang yang beriman dengan takdir nggak akan pernah dia tawakkal sama obat atau dokter. Karena dokter tidak bisa menyembuhkan, apalagi obat. Buktinya? Dua orang penyakitnya sama, dokternya sama, obatnya sama, kamarnya sama, yang satu sembuh yang satu meninggal. Padahal penyakitnya sama, dokternya sama, obatnya sama, rumah sakitnya sama, infusnya sama, mungkin umurnya sama, maksudnya kelahirannya. Tahun lahirnya mungkin sama, sama-sama muda. Tapi yang satunya sembuh, yang satunya mati. Kalau yang menyembuhkan obat, mestinya kan dua-duanya sembuh. Kenapa yang sembuh cuma satu? Yang satunya nggak sembuh? Karena kesembuhan bukan di tangan obat atau dokter walaupun kita disuruh untuk berobat. Kenapa kita tetep disuruh berobat padahal kesembuhan bukan di tangan obat tapi di tangan Allah? Karena berusaha dan berikhtiar diperintahkan oleh Allah. Sehingga ketika kita berobat, kita sedang menjalankan perintah Allah melalui lisannya Rasul shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Dan itulah kesempurnaan tawakkal. Jadi jangan sampai ada yang mengatakan, “Lah, rizkiku sudah ditulis sama Allah.  Yasudah, tidur.” Nggak. Makannya Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam memberikan perumpamaan tawakal itu dengan seekor burung. Kata Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam,

 

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

 

“Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.”  (HR. Tirmidzi no. 2344. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

 

Kalau tawakkal kalian itu serius, kalau  tawakkal kalian serius, niscaya kalian akan mendapatkan  rizki seperti  burung dapat rizki. Kalau tawakkal kita serius dan bener, dimanapun kita berada, rizki akan kita dapatkan. Contohnya burung. Coba kita lihat burung, apa yang dia lakukan? Pagi hari dia keluar dari sarangnya untuk mencari nafkah, sore hari, pulang, perutnya sudah penuh.

 

Rasul shallallaahu ‘alayhi wa sallam ngasih sampel tawakkal yang bener dengan burung. Burung kerja, tapi burung itu selalu tergantung dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Alhamdulillaah kita belum pernah menemukan burung yang sore-sore pulang, perutnya masih kosong. Dikasih sama Allah. Dan burung juga kerjanya nggak terlalu berat-berat amat. Pergi pagi, pulang sore. Nggak pernah burung lembur sampai jam 9 malam, kecuali burung hantu, memang dia hidupnya di malam hari. Tapi burung emprit, burung dara, dan sejenisnya dengan usaha yang proporsional, dia dapat. Itu karena tawakkal. Kan ada sebagian orang yang kerja nggak kenal waktu. Istilahnya workaholic, gila kerja. Sampai nggak ada istirahatnya, nggak ada waktu buat anaknya dan istri. Kalau kita kerjanya bener, tawakalnya bener, pasti dapet kita. Karena rizki kita sudah ditakdirkan oleh Allah.

 

2.      Tidak terpancing untuk sombong.

Apa hubungannya ustadz antara takdir  sama penyakit sombong? Orang kalau dia yakin dengan takdir Allah, segala sesuatu terjadi dengan kehendak Alllah. Manakala dia berusaha, manakala dia punya usaha kemudian sukses dan berhasil, maka dia tidak akan sombong. Karena dia sadar bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari takdirnya Allah. Usaha saya maju adalah karena kehendaknya Allah. Terus apa yang mau disombongkan? Semuanya dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Usaha itu bisa jadi gagal, bisa jadi sukses. Gagal karena takdir Allah. Sukses karena takdir Allah. Makannya orang yang percaya dengan takdir Allah, mau gagal mau sukses, dia tetap bisa menjaga hatinya. Gagal nggak sedih banget, sedih wajar tapi nggak banget banget sampai mengurung diri di kamar tujuh hari tujuh malam, nggak makan. Sedih ya sedih, makan ya makan. Sori, ya. Ketika gagal, sedih wajar tapi nggak sedih-sedih amat. Ketika sukses senang tapi nggak terlalu senang banget sampai sombong. Karena dia tahu ini dengan takdir Allah. Makannya orang yang percaya dengan takdir, hidupnya itu stabil. Stabil itu bukan stagnan, beda antara stabil dengan stagnan. Stagnan itu nggak ada perubahan, stabil itu dia sukses biasa (biasa maksudnya sukses sedikit nggak posting. Padahal warungnya baru ramai sedikit.) Biasa saja, alhamdulillaah takdir dari Allah. Sepi? Nggak apa-apa. Memang sudah takdirnya Allah. Dua perilaku tadi itu, terlalu bahagia atau terlalu sedih, itu dilarang oleh Allah dalam al-Quran surat al-Hadid ayat 23 Allah berfirman,

 

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍ ٢٣

 

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,

 

Supaya kalian tidak terlalu sedih dengan apa yang luput dari kalian. Luput itu maksudnya apa? Ingin itu tapi nggak kedapetan. Enjoy hidupnya. Terus kelanjutannya apa? Kalau tadi kan nggak dapet, berarti kalau dapet kelanjutannya gimana? Dan supaya kalian itu tidak terlalu Bahagia, tidak terlalu senang, sampai sombong, dengan apa yang kalian dapatkan. Tetap proporsional senangnya, sedihnya proporsional. Karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.

 

3.      Tidak mudah iri.

Orang itu biasanya iri kalau ngeliat orang lain dapat nikmat. Ini orang nggak percaya takdir. Orang yang iri nggak percaya takdir. Kalau orang percaya takdir, kita tidak akan iri. Karena tetangga kita dapat rizki, Allah yang ngasih. Kalau kita iri, berarti kita protes sama Allah, bayangkan. Protes kok sama Allah. Protes sama ustadz aja nggak sopan, apalagi protes sama Allah. Ya Allah, kenapa dikasih kepadanya ini? Kenapa nggak dikasih aku? Loh? Itu terserah Allah. Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Makannya orang yang beriman dengan takdir, ketika akan muncul perasaan iri, dia sadar bahwa itu pemberian Allah. Maka hidupnya enak nggak gampang iri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, dalam surat an-Nisa ayat 54,

 

أَمْ يَحْسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۖ فَقَدْ ءَاتَيْنَآ ءَالَ إِبْرَٰهِيمَ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَءَاتَيْنَـٰهُم مُّلْكًا عَظِيمًۭا ٥٤

 

ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan (kekuasaan) yang besar.

 

4.      Hati akan tenang dan lapang.

Hati akan tenang dan lapang walaupun mengalami ujian yang berat, musibah yang bertubi-tubi. Karena dia tahu bahwa musibah yang menimpanya, ujian yang bertubi-tubi mengalaminya dan menghampirinya, itu dengan takdir Allah. Selama kita beriman, apapun yang ditakdirkan oleh Allah, itu yang terbaik. Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam hadits Riwayat Ahmad. Haditsnya dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan Syaikhul al Albani,

 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

 

“Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, 3:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).

 

Tidak ada takdir yang Allah berikan kepada seorang mukmin melainkan itu pasti terbaik. Lamaran ditolak, itu terbaik. Lamaran ditolak kok terbaik? Lamaran diterima terbaik! Yang terbaik itu diterima apa ditolak, ustadz? Yang terbaik apa yang ditakdirkan oleh Allah. Kalau memang ditakdirkan diterima itu yang terbaik, kalau ditakdirkan yang ditolak itu yang terbaik. Enjoy. Karena belum  tentu  yang kita sukai itu baik, dan belum  tentu yang kita benci itu jelek. Allah berfirman, dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 216.

 

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٢١٦

 

Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

 

Lamaran ditolak seneng atau engga? Sedih! Karena kita pengennya diterima. Akan tetapi begitu ditolak, orang yang beriman dengan takdir, dia cepat move on. Nggak tenggelam dalam kesedihan, besok nyari lagi. Ditolak, nyari lagi. Pantang mundur. Karena ditolak itu yang terbaik. Oh, mungkin ini Wanita tidak baik buat anda. Allah akan kasih yang lebih baik. Makannya Allah tutup surat Al-Baqarah ayat 216 dengan Allah itu tahu, kalian nggak tahu. Allah tahu apa yang terbaik buat kalian, kalian nggak tahu. Kenapa Allah tahu? Karena ilmu Allah luas, Allah tahu apa yang akan terjadi besok dan kalian tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Jadi ketika Allah menakdirkan sesuatu, itu yang terbaik buat kita. Allah tahu, kalian nggak tahu. Karena kita nggak tahu, maka jangan sok tahu. Itu masalahnya.  Ngatur Allah, Allah kok diatur? Ini Allah gimana, sih? Seharusnya kayak gini! Maasya Allah, kamu siapa? Kok ngatur-ngatur Allah? Ilmu kita itu tipis, sedikit banget. Masa kita ngatur-ngatur Allah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Letter to My Younger Self

Kayra dan Gaun Impiannya

#10 HAAAAHHH!!!! ((Kegajeboan))