Rukun Iman 8 : Beriman Kepada Takdir Allah
Kali ini kita memasuki rukun yang terakhir, yaitu rukun yang keenam, beriman dengan takdir. Rukun ini memiliki kedudukan yang sangat vital di dalam agama kita. Saking vitalnya, sampai-sampai tauhid atau keimanan seseorang tidak akan sah manakala dia tidak mengimani takdir ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ’anhuma, beliau pernah berkata,
"Takdir adalah aturan tauhid.
Barangsiapa yang mentauhidkan Allah -عَزَّ وَجَلَّ-
dan beriman kepada takdir, maka itulah tali yang kokoh yang tidak akan dapat
putus. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah -عَزَّ وَجَلَّ-
dan mendustakan takdir, maka dia telah membatalkan tauhidnya." (al-Qadr,
205; al-Ibanah, 1624; Usulul ‘Itiqad, 1224).
Makna Iman Kepada Takdir
Para ulama kita mengatakan iman kepada
takdir maknanya adalah meyakini bahwa segala sesuatu yang baik maupun yang
buruk terjadi dengan sepengetahuan Allah dan takdirnya. Iman dengan takdir
itu adalah kita yakin apapun yang terjadi entah itu sesuatu yang baik ataupun
yang buruk menurut pandangan kita (Sesuatu yang baik contohnya rizki kita
lancar, sehat, panen berhasil, dan mampu beribadah. Sesuatu yang buruk menurut
kita contohnya rizki kita seret, sakit, panen gagal, bermaksiat), semuanya ini
harus kita yakini bahwa itu tidak terjadi kecuali sepengetahuan Allah dan
dengan takdir Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Qamar
ayat 49,
إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَـٰهُ بِقَدَرٍۢ
٤٩
Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu
menurut ukuran.
Sesungguhnya segala sesuatu kami ciptakan
dengan takdir. Apapun yang terjadi di alam semesta ini itu pasti terjadi dengan
takdir, kehendak, dan pengetahuan Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu Imam
Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa beriman dengan takdir itu sudah ijma para
ulama. Beliau berkata,
“Sudah jelas
dalil-dalil yang qath’i dari al-Qur-an, as-Sunnah, ijma’ Sahabat, dan Ahlul Hil
wal ‘Aqd dari kalangan salaf dan khalaf tentang ketetapan qadar Allah Azza wa
Jalla.”
Ulama salaf maupun khalaf, mereka semua
sepakat wajib meyakini dengan adanya takdir. Sehingga ketika ada orang tidak
percaya denggan takdir, dia bukan hanya menyelisihi al-Quran, bukan hanya
menyelisihi sunnah, dia juga menyelisihi ijma’ para ulama. Makannya takdir ini
masalah prinsip.
Cakupan Iman Kepada Takdir
1.
Meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu
secara global maupun secara rinci.
Secara global itu misalnya
seseorang lahir tahun 1980 kemudian meninggal tahun 2010. Secara rinci itu
misalnya seseorang lahir pada tanggal 20 Juli 1980 jam 10:20:21, pada umur 19
tahun lewat 1 hari jam sekian dia akan menikah dengan seorang Wanita yang
ditemui secara tidak sengaja di pengajian Fulan dengan tema tertentu. Seluruh
kejadian yang global maupun yang rinci, Allah sudah tahu sebelum kejadian itu
terjadi. Kalau setelah terjadi, manusia juga tahu. Dalilnya adalah surat
at-Talaq ayat 12. Allah berfirman,
ٱللَّهُ ٱلَّذِى
خَلَقَ سَبْعَ سَمَـٰوَٰتٍۢ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ
بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ
قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا ١٢
Allah yang
menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah
berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala
sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. At-Talaq [65]:
12)
أَلَمْ
تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ
فِى كِتَـٰبٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ ٧٠
Tidakkah engkau
tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, Yang
demikian itu sudah terdapat dalam suatu Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ). Sesungguhnya yang demikian itu sangat
mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj [22]: 70)
Dalam ayat lain,
Allah ngasih sampel. Dalam ayat lain, Allah ngasih contoh bagaimana detilnya pengetahuan
dan ilmu Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمَا تَسْقُطُ مِن
وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا ٥٩
Tidak ada sehelai
daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya (QS. Al-An’am: 59)
Tidak ada satu
daun pun yang jatuh melainkan Allah tahu pohon mana, kapan, dimana, dan berapa
daun itu jatuh. Seluruh pohon yang ada di permukaan bumi. Kapan terakhir ada
daun jatuh dari pohon di sekitarmu? Tidak tahu. Meskipun di dekat rumahmu hanya
ada satu pohon yang bila ada daun jatuh, menghitungnya mudah. Sedangkan Allah
subhanahu wa ta’ala, semuanya tahu. Mulai dari dahulu sampai hari kiamat.
Itulah detilnya ilmu Allah ‘azza wa jalla. Ini Allah sampaikan dalam surat
al-An’am ayat 59. Poin yang pertama adalah meyakini bahwa Allah mengetahui
segala sesuatu, yang global maupun detil. Kata kunci dalam poin yang
pertama adalah mengetahui. Siapa yang mengetahui? Allah.
2.
Meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah
menulis segala sesuatu sebelum kejadiannya di lauhul mahfudz.
Kata kuncinya
adalah menulis. Bukan hanya diketahui oleh Allah, tetapi ditulis oleh
Allah subhanahu wa ta’ala secara detil. Dalilnya adalah surat al-Hajj ayat 70.
أَلَمْ
تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ
فِى كِتَـٰبٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ ٧٠
Tidakkah engkau
tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, Yang
demikian itu sudah terdapat dalam suatu Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ). Sesungguhnya yang demikian itu sangat
mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj [22]: 70)
Yang dimaksud
kitab disini adalah Lauhul mahfudz. Seluruh kejadian di muka bumi ini, maupun
di alam semesta, di langit, yang besar maupun yang kecil, detil telah tertulis
di dalam lauhul mahfudz. Kalian sekarang ada yang garuk-garuk, itu sudah
ditulis. Apalagi yang ngantuk.
Bisakah kalian menulis
aktifitas kalian secara detil satu hari? Tidak mungkin! “Ustadz, saya punya
jadwal, ustadz.” Itu jadwal global. Berangkat kantor jam 7, pulang kantor jam
2. Tapi pada jam berapa kamu menyalakan motor, pada menit berapa mulai ngegas, berhenti
di lampu merah menit keberapa, di lampu merah melihat apa, ketika berhenti
batuk berapa kali. Bisakah detail kegiatanmu satu hari saja kamu tulis? Tidak
bisa. Allah tulis apa yang akan kita lakukan seumur hidup kita. Dan bukan yang
hanya kita lakukan, yang akan dilakukan oleh seluruh manusia. Dan bukan apa yang
dilakukan oleh manusia saja, tapi juga yang dilakukan oleh binatang, tumbuhan. Oleh
karena itu di surat Al-An’am ayat 59 Allah bicara tentang daun. Bukan hanya
makhluk-makhluk ini saja, gunung meletus, banjir, gempa, semuanya sudah ditulis
oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak sulit bagi Allah. Oleh karena itu,
Allah tutup firmannya dalam surat al-Hajj ayat 70,
إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ
يَسِيرٌۭ ٧٠
Sesungguhnya yang
demikian itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj [22]: 70)
“Ustadz, Benarkah Allah
yang menulis takdir kita?” Allah memerintahkan makhluknya untuk nulis, yaitu
al-Qalam atau Pena. “Lho? Yang menulis pena tapi tadi ustadz bilang Allah yang menulis?”
Lho? Yang memerintahkan pena untuk menulis kan Allah. Perumpamaanya, jika ada
surat, kopnya Presiden Republik Indonesia, tanda tangannya Presiden Republik
Indonesia, surat itu ditunjukkan kepada Anda. Anda bilang mendapatkan surat
dari Presiden. Padahal yang menulis surat tersebut adalah sekretaris yang
diperintah Presiden.
Saya katakan bahwa
Allah telah menulis padahal realitanya yang menulis adalah pena karena Allah
yang memerintahkannya. Keterangannya terdapat dalam hadits Riwayat Abu Dawud,
dan hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikhul Albani. Nabi shallallaahu
‘alayhi wa sallam bersabda,
إن
أول ما حلق الله القلم, قل له: أكتب! قل: رب وماذا أكتب؟ قل: أكتب مقادير كل شيء
حتى تقوم الساعة
“Yang pertama kali
Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia
bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah
takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.'” (Shahih, riwayat Abu Dawud
(no. 4700), dalam Shahiih Abu Dawud (no. 3933), Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu
Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam asy-Syari’ah (no.180),
Ahmad (V/317), dari Shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu)
Pertama kali Allah
menciptakan Qalam, yaitu Pena, Allah berfirman kepada Pena, “uktub!” Artinya “tulis!”
Perintah ini bersifat global. Tulis! Karena masih global, Pena bertanya. Pena
ini bisa bicara. Pena ini bukan pena seperti pena di dunia yang tidak bisa
bicara. Ini penanya Allah. Sesuatu yang mudah jangan dibuat sulit. Pokoknya apa
yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi, seperti apa yang Allah sebutkan dalam
surat Yasin ayat 82.
إِنَّمَآ
أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٨٢
Sesungguhnya
urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya,
"Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.
Maka pena pun
bertanya ketika mendapatkan perintah tapi perintahnya masih bersifat global, “Robbi
wa maalaa aktub?”, “Yaa Allaah, apa yang harus saya tulis?”, Baru kemudian
Allah berfirman, “uktub maqqodiirokulli syayin hatta takuumassaa”,
“Tugasmu menulis takdir segala sesuatu
sampai hari kiamat.”
Kalau pena itu manusia,
mungin penanya bisa kesal diberi perintah seperti itu.Tapi tidak apa-apa karena
itu bentuk ibadahnya pena. Ibadah kita, shalat, puasa, zakat. Ibadah pena
menulis. Kapan kejadiannya pena disuruh menulis? Nabi shallallaahu ‘alayhi
wa sallam menyebutkannya dalam hadits Riwayat Muslim,
كَتَبَ
اللهُ مَقَادِيْرُ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ
بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah
mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit
dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al- ‘Ash
Allah menulis
takdir para makhluk. Lihat, siapa yang menulis? Allah. Padahal yang
mengeksekusi Pena. Nabi tetap mengatakan, yang menulis Allah walaupun yang
menjalankan tugasnya Pena. Karena yang menyuruh pena ini Allah. Allah menulis
takdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Kamu
mau punya anak 5, semuanya laki-laki. Setelah nomor lima berhenti. Itu sudah
ditulis sama pena atas perintah Allah 50.000 tahun sebelum adanya langit dan
bumi.
3.
Meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena
kehendak dan kekuasaan Allah.
Maksudnya, Allah
menghendaki ini terjadi. Allah menghendaki sore ini kamu berangkat ke Masjid
Agung. Allah menghendaki sore ini temanmu bermain bola walaupun kamu sudah ajak
ke Masjid Agung. Allah menghendaki kita punya mobil besok, misalnya. Allah
menghendaki hari ini narik becak dapatnya Rp10.000. Apapun yang terjadi di muka
bumi ini, yang baik maupun yang jelek, ingat, iman kepada takdir itu mencakup
yang baik maupun yang buruk. Maka apapun yang terjadi di muka bumi ini baik
maupun buruk dengan kehendak Allah. Setan. baik atau buruk? Sumber buruk. Setan
ada di muka bumi ini, siapa yang menciptakan? Allah. Berarti Allah menghendaki adanya setan? Iya!
“Lho ustadz, setan
kan jahat, ustadz? Kenapa Allah menciptakan setan?” Jadi Allah menciptakan
setan bukan supaya kita ikuti. Ada orang yang nyate tikus. Tikus kok disate?
Kan haram? Loh? Allah buat apa menciptakan tikus kalau bukan buat disate? Loh?
Itu kesimpulan darimana? Setan diciptakan oleh Allah, walaupun aslinya jahat,
sebagai ujian. Kalau nggak ada setan, masjid agung ini penuh terus. Nanti hakim
di pengadilan agama nggak ada kerjaan, nggak ada yang cerai. Langgeng semuanya
pernikahan. Pasti ada hikmahnya.
Kalau tikus
hikmahnya apa, ustadz? Mungkin jadi kucing punya makanan. Kemudian ada pabrik
racun tikus. Itu bisa jadi nafkah. Pabrik perangkap tikus. Dan mungkin masih
ada hikmah yang lainnya yang mungkin kita nggak sampai untuk mengetahui
semuanya. Apa dalilnya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah?
Al-Quran surat al-Qasas ayat 68.
وَرَبُّكَ
يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ
وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ ٦٨
DanTuhanmu
menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada
pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Jadi apapun yang
diciptakan oleh Allah, itu pasti dengan kehendaknya Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam
hadits Riwayat bukhari dan muslim, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam
bersabda,
Innahu yaf’alu maa
yasyaa’ laa mukrihalahu
Sesungguhnya Allah
melakukan apa yang dia kehendaki. Tidak ada yang bisa memaksa Allah subhanahu
wa ta’ala.
Berbeda dengan
manusia. Manusia itu kadang-kadang melakukan sesuatu yang tidak dia kehendaki.
Dipaksa oleh seseorang untuk melakukan sebuah perbuatan. Dia tidak mau. Tapi
mau nggak mau, karena dia dipaksa, dia lakukan. Allah nggak. Seluruh apa yang
diperbuat oleh Allah dengan kehendaknya, dan tidak ada yang memaksa Allah subhanahu
wa ta’ala.
4.
Meyakini bahwa Allah lah yang menciptakan segala
sesuatu.
Kata kuncinya adalah
menciptakan. Seluruh yang ada di muka bumi ini, yang baik, yang buruk, yang
besar, yang kecil, dahulu, sekarang, disini, disana, semuanya Allah yang
menciptakan. Allah berfirman dalam surat ar-Ra’d ayat 16.
قُلِ
ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍۢ وَهُوَ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّـٰرُ ١٦
Katakanlah,
"Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa,
Mahaperkasa."
Allah pencipta
segala sesuatu. Termasuk perbuatan kita! Allah bukan hanya menciptakan kita, fisik
kita, tapi apa yang kita perbuat itu diciptakan sama Allah. Allah menghendaki
kita melakukan itu. Allah menakdirkan kita melakukan itu. Makannya ayat lain
lebih tegas dan lebih jelas. Dalam surat ash-Shaffaat ayat 96 Allah berfirman,
وَٱللَّهُ
خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ ٩٦
padahal
Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat."
Jadi kita sholat
itu yang menciptakan dan menakdirkan Allah. Kita puasa, yang menakdirkan Allah.
Kita bohong, Allah yang menakdirkan. Cuma Allah nggak suka kalau kita bohong.
Jadi jangan, “ah, Allah kok yang ciptakan. Nggak apa-apa bohong.” Bukan! Allah
nggak suka. Karena Allah nggak suka kalau kita berbuat maksiat. Terus, kenapa
Allah takdirkan kita bohong? Banyak hikmah dibalik itu. Allah takdirkan kita
bohong, berbuat maksiat, hikmahnya setelah itu kita taubat. Kita taubat dapat
pahala. Dari awal saya katakan, beriman dengan takdir yang baik dan yang buruk,
semuanya. Ustadz, kalau semuanya sudah ditakdirkan Allah, kita pasrah aja
dengan takdir, ustadz. Ini pertanyaan ini pernah ditanyakan shahabat Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jadi
pikiran itu bukan pikiran yang baru. Itu sudah lama pikiran itu. Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa salam pernah bersabda,
مَا
مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ أَوْ مِنْ
الْجَنَّةِ
Tidak
ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempat duduknya di neraka
atau di surga.”
Qoolu,
mereka bertanya, berarti yang tanya nggak Cuma satu, banyak yang tanya,
Yaa
rasulallaah, afalaa takilu ‘alaa kitaabinaa wanad’u ‘amal?
Para
Sahabat bertanya: “Ya Rasûlullâh, kalau begitu tidakkah kita meninggalkan
amalan, dan kita pasrah saja pada suratan takdir?” Beliau pun menjawab:
اعْمَلُوا
؛ فكلٌّ مُيَسرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
“Beramallah!
Karena semua orang dimudahkan untuk melakukan apa yang menjadi tujuan ia
diciptakan.” (HR. al-Bukhâri 4949 kitab tafsir dan no 6217 kitab al-adab; juga
Muslim 2647 kitab al-qadr.)
Semua dari manusia
sudah ditentukan nanti di akhirat surga atau neraka. Termasuk yang hadir
disini? Ya, semuanya! Sudah ditentukan, ditakdirkan nanti surga atau neraka.
Begitu mendengar apa yang disampaikan oleh nabi shallallaahu ‘alaihi wa
sallam, para shahabat bertanya, Wahai rosul, gimana kalau misalnya kita
mengandalkan ketentuan Allah itu, kita andalkan apa yang sudah ada di lauhul
mahfudz kemudian kita nggak perlu beramal? Lagipula, kalau kita sudah
ditakdirkan kelak di surga, untuk apa amal? Pada akhirnya masuk surga kok. Atau
sebaliknya, kalau ternyata ditakdirkan masuk neraka ngapain capek-capek amal?
Toh nanti juga masuk neraka. Shahabat bertanya kepada nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam, ya sudah kalau begitu nggak usah beramal aja, wahai Rasul. Kan sudah
ditetapkan surga atau nerakanya. Kata nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
tetaplah kalian beramal. Karena masing-masing akan dimudahkan oleh Allah sesuai
dengan garis takdirnya sendiri-sendiri.
Saya beri contoh.
Sekarang kamu di masjid. Lagi ngaji. Ngaji ini jalan ke Surga atau Neraka?
Surga. Mudah-mudahan ini pertanda kalau kita ditulisnya di surga. Mudah-mudahan
itu berarti sesuatu yang belum pasti. Tapi kita disuruh berbaik sangka.
وَعَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ
عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ،
ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ
مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku
bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku
akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku
akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan
malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]
Aku itu, kata Allah, terserah hambaku
berprasangka kepadaku. Kalau kita berprasangka baik, maka kita akan dikasih
yang baik. Kita ini sedang dimudahkan oleh Allah menuju takdir kita. Semoga
takdir kita ke surga, makannya sekarang ini Allah buka dan gerakan hati kita
untuk datang ke masjid, ngaji, karena ini jalan menuju takdir kita di surga.
Insyaa Allah. Maka kalau sudah dimudahkan sama Allah jalannya, jangan belok! Kalau
sudah ketemu jalannya, terus ikuti jalan ini, jangan belok-belok. Berarti cakupannya
empat. Yang pertama mengetahui, yang kedua menulis, yang ketiga berkehendak,
yang keempat menciptakan. Dan ini semuanya kaitannya dengan Allah.
Buah Iman Kepada Takdir Allah
1.
Selalu bergantung kepada Allah.
Karena yang
menentukan semuanya adalah Allah. Kerja, nyari rizki. Yang menentukan banyak
sedikitnya rizki adalah Allah. Maka kita tidak bergantung kepada pekerjaan yang
kita lakukan. Berobat, kita boleh nggak berobat? Boleh. Nabi shallallaahu
‘alayhi wa sallam menyuruh “tadaawaw” berobatlah kalian.
berdasarkan
hadits Usamah bin Syarik Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: Seorang Arab badui
bertanya :
يَا
رَسُولَ اللَّهِ! أَلَا نَتَدَاوَى؟ قَالَ: نَعَمْ، يَا عِبَادَ اللَّهِ
تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً أَوْ
قَالَ دَوَاءً إِلَّا دَاءً وَاحِدًا. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُوَ؟
قَالَ: الْهَرَمُ
“Wahai Rasulullah,
bolehkah kita berobat?” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:
“Berobatlah, karena Allah telah menetapkan obat bagi setiap penyakit yang
diturunkan-Nya, kecuali satu penyakit!” Para sahabat bertanya: “Penyakit apa
itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Pikun.” [H.R At-Tirmidzi IV/383
No:1961 dan berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Dan diriwayatkan juga dalam
Shahih Al-Jami’ No:2930]
Referensi :
Tapi
ketergantungan kita dalam berobat bukan kepada dokter atau kepada obat. Karena
yang menentukan sembuh tidak sembuh adalah Allah. Maka orang yang beriman
dengan takdir nggak akan pernah dia tawakkal sama obat atau dokter. Karena
dokter tidak bisa menyembuhkan, apalagi obat. Buktinya? Dua orang penyakitnya
sama, dokternya sama, obatnya sama, kamarnya sama, yang satu sembuh yang satu
meninggal. Padahal penyakitnya sama, dokternya sama, obatnya sama, rumah
sakitnya sama, infusnya sama, mungkin umurnya sama, maksudnya kelahirannya.
Tahun lahirnya mungkin sama, sama-sama muda. Tapi yang satunya sembuh, yang
satunya mati. Kalau yang menyembuhkan obat, mestinya kan dua-duanya sembuh.
Kenapa yang sembuh cuma satu? Yang satunya nggak sembuh? Karena kesembuhan
bukan di tangan obat atau dokter walaupun kita disuruh untuk berobat. Kenapa kita
tetep disuruh berobat padahal kesembuhan bukan di tangan obat tapi di tangan
Allah? Karena berusaha dan berikhtiar diperintahkan oleh Allah. Sehingga ketika
kita berobat, kita sedang menjalankan perintah Allah melalui lisannya Rasul shallallaahu
‘alayhi wa sallam. Dan itulah kesempurnaan tawakkal. Jadi jangan sampai ada
yang mengatakan, “Lah, rizkiku sudah ditulis sama Allah. Yasudah, tidur.” Nggak. Makannya Nabi shallallaahu
‘alayhi wa sallam memberikan perumpamaan tawakal itu dengan seekor burung.
Kata Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam,
لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ
كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian
benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana
burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di
sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR.
Tirmidzi no. 2344. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Kalau tawakkal
kalian itu serius, kalau tawakkal kalian
serius, niscaya kalian akan mendapatkan
rizki seperti burung dapat rizki.
Kalau tawakkal kita serius dan bener, dimanapun kita berada, rizki akan kita
dapatkan. Contohnya burung. Coba kita lihat burung, apa yang dia lakukan? Pagi
hari dia keluar dari sarangnya untuk mencari nafkah, sore hari, pulang,
perutnya sudah penuh.
Rasul shallallaahu
‘alayhi wa sallam ngasih sampel tawakkal yang bener dengan burung. Burung
kerja, tapi burung itu selalu tergantung dengan Allah subhanahu wa ta’ala.
Alhamdulillaah kita belum pernah menemukan burung yang sore-sore pulang,
perutnya masih kosong. Dikasih sama Allah. Dan burung juga kerjanya nggak
terlalu berat-berat amat. Pergi pagi, pulang sore. Nggak pernah burung lembur
sampai jam 9 malam, kecuali burung hantu, memang dia hidupnya di malam hari.
Tapi burung emprit, burung dara, dan sejenisnya dengan usaha yang proporsional,
dia dapat. Itu karena tawakkal. Kan ada sebagian orang yang kerja nggak kenal waktu.
Istilahnya workaholic, gila kerja. Sampai nggak ada istirahatnya, nggak ada
waktu buat anaknya dan istri. Kalau kita kerjanya bener, tawakalnya bener, pasti
dapet kita. Karena rizki kita sudah ditakdirkan oleh Allah.
2.
Tidak terpancing untuk sombong.
Apa hubungannya ustadz antara takdir
sama penyakit sombong? Orang kalau dia yakin dengan takdir Allah, segala
sesuatu terjadi dengan kehendak Alllah. Manakala dia berusaha, manakala dia
punya usaha kemudian sukses dan berhasil, maka dia tidak akan sombong. Karena
dia sadar bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari takdirnya Allah. Usaha saya maju
adalah karena kehendaknya Allah. Terus apa yang mau disombongkan? Semuanya
dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Usaha itu bisa jadi gagal, bisa jadi
sukses. Gagal karena takdir Allah. Sukses karena takdir Allah. Makannya orang
yang percaya dengan takdir Allah, mau gagal mau sukses, dia tetap bisa menjaga
hatinya. Gagal nggak sedih banget, sedih wajar tapi nggak banget banget sampai
mengurung diri di kamar tujuh hari tujuh malam, nggak makan. Sedih ya sedih,
makan ya makan. Sori, ya. Ketika gagal, sedih wajar tapi nggak sedih-sedih
amat. Ketika sukses senang tapi nggak terlalu senang banget sampai sombong.
Karena dia tahu ini dengan takdir Allah. Makannya orang yang percaya dengan
takdir, hidupnya itu stabil. Stabil itu bukan stagnan, beda antara stabil
dengan stagnan. Stagnan itu nggak ada perubahan, stabil itu dia sukses biasa
(biasa maksudnya sukses sedikit nggak posting. Padahal warungnya baru ramai
sedikit.) Biasa saja, alhamdulillaah takdir dari Allah. Sepi? Nggak apa-apa.
Memang sudah takdirnya Allah. Dua perilaku tadi itu, terlalu bahagia atau
terlalu sedih, itu dilarang oleh Allah dalam al-Quran surat al-Hadid ayat 23 Allah
berfirman,
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ
وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ
فَخُورٍ ٢٣
Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan
tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah
tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,
Supaya kalian tidak terlalu sedih dengan apa yang luput dari kalian. Luput
itu maksudnya apa? Ingin itu tapi nggak kedapetan. Enjoy hidupnya. Terus
kelanjutannya apa? Kalau tadi kan nggak dapet, berarti kalau dapet
kelanjutannya gimana? Dan supaya kalian itu tidak terlalu Bahagia, tidak
terlalu senang, sampai sombong, dengan apa yang kalian dapatkan. Tetap
proporsional senangnya, sedihnya proporsional. Karena Allah tidak suka kepada
orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya.
3.
Tidak mudah iri.
Orang itu biasanya iri kalau ngeliat orang lain dapat nikmat. Ini orang
nggak percaya takdir. Orang yang iri nggak percaya takdir. Kalau orang percaya
takdir, kita tidak akan iri. Karena tetangga kita dapat rizki, Allah yang
ngasih. Kalau kita iri, berarti kita protes sama Allah, bayangkan. Protes kok
sama Allah. Protes sama ustadz aja nggak sopan, apalagi protes sama Allah. Ya
Allah, kenapa dikasih kepadanya ini? Kenapa nggak dikasih aku? Loh? Itu
terserah Allah. Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Makannya orang
yang beriman dengan takdir, ketika akan muncul perasaan iri, dia sadar bahwa
itu pemberian Allah. Maka hidupnya enak nggak gampang iri. Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman, dalam surat an-Nisa ayat 54,
أَمْ يَحْسُدُونَ ٱلنَّاسَ عَلَىٰ مَآ
ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۖ فَقَدْ ءَاتَيْنَآ ءَالَ إِبْرَٰهِيمَ ٱلْكِتَـٰبَ
وَٱلْحِكْمَةَ وَءَاتَيْنَـٰهُم مُّلْكًا عَظِيمًۭا ٥٤
ataukah mereka dengki kepada manusia
(Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguh, Kami
telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah
memberikan kepada mereka kerajaan (kekuasaan) yang besar.
4.
Hati akan tenang dan lapang.
Hati akan tenang dan lapang walaupun mengalami ujian yang berat,
musibah yang bertubi-tubi. Karena dia tahu bahwa musibah yang menimpanya, ujian
yang bertubi-tubi mengalaminya dan menghampirinya, itu dengan takdir Allah.
Selama kita beriman, apapun yang ditakdirkan oleh Allah, itu yang terbaik. Rasulullah
shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam hadits Riwayat Ahmad.
Haditsnya dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan Syaikhul al Albani,
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ
يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ
“Aku begitu takjub pada seorang mukmin.
Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan
pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, 3:117. Syaikh Syuaib
Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).
Tidak ada takdir yang Allah berikan kepada seorang mukmin melainkan itu
pasti terbaik. Lamaran ditolak, itu terbaik. Lamaran ditolak kok terbaik?
Lamaran diterima terbaik! Yang terbaik itu diterima apa ditolak, ustadz? Yang
terbaik apa yang ditakdirkan oleh Allah. Kalau memang ditakdirkan diterima itu
yang terbaik, kalau ditakdirkan yang ditolak itu yang terbaik. Enjoy. Karena
belum tentu yang kita sukai itu baik, dan belum tentu yang kita benci itu jelek. Allah
berfirman, dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 216.
وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ
خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ
يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٢١٦
Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik
bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Lamaran
ditolak seneng atau engga? Sedih! Karena kita pengennya diterima. Akan tetapi
begitu ditolak, orang yang beriman dengan takdir, dia cepat move on. Nggak
tenggelam dalam kesedihan, besok nyari lagi. Ditolak, nyari lagi. Pantang
mundur. Karena ditolak itu yang terbaik. Oh, mungkin ini Wanita tidak baik buat
anda. Allah akan kasih yang lebih baik. Makannya Allah tutup surat Al-Baqarah
ayat 216 dengan Allah itu tahu, kalian nggak tahu. Allah tahu apa yang terbaik
buat kalian, kalian nggak tahu. Kenapa Allah tahu? Karena ilmu Allah luas,
Allah tahu apa yang akan terjadi besok dan kalian tidak tahu apa yang akan
terjadi besok. Jadi ketika Allah menakdirkan sesuatu, itu yang terbaik buat
kita. Allah tahu, kalian nggak tahu. Karena kita nggak tahu, maka jangan sok
tahu. Itu masalahnya. Ngatur Allah,
Allah kok diatur? Ini Allah gimana, sih? Seharusnya kayak gini! Maasya Allah,
kamu siapa? Kok ngatur-ngatur Allah? Ilmu kita itu tipis, sedikit banget. Masa
kita ngatur-ngatur Allah?
Komentar
Posting Komentar