Rukun Iman 7 : Beriman Kepada Hari Akhir
Pada hari ini kita akan memasuki pembahasan mengenai rukun iman yang kelima, yaitu iman dengan hari akhir. Rukun iman yang kelima ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa di agama kita. Maka, jangan heran seandainya dalam al-Quran dan juga hadits-hadits Nabi ﷺ, kita akan menemukan bahwa rukun iman yang kelima ini sering digandeng dengan rukun iman yang pertama. Contohnya dalam al-Quran surah at-Taubah ayat 18, Allah ‘azza wa jalla berfirman,
إِنَّمَا
يَعْمُرُ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ
Sesungguhnya
yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah
dan hari kemudian,
Siapakah
orang-orang yang akan memakmurkan masjid Allah itu? Disebutkan di surat
at-Taubah ayat 18 bahwa yang akan memakmurkannya hanyalah orang-orang yang
beriman kepada Allah dan hari akhir. Langsung lompat dari rukun iman yang
pertama yaitu iman kepada Allah ke rukun iman yang kelima yaitu beriman kepada hari
akhir.
Penggandengan
antara rukun iman pertama dengan rukun iman kelima juga sering ditemukan dalam
hadits Nabi ﷺ. Contohnya dari hadits Riwayat Muslim
No.47, Rasulullaah ﷺ bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ
فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
hendaklah ia berkata baik atau diam.
Dan
dalil-dalil yang senada dengan ayat dan hadits yang baru kita dengar itu
banyak. Sering Allah menggandengkan antara dua rukun iman ini, berarti memang
iman kepada hari akhir itu spesial. Oleh karena itu iman kepada hari akhir
digandengkan dengan iman kepada Allah. Kata Sebagian ulama mengatakan bahwa
ketika kita ingat kepada hari akhir, kita akan termotivasi. Sebagaimana nanti
kita akan sebutkan di buah iman kepada hari akhir, kita akan termotivasi untuk
beramal. Dan memang itulah salah satu motivasi kita dalam beramal.
Nah,
hari akhir yang dimaksud itu adalah hari kiamat. Kenapa dikatakan akhir? Karena
hari kiamat merupakah hari terakhir di dunia. Tapi harus diingat bahwa hari
akhir bukanlah hari terakhir kita hidup, karena setelah kehidupan dunia akan
datang kehidupan akhirat. Jadi hari akhir yang dimaksud adalah hari kiamat.
Makna Iman Kepada Hari Akhir
Rasulullah
ﷺ bersabda dalam hadits Jibril ketika ditanya
tentang apa itu Iman,
Makna
iman kepada hari akhir, cakupan iman kepada hari akhir, dan buah iman kepada
hari akhir. Tema yang pertama adalah makna iman dengan hari akhir. Tadi
rosulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ,
وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ
Iman adalah, engkau beriman kepada Allah;
malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada
takdir Allah yang baik dan yang buruk (HR. Muslim No. 8.)
Para
ulama menjelaskan bahwa iman kepada hari akhir artinya adalah meyakini dan
mengakui setiap kejadian setelah kematian yang disebutkan dalam kitab dan
sunnah. Kenapa harus kitab dan sunnah? Kenapa harus kitab dan sunnah dan bukan
kitab-kitab atau buku-buku yang lain? Karena hari akhir itu perkara ghaib.
Karena perkara ghaib, sumbernya harus valid, bersumber dari yang tahu tentang
hal ghaib, dan sumber tersebut hanya dua yaitu dari al-Quran (firman Allah)
atau dari hadits Rasulullah ﷺ. Karena beliau mendapatkan berita dari
Allah ‘azza wa jalla. Jadi hari akhir itu diawali dengan matinya
seseorang. Makannya ada ungkapan.
مَنْ
مَاتَ فَقَدْ قَامَت قِيَامَته
“Barang
siapa yang telah meninggal maka telah tegak kiamatnya.” (Misykaatul Mashoobiih
3/1525.)
-nya
pada “kiamatnya” itu kembali kepada orang tersebut. Oleh karena itu, ada kiamat
besar ada kiamat kecil. Kiamat kecil itu matinya manusia. Jadi kalau seseorang
sudah mati, berarti dia sudah mengalami kiamat kecil. Kiamat besar wallahua’lam
kapan terjadinya. Ketika seseorang mati, maka dia sudah pindah alam dan kehidupan.
Jadi, kehidupan itu dibagi menjadi dua yaitu kehidupan dunia dan kehidupan
akhirat. Kehidupan akhirat itu dimulai dari matinya seseorang. Jadi ketika seorang
mati, maka dia akan memasuki kehidupan akhirat. Alam kubur inilah yang
diistilahkan dengan alam barzakh. Barzakh itu artinya pembatas antara dua alam,
yaitu alam dunia dengan alam akhirat. Adanya alam barzakh itu dijelaskan di
dalam al-Quran surat al-Mu’minun ayat 100,
لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَـٰلِحًۭا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ
كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ
إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku
tinggalkan." Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya
saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.
Cakupan Iman Kepada Hari Akhir
Kalau
kita berbicara tentang hari akhir itu panjang. Mulai dari sakaratul maut,
kematian, alam kubur, tanda-tanda hari kiamat yang kecil maupun yang besar,
proses kejadian hari kiamat, setelah itu manusia kemana, lalu sampai kaum
mu’minin masuk surga, orang kafir masuk neraka dan kekal di dalamnya sampai
terakhir disembelihnya kematian. Untuk membahas proses hari akhir itu Panjang,
bisa dua sampai tiga pengajian dengan durasi satu setengah jam sampai dua jam
setiap pengajiannya, sehingga tidak mungkin dibahas semuanya. Oleh karena itu,
pada sesi ini akan disampaikan iman kepada hari akhir secara global yang
mencakup empat poin.
1.
Meyakini adanya ujian, nikmat, dan azab kubur.
Perlu disampaikan bahwa keyakinan terkait adanya
ujian, adzab, dan nikmat kubur itu merupakan ijma’ ahlussunnah wal jama’ah,
keyakinan para ulama salaf, sebagaimana dinukil oleh Imam Abul Hasan al Asy’ari
rahimahullaah dalam kitabnya Risalah Ilaa Ahli Sakhr. Bila ada
orang yang tidak percaya dengan keyakinan ini, maka dia telah menyelsihi ijma’,
kesepakatan ulama semuanya. Berarti kalau ada orang tidak percaya, ini
nyeleneh.
Pertama akan dibahas mengenai ujian. Ujian yang
dimaksud disini adalah ujian yang berisikan tiga pertanyaan besar yang
ditanyakan oleh dua malaikat, yaitu Munkar dan Nakir, kepada setiap manusia
yang masuk ke alam kubur. Rasulullaah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang
diriiwayatkan oleh Sunan Abu Dawud,
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، ح
وَحَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، - وَهَذَا
لَفْظُ هَنَّادٍ - عَنِ الأَعْمَشِ، عَنِ الْمِنْهَالِ، عَنْ زَاذَانَ، عَنِ
الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله
عليه وسلم فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ، فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ
وَلَمَّا يُلْحَدْ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَجَلَسْنَا
حَوْلَهُ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرُ، وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ
بِهِ فِي الأَرْضِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ : " اسْتَعِيذُوا
بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ " . مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا - زَادَ
فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ هَا هُنَا - وَقَالَ : " وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ
نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ حِينَ يُقَالُ لَهُ : يَا هَذَا مَنْ
رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ " . قَالَ هَنَّادٌ قَالَ :
" وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَنْ
رَبُّكَ فَيَقُولُ : رَبِّيَ اللَّهُ . فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا دِينُكَ
فَيَقُولُ : دِينِي الإِسْلاَمُ . فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا هَذَا
الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ قَالَ فَيَقُولُ : هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صلى
الله عليه وسلم . فَيَقُولاَنِ : وَمَا يُدْرِيكَ فَيَقُولُ : قَرَأْتُ
كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ " . زَادَ فِي حَدِيثِ
جَرِيرٍ : " فَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { يُثَبِّتُ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا } " . الآيَةَ . ثُمَّ اتَّفَقَا قَالَ :
" فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ : أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِي
فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ
وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ " . قَالَ : " فَيَأْتِيهِ مِنْ
رَوْحِهَا وَطِيبِهَا " . قَالَ : " وَيُفْتَحُ لَهُ فِيهَا مَدَّ
بَصَرِهِ " . قَالَ : " وَإِنَّ الْكَافِرَ " .
فَذَكَرَ مَوْتَهُ قَالَ : " وَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ
وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ : مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ
: هَاهْ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِي . فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا دِينُكَ
فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِي . فَيَقُولاَنِ : مَا هَذَا
الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِي .
فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ : أَنْ كَذَبَ فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ
وَأَلْبِسُوهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ "
. قَالَ : " فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا " .
قَالَ : " وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ
أَضْلاَعُهُ " . زَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ قَالَ : " ثُمَّ
يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَبْكَمُ مَعَهُ مِرْزَبَّةٌ مِنْ حَدِيدٍ، لَوْ ضُرِبَ
بِهَا جَبَلٌ لَصَارَ تُرَابًا " . قَالَ : " فَيَضْرِبُهُ
بِهَا ضَرْبَةً يَسْمَعُهَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ إِلاَّ
الثَّقَلَيْنِ فَيَصِيرُ تُرَابًا " . قَالَ : " ثُمَّ تُعَادُ
فِيهِ الرُّوحُ " .
Diriwayatkan oleh Al-Bara' ibn Azib:
Suatu hari kami mengantarkan jenazah salah seorang
sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari golongan Anshar. Sesampainya di
pekuburan, liang lahad masih digali. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pun duduk (menanti) dan kami juga duduk terdiam di sekitarnya
seakan-akan di atas kepala kami ada burung gagak yang hinggap. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam memainkan sepotong dahan di tangannya ke tanah,
lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda, “Mohonlah perlindungan kepada
Allah dari adzab kubur!” Beliau ulangi perintah ini dua atau tiga kali.
Tambahan dari versi Jabir: Dia mendengar
hentakan sandal mereka ketika mereka kembali, dan pada saat itu dia ditanya:
Wahai fulan! Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dan siapa Nabimu?
Versi Hannad mengatakan: Dua malaikat akan datang
kepadanya, menyuruhnya duduk dan bertanya kepadanya: Siapa Tuhanmu?
Dia akan menjawab: Tuhanku adalah Allah. Mereka akan
bertanya kepadanya: Apa agamamu? Dia akan menjawab: Agama saya adalah Islam.
Mereka akan bertanya kepadanya: Apa pendapatmu tentang orang yang diutus untuk
misi di antara kamu? Dia akan menjawab: Dia adalah Rasulullah (ﷺ). Mereka akan bertanya: Siapa yang membuatmu sadar akan hal
ini? Dia akan menjawab: Saya membaca Kitab Allah, mempercayainya, dan
menganggapnya benar; yang dibuktikan dengan firman Allah: "Kitab Allah,
beriman kepadanya, dan menganggapnya benar, yang dibuktikan dengan firman
Allah: "Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kalimat yang
teguh di dunia dan di akhirat."
Versi yang disepakati berbunyi: Kemudian seorang
yang menangis akan memanggil dari Surga: Hambaku telah mengatakan yang
sebenarnya, maka bentangkan tempat tidur untuknya dari surga, beri dia pakaian
dari surga, dan bukakan pintu untuknya ke surga. Maka, sebagian dari udara dan
wewangiannya akan datang kepadanya, dan akan disediakan tempat baginya sejauh
mata memandang.
Dia juga menyebutkan kematian orang kafir, dengan
mengatakan: Ruhnya akan dikembalikan ke tubuhnya, dua malaikat akan datang
kepadanya, membuatnya duduk dan bertanya kepadanya: Siapa Tuhanmu?
Dia akan menjawab: Aduh, aduh! Saya tidak tahu.
Mereka akan bertanya kepadanya: Apa agamamu? Dia akan menjawab: Aduh, aduh!
Saya tidak tahu. Mereka akan bertanya: Siapakah orang yang diutus untuk misi di
antara kamu? Dia akan menjawab: Aduh, aduh! Saya tidak tahu. Kemudian seorang
seruan akan berseru dari Surga: Dia telah berdusta, maka bentangkan tempat
tidur untuknya dari Neraka, beri dia pakaian dari Neraka, dan bukakan baginya
sebuah pintu ke Neraka. Kemudian sebagian dari panasnya dan angin sampar akan
datang kepadanya, dan kuburannya akan dipadatkan, sehingga tulang rusuknya akan
remuk bersama-sama.
Versi Jabir menambahkan: Orang yang buta dan bisu
kemudian akan ditempatkan sebagai penanggung jawab dia, dengan palu godam
sehingga jika gunung dipukul dengannya, itu akan menjadi debu. Dia akan
memberinya pukulan dengan itu yang akan didengar oleh segala sesuatu antara
timur dan barat kecuali oleh manusia dan jin, dan dia akan menjadi debu.
Kemudian jiwanya akan dikembalikan kepadanya. (Sunan Abi Dawud 4753)
Dalam hadits tersebut, pertanyaan dan jawabannya
sudah diberi tahukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam,
namun nyatanya nanti tidak akan semudah itu. Karena mampu tidaknya seseorang
menjawab pertanyaanh-pertanyaan tersebut tergantung rekam jejaknya ketika di
dunia. Diceritakan di hadits tersebut oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, orang beriman akan dengan mudah menjawab pertanyaan kubur. Adapun
orang yang kafir bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di dunia, namun
di Akhirat lain ceritanya. Inilah ujian kubur.
Adapun orang kafir, Rasulullaah ﷺ melanjutkan
sabdanya,
Adapun nikmat dan adzab, dalilnya banyak dari
al-Quran maupun hadits Nabi ﷺ. Dari al-Quran, antara lain firman Allah
dalam surat at-Taubah ayat 101. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍۢ
Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian
mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.
Kami akan azab kaum Munafik dua kali. Kata Imam al-Hasan
al-Bashri, dua kali itu di dunia dan di alam kubur. Kemudian setelah itu mereka
akan dikembalikan ke adzab yang berat di Akhirat, di Neraka. Berarti mereka
disiksa di Dunia dan di Alam Kubur (Akhirat). Ini dalil bahwa ada siksa di alam
kubur.
Adapun dari hadits Nabi shallallaahu ‘alayhi wa
salaam, kata Imam Ibnu ‘Abdil ‘Izz, hadits yang menjelaskan tentang adzab
dan nikmat kubur itu sanadnya mutawattir. Mutawattir itu tingkatannya diatas
shahih. Salah satunya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinyatakan shahih
oleh Imam al-Hakim dan juga Syaikh Albani. Rasulullah ﷺ
bersabda ketika orang yang beriman sukses menjawab tiga pertanyaan Munkar dan Nakir,
ketika tiga pertanyaan itu sukses dijawab oleh orang yang beriman, terdengar
suara dari langit menyerukan, ‘(Jawaban) hamba-Ku benar! Maka hamparkanlah
surga baginya, berilah dia pakaian darinya lalu bukakanlah pintu ke arahnya’.
Maka menghembuslah angin segar dan harumnya surga (memasuki kuburannya) lalu
kuburannya diluaskan sepanjang mata memandang. Ini contoh nikmat kubur. Adapun contoh
adzab kubur, ketika orang kafir gagal menjawab tiga pertanyaan yang disampaikan
oleh Munkar dan Nakir, terdengar suara dari langit ‘Hamba-Ku telah berdusta!
Hamparkan neraka baginya dan bukakan pintu ke arahnya’. Maka hawa panas dan bau
busuk neraka pun bertiup ke dalam kuburannya. Lalu kuburannya di ‘press’ (oleh
Allah) hingga tulang belulangnya (pecah dan) menancap satu sama lainnya. (HR.
Ahmad dalam Al-Musnad (XXX/499-503) dan dishahihkan oleh al-Hakim dalam
Al-Mustadrak (I/39) dan al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 156)
2.
Meyakini adanya hari kebangitan.
Hari kebangkitan merupakan hari dimana seluruh
manusia akan dibangkitkan jasadnya dari kuburnya. Kata Imam Abul Hasan al-Asy’ari,
ijma’ ulama, jasad yang akan dibangkitkan adalah jasad yang dulu digunakan
untuk beribadah atau untuk bermaksiat. Ijma’ itu disebutkan dalam kitab beliau,
Risaalah Ilaa Ahli Sakhr. Pada prosesnya, Allah memerintahkan malaikat Israfil
untuk meniup sangkakala pertama. Sangkakala pertama itu adalah pertanda bahwa
setelah itu seluruh makhluk di langit maupun di bumi akan mati. Karena ketika
hari kiamat masih ada manusia, maka manusia yang masih tersisa itu dimatikan
oleh Allah dengan pertanda sangkakala pertama. Setelah sangkakala pertama
ditiupkan, Allah menurunkan hujan untuk menumbuhkan jasadnya manusia-manusia
yang telah habis. Karena saat kiamat banyak sekali manusia yang mati sejak
sekian ribu tahun, pasti jasadnya sudah habis. Maka diturunkan hujan oleh Allah
untuk menumbuhkannya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullaah ﷺ bersabda dalam hadits Riwayat Bukhari dan Muslim,
مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ
قَالَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا قَالَ أَبَيْتُ قَالَ أَرْبَعُونَ شَهْرًا قَالَ
أَبَيْتُ قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً قَالَ أَبَيْتُ قَالَ ثُمَّ يُنْزِلُ اللَّهُ
مِنْ السَّمَاءِ مَاءً فَيَنْبُتُونَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ لَيْسَ مِنْ
الْإِنْسَانِ شَيْءٌ إِلَّا يَبْلَى إِلَّا عَظْمًا وَاحِدًا وَهُوَ عَجْبُ
الذَّنَبِ وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jarak antara kedua tiupan empat puluh.” Abu
Hurairah bertanya, “(Apakah) empat puluh hari.” Beliau menjawab, “Aku belum
bisa memastikan.” Abu Hurairah bertanya, “(Apakah) empat puluh bulan.” Beliau
menjawab, “Aku belum bisa memastikan.” Abu Hurairah bertanya, “(Apakah) empat
puluh tahun.” Beliau menjawab, “Aku belum bisa memastikan.” Beliau bersabda,
“Kemudian Allah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mereka pun tumbuh
sebagaimana tumbuhnya tanaman. Tidak ada sesuatu pun dari jasad manusia kecuali
telah hancur kecuali satu tulang, yaitu tulang ekornya, dan dari sanalah
manusia tersusun kembali pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari, no. 4935 dan Muslim,
no. 2955)
Setelah manusia semuanya mati, Allah menurunkan air dari
langit. Maka tubuh manusia akan tumbuh kembali seperti tumbuhnya sayuran. Sayur
itu tumbuhnya bertahap. Tubuh manusia di kuburan akan hancur semuanya kecuali
satu tulang kecil, tulang ekor yang ada di belakang tubuh manusia. Dari tulang
kecil itulah jasadnya manusia akan ditumbuhkan lagi. Dan ini tidak akan hancur.
Baru setelah tubuhnya manusia semuanya jadi lengkap dengan turunnya hujan,
ditiupkanlah sangkakala yang kedua kalinya. Allah berfirman dalam surat Yasin
ayat 51.
وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ ٱلْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ
يَنسِلُونَ
Lalu ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka
keluar dari kuburnya (dalam keadaan hidup), menuju kepada Tuhannya.
Lalu ditiuplah sangkakala yang kedua, maka seketika
itu mereka (para manusia) keluar dari kuburannya dalam keadaan hidup menghadap
kepada Allah subhanahu wa ta’ala,
قَالُوا۟ يَـٰوَيْلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ ۗ هَـٰذَا مَا
وَعَدَ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَصَدَقَ ٱلْمُرْسَلُونَ
Mereka berkata, "Celakalah kami! Siapakah yang
membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan
(Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul(-Nya).
Mereka berkata “Celaka kami! Siapa yang
membangkitkan kami dari kuburan kami?” Ini orang-orang yang tidak percaya
adanya hari kebangkitan. Maka dijawab, “هَـٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحْمَـٰنُ وَصَدَقَ ٱلْمُرْسَلُونَ”. Ini yang sudah dijanjikan oleh Allah dan
para Rasul, benar apa yang mereka sampaikan. Apakah sulit membangkitkan manusia
sedemikian banyaknya? Mungkin milyaran atau triliunan? Bagi Allah tidak sulit.
إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةًۭ وَٰحِدَةًۭ فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌۭ
لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ
Teriakan itu hanya sekali saja, maka seketika itu
mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab).
Cuma butuh satu teriakan saja, satu tiupan sangkakala
saja, tiba-tiba semuanya sudah hadir di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.
Tidak sulit. Tidak perlu bertanya-tanya, “apakah bisa?” Itu bukan urusan kita
إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن
فَيَكُونُ
Sesungguhnya
urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya,
"Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.
3.
Meyakini adanya hari penghitungan amal.
Kata para ulama, nanti di hari kiamat setelah
manusia dikumpulkan, Allah akan memanggil hambanya untuk berdiri dihadapan
Allah ‘azza wa jalla kemudian diingatkan dengan perbuatan yang dahulu
mereka lakukan, dengan perkataan yang dahulu mereka ucapkan ketika di dunia
dengan kondisi mereka dahulu entah itu ketika mereka beriman, beribadah, ketika
taat, atau ketika mereka kafir, berbuat dosa dan maksiat. Setelah itu diserahkan
kepada mereka buku catatan amalan. Seandainya dia orang sholeh, maka dia akan
menerima buku catatan itu dengan tangan kanannya, dan seandainya dia tidak
sholeh maka dia akan menerima dengan tangan kirinya. Begitu juga dengan proses
penghitungan amalan adalah adanya dialog antara Allah dengan para hambanya.
Dimana dalam dialog itu Allah subhanahu wa ta’ala membeberkan,
menjelaskan bukti-bukti perbuatan mereka dahulu ketika mereka di dunia.
Didatangkan saksi-saksi dan ditimbang amalan-amalan tersebut. Dan ini juga ijma’
ahlus sunnah wal jama’ah, sebagaimana dinukil oleh Imam Abul Hasan al
Asyari dalam kitab beliau, Al Ibaanah. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu
wa ta’ala dalam al-Quran surat al-Insyiqaq ayat 7-12,
فَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ ٧فَسَوْفَ يُحَاسَبُ
حِسَابًۭا يَسِيرًۭا ٨وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ مَسْرُورًۭا ٩وَأَمَّا مَنْ
أُوتِىَ كِتَـٰبَهُۥ وَرَآءَ ظَهْرِهِۦ ١٠ فَسَوْفَ يَدْعُوا۟ ثُبُورًۭا ١١وَيَصْلَىٰ
سَعِيرًا ١٢
Maka adapun orang yang
catatanya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan
pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama
beriman) dengan gembira. Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari arah
belakang, maka dia akan berteriak, "Celakalah aku!" Dan dia akan
masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).
Adapun orang-orang yang mendapatkan kitab catatan amalan
dengan tangan kanannya, maka dia akan mengalami proses hisab. Hisab adalah penghitungan
amalan. Orang yang mendapatkan kitab catatan dari sebelah kanannya akan dihisab
dengan mudah. Yang dimaksud dengan proses hisab yang mudah adalah hanya akan
diperlihatkan buku catatan amalannya dan isinya tanpa dicecar dengan diskusi
yang panjang. Adapun proses hidabnya orang-orang kafir dan munafik, mereka akan
dipermalukan, dipanggil di hadapan seluruh makhluk. Dan diteriakkan kepada
mereka, “inilah orang-orang yang mendustakan Allah subhanahu wa ta’ala!”
Rasulullah ﷺ menjelaskan proses tersebut dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ
كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ، وَيَقُولُ لَهُ:
أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا،
حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ،
قَالَ: فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَإِنِّي أَغْفِرُهَا
لَكَ الْيَوْمَ، ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ، وَأَمَّا الْكُفَّارُ
وَالْمُنَافِقُونَ، فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ “: {هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا
عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِينَ}
“Sesungguhnya Allah pada hari kiamat kelak akan
mendekatkan seorang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalu Allah
akan menutupinya (karena rasa sayang) sehingga Allah menutupinya dari manusia,
Allah berfirman: “Apakah kamu mengenal dosamu yang begini? apakah kamu mengenal
dosamu yang begini?” Hingga ketika dia sudah mengakui dosa-dosanya dan dia
melihat bahwa dirinya sungguh telah binasa, Allah berfirman: “sungguh Aku telah
menutupi dosa-dosamu tatkala di dunia dan pada hari ini Aku mengampuni dosa-dosamu”.
Maka orang beriman itu diberikan kitab catatan kebaikannya. Adapun orang-orang
kafir dan munafik, maka para saksi akan berkata: {itulah orang-orang yang
mendustakan Tuhan mereka. Maka laknat Allah untuk orang-orang yang zhalim}.”
(HR. Ahmad no. 5436, Bukhari no. 2441, dan Muslim no. 2768)
Itu bedanya antara proses hisabnya orang yang
beriman dengan orang kafir dan kaum munafiqin. Mudah-mudahan kita mengalami
proses hisab yang mudah. Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan
kepada kita agar kita membaca doa setelah tasysyahud sebelum salam, yang
bunyinya
اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا
“Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah”
(HR. Ahmad 6/48)
4.
Meyakini adanya surga dan neraka.
Wajib hukumnya untuk meyakini bahwa nanti di hari
kiamat ada surga sebagai tempat kembali orang-orang yang beriman dan beramal
sholeh. Di dalamnya disediakan kenikmatan yang tidak pernah terbersit di dalam
benak hati kita. Sebagaimana kita wajib meyakini bahwa nanti di hari kiamat ada
neraka yang disediakan oleh Allah untuk hamba-hambanya yang tidak beriman, yang
bergelimang dengan dosa, dan maksiat. Di dalamnya disediakan azab dan siksa
pedih yang tidak terperikan. Dan inilah keyakinan ahlus sunnah wa jama’ah.
Sebagaimana dinukil oleh Imam Abu Ismail ash-Shobuuni dalam kitab beliau, Aqidatus
Salaf Ashaabil Hadits. Dalilnya banyak, diantaranya adalah firman Allah subhanahu
wa ta’ala di surat al-Bayyinah ayat 6-8,
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَـٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى
نَارِ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ ٦إِنَّ
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ
٧جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّـٰتُ عَدْنٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ
خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًۭا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ
ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ ٨
Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli
Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk. Sungguh,
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah sebaik-baik
makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Ādn yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida
terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah
(balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Buah Iman Kepada Hari Akhir
1.
Kita akan termotivasi untuk beramal sholeh
Karena kita yakin bila kita beramal sholeh aka nada balasannya
dari Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Zalzalah
ayat 7,
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا
يَرَهُۥ ٧
Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
ذَرَّةٍ itu artinya menurut para ahli tafsir adalah semut yang paling
kecil atau debu. Karena semut itu berkelas kelas. Ada semut Rangrang yang
besar, ada juga semut yang kecil sekali. Semut yang kecil atau debu, itulah ذَرَّةٍ. Sekecil apapun amal shaleh
yang kita kerjakan, Allah akan memberikan balasan amal shaleh itu kepada kita.
Tidak ada yang hilang, tidak akan ada yang disia-siakan oleh Allah subhanahu
wa ta’ala. Makannya orang yang yakin akan adanya hari akhir, dia terus punya
semangat tinggi untuk beramal.
2.
Dia akan terhalang atau tertahan untuk melakukan
dosa dan maksiat.
Karena dia yakin bahwa sekecil apapun dosa yang kita
lakukan akan ada pertanggungjawabannya nanti di hari kiamat. Allah subhanahu
wa ta’ala berfirman dalam surat al-Zalzalah ayat 8,
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا
يَرَهُۥ ٨
Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan
seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan siapapun yang melakukan kejahatan, keburukan,
dosa, walaupun sebesar dzarroh, sebesar semut kecil atau debu, maka dia akan
mendapatkan balasannya. Bila seseorang beriman kepada hari akhir, maka dia
tidak pernah meremehkan dosa walaupun kecil karena dia tahu pasti ada
konsekuensinya. Oleh karena itu Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam
pernah berpesan kepada istri beliau yang tercinta,
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا،
قَالَتْ : قَالَ رَسُوْ لُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ :
يَاعَائِشَةُ إِيَّاكَ وَمُحَقَّرَاتِ الأعْمَالِ (وَفِى رِوَايَةِ : الذُنُوْبِ)
فَإِنَّ لَهَا مِنَ اللَّهِ طَالِبًا
“Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata,
‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Wahai Aisyah, hindarilah
olehmu amal-amal yang remeh (dan dalam satu lafazh disebutkan dosa-dosa).
Karena ada yang akan menuntut dari Allah terhadap amal-amal itu” (HR. Ibnu
Majah dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Syaikhul al-Albani).
Segala perbuatan pasti akan ada balasannya di sisi
Allah. Dia yakin sekecil apapun dosa dan maksiat walaupun orang lain tidak
tahu, walaupun istrinya tidak tahu, walaupun suaminya tidak tahu, walaupun
ustadznya tidak tahu, tapi dia yakin bahwa Allah Maha Tahu. Bahwa itu akan
ditulis dan ditampakkan nanti di hari kiamat dan ada balasannya. Buah yang
kedua.
3.
Dia akan terhibur
Orang yang beriman dengan hari akhir, dia akan
terhibur ketika kurang merasakan nikmat yang bersifat duniawi. Apakah seluruh
kenikmatan dunia bisa dia nikmati oleh orang yang beriman? Tidak. Karena dia
tahu bahwa tidak seluruh kenikmatan duniawi adalah halal. Ada
kenikmatan-kenikmatan yang haram. Dia tidak bisa bebas seperti bebasnya orang
kafir dalam menikmati kenikmatan duniawi. Sedangkan orang kafir mencicipi semua
jenis kenikmatan dunia. Halal, haram, dia tidak peduli.
Ada kenikmatan-kenikmatan yang tidak bisa
orang beriman nikmati. Rasa sedih itu ketika muncul akan hilang ketika dia
ingat bahwa kenikmatan di surga nanti akan melupakan seluruh kesedihan
tersebut. Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bercerita dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Anas bin Malik
radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
يُؤتَى بأنْعَم أهل الدنيا مِنْ أهل النار
فيُصْبَغُ في النارِ صَبْغَةً ثم يُقَال: يا ابنَ آدمَ هل رأيتَ خيراً قطُّ هل
مَرَّ بكَ نعيمٌ قط؟ فيقولُ لا والله يا ربِّ، ويؤْتَى بأشَدِّ الناسِ بؤساً في
الدنيا مِنْ أهل الجنة فيصبغُ صبغةً في الجنة فيقال: يا ابن آدمَ هل رأيتَ بؤساً
قط؟ هل مَرَّ بك من شدة قط؟ فيقولُ: لا والله يا ربِّ ما رأيتُ بؤساً ولا مرّ بِي
مِنْ شدةٍ قَطُّ
“Didatangkan
penduduk neraka yang paling banyak nikmatnya di dunia pada hari kiamat. Lalu ia
dicelupkan ke neraka dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya,
‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan sedikit saja? Apakah
engkau pernah merasakan kenikmatan sedikit saja?’ Ia mengatakan, ‘Tidak, demi
Allah, wahai Rabb-ku.” Didatangkan pula penduduk surga yang paling sengsara di
dunia. Kemudian ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian
dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan
sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia
menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan
keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya”
(HR. Muslim no. 2807).
Komentar
Posting Komentar