Rukun Iman 6 : Beriman Kepada Para Rasul Allah
Pada hari ini kita akan memasuki pembahasan tentang rukun iman yang keempat, yaitu iman kepada para rasul. Rukun iman yang keempat ini merupakan salah satu di antara prinsip dasar yang harus diyakini oleh setiap muslim. Karena para nabi dan rasul ‘alaihi sholatu wa salam merupakan penghubung antara Allah subhanahu wa ta’ala dan para manusia. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala akan menyampaikan sesuatu, maka Allah menyampaikannya melewati para rasulnya, tidak langsung disampaikan dari Allah kepada para manusia. Sehingga ketika orang meingkari keberadaan para rasul, maka akan berkonsekuensi mengingkari adanya penghubung antara Allah dengan para rasul ‘alaihi sholaatu wa salam. Sehingga orang-orang yang mengingkari satu saja diantara para rasul, maka dianggap telah mengingkari seluruh nabi dan rasul. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Quran surat an-Nisa ayat 150-152. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّ ٱلَّذِينَ
يَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا۟ بَيْنَ ٱللَّهِ
وَرُسُلِهِۦ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍۢ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍۢ وَيُرِيدُونَ
أَن يَتَّخِذُوا۟ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا ﴿١٥٠﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang ingkar kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, dan bermaksud
membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan Rasul-rasul-Nya, dengan
mengatakan, "Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian
(yang lain)," serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir),
(150)
Sesungguhnya
orang-orang yang ingkar kepada Allah dan para rasulnya dan bermaksud untuk
membeda-bedakan antara keimanan kepada Allah dan rasul-rasulnya, ada sebagian
orang ingin beriman kepada Allah tapi tidak mau beriman kepada para rasul. Dan
ini tidak diterima oleh Allah ‘azza wa jal. Kalau mau beriman kepada
Allah berarti juga harus beriman kepada para rasul ‘alayhi sholaatu was
salaam. Begitu pula tidak akan diterima orang-orang yang beriman kepada
Allah saja dan kepada para rasul saja, dan juga tidak diterima orang yang
beriman kepada sebagian rasul dan ingkar kepada sebagian rasul yang lain. Itu
semua tidak diterima oleh Allah ‘azza wa jal. Makannya setelah itu Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman,
أُو۟لَـٰٓئِكَ
هُمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ حَقًّۭا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَـٰفِرِينَ عَذَابًۭا
مُّهِينًۭا ﴿١٥١﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَلَمْ يُفَرِّقُوا۟
بَيْنَ أَحَدٍۢ مِّنْهُمْ أُو۟لَـٰٓئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَكَانَ
ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا ﴿١٥٢﴾
Merekalah
orang-orang kafir yang sebenarnya. Dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir
itu azab yang menghinakan. (151) Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah
dan Rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan di antara mereka (para Rasul),
kelak Allah akan memberikan pahala kepada mereka. Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (152)
Mereka
yang tidak mau beriman kepada Allah dan rasulnya, mereka adalah orang-orang
yang kafir benar-benar, alias benar-benar kafir.
Siapakah
yang dimaksud dengan rasul? Para ulama kita menjelaskan bahwa rasul adalah
manusia laki-laki merdeka yang diberi wahyu oleh Allah berupa syariat untuk
disampaikan kepada para manusia. Jadi syarat yang pertama rasulnya adalah
manusia, kemudian laki-laki. Dan tidak ada nabi perempuan. Dalilnya apa kalau rasul
itu laki-laki? Firman Allah dalam surat Yusuf ayat 109. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
وَمَآ
أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًۭا نُّوحِىٓ إِلَيْهِم مِّنْ أَهْلِ ٱلْقُرَىٰٓ
ۗ
Dan
Kami tidak mengutus sebelummu (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami
berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.
Imam
Abul Hasan al-Asy’ari menukil ijma’ ulama bahwa semua nabi dan rasul itu
laki-laki, tidak ada yang perempuan. Bahkan wanita setara Maryam itu bukan
nabi. Maryam itu dikatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai shiddiiqoh.
Shiddiiqoh artinya wanita yang sangat percaya. Jadi Maryam bukan nabi.
Nabi semuanya laki-laki.
Kemudian
laki-laki itu harus merdeka. Merdeka itu artinya bukan budak. Karena rasul
harus murni hambanya Allah. Kalau budak, dia hamba Allah plus hamba manusia. Itu
tidak diterima. Jadi laki-laki merdeka yang diberi wahyu oleh Allah berupa
syariat untuk disampaikan kepada para manusia.
Rasul
yang pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihi salam dan yang terakhir adalah nabi
kita Muhammad ﷺ. Dalilnya adalah Hadits Rasulullah ﷺ yang panjang dimana beliau menceritakan kisah manusia di Padang
Mahsyar. Nabi ﷺ bersabda,
أَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ،
وَهَلْ تَدْرُونَ بِمَ ذَاكَ؟ يَجْمَعُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْأَوَّلِينَ
وَالْآخِرِينَ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ، فَيُسْمِعُهُمُ الدَّاعِي، وَيَنْفُذُهُمُ
الْبَصَرُ، وَتَدْنُو الشَّمْسُ فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنَ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ
مَا لَا يُطِيقُونَ، وَمَا لَا يَحْتَمِلُونَ، فَيَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ
لِبَعْضٍ: أَلَا تَرَوْنَ مَا أَنْتُمْ فِيهِ؟ أَلَا تَرَوْنَ مَا قَدْ
بَلَغَكُمْ؟ أَلَا تَنْظُرُونَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ؟ فَيَقُولُ
بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ: ائْتُوا آدَمَ، فَيَأْتُونَ آدَمَ، فَيَقُولُونَ: يَا
آدَمُ، أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ، خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ
رُوحِهِ، وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوا لَكَ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ،
أَلَا تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى إِلَى مَا قَدْ بَلَغَنَا؟
فَيَقُولُ آدَمُ: إِنَّ رَبِّي غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ
مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنَّهُ نَهَانِي عَنِ
الشَّجَرَةِ فَعَصَيْتُهُ نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي، اذْهَبُوا
إِلَى نُوحٍ
“Aku adalah penghulu
seluruh manusia pada hari kiamat, tahukah kalian kenapa demikian? Allah mengumpulkan
seluruh manusia yang terdahulu sampai yang akan datang pada satu dataran tanah,
sehingga penyeru dapat memperdengarkan (suaranya) kepada mereka semuanya, dan
pandangan dapat melihat mereka, serta matahari mendekat mereka. (Lalu manusia
mengalami kesedihan dan kengerian pada batas yang mereka tidak mampu dan sabar
menanggungnya), lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Apakah
kalian tidak melihat keadaan yang kalian hadapi dan yang menimpa kalian ini?
Tidakkah kalian memiliki melihat, siapa yang dapat memberikan syafaat untuk
kalian kepada Rabb kalian?’ Sebagian lainnya menyatakan (kepada sebagian yang
lain), ‘Datanglah kepada bapak kalian Adam’, Lalu mereka mendatanginya dan
berkata, ‘Wahai Adam! Engkau adalah bapaknya seluruh manusia, Allah
menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan dari ruh-Nya kepadamu, serta
memerintahkan para malaikat lalu mereka sujud padamu dan Allah juga
menempatkanmu di surga, tidakkah engkau (bisa) memintakan syafaat untuk kami
kepada Rabbmu? Tidakkah engkau telah melihat keadaan kami dan yang menimpa
kami?’ Lalu beliau menjawab, ‘Sungguh, pada hari ini Rabbku telah marah dengan
kemarahan yang mana Dia belum pernah marah sebelum ini seperti itu, dan tidak
juga marah setelahnya seperti itu. Allah melarangku dari suatu pohon, namun aku
melanggarnya. Diriku sendiri butuh syafaat, diriku butuh syafaat. Silakan pergi
menemui selainku, pergilah menemui Nuh’.”
فَيَأْتُونَ نُوحًا، فَيَقُولُونَ: يَا نُوحُ،
أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى الْأَرْضِ، وَسَمَّاكَ اللهُ عَبْدًا شَكُورًا،
اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلَا تَرَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ أَلَا تَرَى مَا قَدْ
بَلَغَنَا؟ فَيَقُولُ لَهُمْ: إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ الْيَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ
قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنَّهُ قَدْ كَانَتْ
لِي دَعْوَةٌ دَعَوْتُ بِهَا عَلَى قَوْمِي، نَفْسِي نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى
إِبْرَاهِيمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Lalu mereka menemui Nuh seraya berkata, ‘Wahai Nuh!
Engkau adalah rasul pertama dari penduduk bumi, dan Allah telah menamakanmu
sebagai hamba yang bersyukur. Tidakkah engkau dapat memintakan syafaat untuk
kami kepada Rabbmu? Tidakkah engkau telah melihat keadaan kami dan yang menimpa
kami?’ Lalu beliau menjawab, ‘Sungguh, Rabbku sedang murka pada hari ini, yang
mana Dia belum pernah murka seperti itu dan tidak juga marah setelah hari ini
seperti itu. Sungguh, dahulu aku memiliki satu doa yang aku gunakan untuk
menghancurkan kaumku. Diriku sendiri butuh syafaat, diriku butuh syafaat.
Pergilah menemui selainku, pergilah kalian menemui Ibrahim!’.” (HR. Muslim No.
194)
Kata
Nabi Adam, “pergilah menemui Nuh.” Kenapa disuruh datang kepada Nuh?أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى الْأَرْضِ, karena
Nabi Nuh merupakan rasul pertama di muka bumi. Berdasarkan hadits di atas, dapat diketahui bahwa nabi
Adam bukan rasul, beliau adalah nabi. Bahkan beliau sendiri yang mengatakan
kepada umat manusia saat itu, “kalian jangan ke sini, datanglah ke Nuh.” Karena
nabi Nuh merupakan rasul yang pertama. Dalil di atas merupakan dalil bahwa nabi
Nuh adalah rasul yang pertama. Sedangkan dalil bahwa nabi Muhammad ﷺ adalah rasul
yang terakhir adalah al-Quran surat al-Ahzab ayat 40. Dalam ayat tersebut,
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
مَّا
كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍۢ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَـٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ
وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًۭا
Muhammad
itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan
Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Ketika
di awal bercerita tentang nabi Muhammad ﷺ, di
tengahnya Allah mengatakan, “وَخَاتَمَ
ٱلنَّبِيِّـۧنَ”.
خَاتَمَ itu artinya penutup. Penutup berarti
terakhir.
Makna Iman Kepada Rasul
Makna
dari iman kepada rasul adalah meyakini dan mengakui bahwa Allah mengutus dari
kalangan manusia para nabi dan rasul, meyakini tugas para rasul untuk mengajak
umat manusia kepada kebenaran, dan meyakini bahwa mereka telah menunaikan tugas
sebaik-baiknya. Dari makna iman kepada rasul didapati tiga poin,
1.
Kita harus yakin bahwa Allah betul-betul mengutus
nabi dan rasul.
2.
Kita meyakini tugasnya para nabi dan rasul untuk
mengajak umat kepada kebenaran.
3.
Meyakini bahwasannya para rasul ini sudah menunaikan
tugas sebaik-baiknya.
Tidak
ada diantara tugas yang sudah dibebankan oleh Allah kepada mereka yang
diabaikan oleh para nabi dan rasul ‘alaihi shalaatu wa salam.
Oleh
karena itu dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi ﷺ pernah bersabda,
إنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته
على خير ما يعلمه لهم، وينذرهم شر ما يعلمه لهم
“Sesungguhnya
tidak ada seorang Nabi pun sebelumku, melainkan wajib baginya untuk menunjukkan
kepada umatnya kebaikan yang ia ketahui untuk mereka, serta memperingatkan
mereka dari keburukan yang diketahui bagi mereka.” (HR. Muslim 1844)
Jadi
tidak ada sedikitpun diantara tugas yang Allah bebankan kepada mereka yang
tidak mereka tunaikan. Setiap mereka tahu kebajikan, mereka ajarkan kepada
umatnya. Dan setiap mereka mengetahui ada keburukan umatnya, mereka ingatkan.
Itulah tugasnya para nabi ‘alaihi sholatu wa salam.
Cakupan Iman Kepada Rasul
1.
Meyakini secara rinci nama-nama mereka yang
disebutkan oleh Allah dan meyakini secara global yang namanya tidak disebutkan
oleh Allah.
Ada pemahaman sebagian orang bahwa nabi dan rasul
itu jumlahnya 25. Ini tidak benar. 25 itu adalah yang namanya disebutkan dalam
al-Quran. Yang tidak disebutkan di dalam al-Quran banyak. Makannya Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat an-Nisa ayat 164,
وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَـٰهُمْ عَلَيْكَ مِن قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ
نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ
Dan ada beberapa Rasul yang telah Kami kisahkan
mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa Rasul (lain) yang tidak Kami
kisahkan mereka kepadamu.
Berarti ada sebagian rasul diceritakan, ada yang
tidak diceritakan. Ada sebagian rasul disebutkan namanya, dan ada yang tidak
disebutkan namanya. 25 itu adalah yang disebutkan namanya. 25 nama itu
disebutkan 18 dalam surat al-An’am ayat 83-86. Tujuh sisanya disebutkan dalam
beberapa surat-surat dan ayat-ayat yang lain.
2.
Meyakini bahwa mereka benar-benar diutus oleh Allah untuk
menyampaikan risalah kepada manusia.
Kita harus yakin bahwa nabi Muhammad shallallaahu
‘alayhi wa sallam itu betul-betul Allah yang mengutus. Bahkan dari Nabi Adam ‘alaihissalam.
Makannya dalam al-Quran surat an-Nahl ayat 36 Allah berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ
وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk
setiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah, dan jauhilah
tagut,"
Ayat tersebut menegaskan bahwasannya rasul itu Allah
yang mengutus. Setelah itu dijelaskan bahwa tugas para rasul adalah mengajak
untuk beribadah kepada Allah. Tidak ada nabi yang mengajak untuk menyembah dirinya
sendiri. Yang ada, seluruh nabi dan rasul inti dakwahnya sama, yaitu tauhid.
Jadi kita harus yakin betul bahwa mereka itu diutus sama Allah, semuanya.
Termasuk nabi Isa dan nabi Musa, walaupun nabi Isa itu nabinya kaum Nasrani dan
nabi Musa nabinya kaum Yahudi. Kita harus yakin bahwa mereka diutus sama Allah.
Karena mengingkari satu saja, itu sama dengan mengingkari semuanya. Jadi kalau
kita tidak percaya nabi Isa, sama saja kita tidak percaya dengan nabi Muhammmad
shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Kalau kita nggak percaya dengan nabi musa, sama
saja kita tidak percaya dengan nabi Muhammad ﷺ.
Sebaliknya, kalau ada orang tidak percaya dengan nabi Muhammad berarti dia
tidak percaya dengan nabi Isa dan nabi Musa. Mari kita perhatikan. Tadi dalilnya
sudah saya sampaikan di awal, al-Quran surat an-Nisa ayat 150-152. Tapi dalilnya
tidak hanya ini, akan disampaikan dalil lainnya yang menarik untuk kita
perhatikan.
Kaumnya nabi Nuh banyak yang tidak beriman kepada
nabi Nuh, padahal sudah didakwahi nabi Nuh selama 950 tahun Dalam surat asy-Syuara’
ayat 105 Allah berfirman,
كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ ٱلْمُرْسَلِينَ
Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.
Nabi Nuh itu rasul yang pertama. Berarti saat itu rasul
yang lain belum ada. Kenyataannya yang diingkari sama kaumnya nabi Nuh hanya
Nabi nuh saja, tapi kata Allah mereka telah mengingkari para rasul. Karena
ingkar kepada satu rasul sama saja ingkar kepada seluruh rasul. Makannya yang
paling beruntung itu umatnya nabi Muhammad ﷺ, karena umatnya
nabi Muhammad beriman dengan seluruh nabi dan rasul. Sedangkan umat yang
lainnya hanya beriman kepada nabinya mereka saja, maksudnya umat yang sekarang.
Kalau umat Islam alhamdulillaah beriman kepada nabi Muhammad ﷺ, nabi Isa, nabi Musa. Kalau kita tanya umat Yahudi, mereka
tidak beriman dengan nabi Muhammad, konsekuensinya berarti mereka tidak beriman
kepada nabinya sendiri yaitu nabi Musa. Karena tidak beriman kepada satu nabi
sama saja tidak beriman kepada semuanya. Begitu juga dengan kaum Nasrani.
3.
Meyakini bahwa mereka pasti jujur dalam menyampaikan
wahyu dan semuanya telah mereka sampaikan
Jika ada wahyu dari Allah itu tidak ada yang
disembunyikan, tidak ada yang ditutup-tutupi. Jika Allah memerintahkan, maka
mereka akan sampaikan. Dalilnya surat al-Jinn ayat 28. Allah berfirman,
لِّيَعْلَمَ أَن قَدْ أَبْلَغُوا۟ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا
لَدَيْهِمْ وَأَحْصَىٰ كُلَّ شَىْءٍ عَدَدًۢا
Agar Dia mengetahui,
bahwa rasul-rasul itu sungguh, telah menyampaikan risalah Tuhannya, sedang
(ilmu-Nya) meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu
satu persatu.
Para rasul sungguh telah menyampaikan risalah Rabbnya.
Tidak ada satupun yang mereka sembunyikan. Maka dalam beberapa kisah di dalam
al-Quran, contohnya di surat al-Mulk ayat 8-9 bahwa ketika penduduk neraka akan
masuk neraka ditanya sama para malaikat penjaga neraka,
أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌۭ
"Apakah belum pernah ada orang yang datang
memberi peringatan kepadamu (di dunia)?"
قَالُوا۟ بَلَىٰ
Mereka menjawab, "Benar,“
Terus kenapa nggak mau ikut? Jadi, para nabi dan
rosul nggak bisa untuk menutup-nutupi. Realitanya, mereka sudah menyampaikan.
Tidak ada sedikitpun diantara ajaran yang telah Allah perintahkan yang mereka
sembunyikan.
4.
Meyakini bahwa mereka adalah manusia yang paling
mulia dan kita wajib untuk memuliakan mereka semuanya.
Perhatikan baik-baik, meyakini bahwa mereka adalah
manusia. Kalau manusia berarti tidak boleh disembah. Ingat, mereka adalah
manusia. Makannya kita sering mengatakan,
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
Jadi mereka itu tetap عَبْدُهُ, عَبْدُهُ itu artinya hamba alias manusia yang tidak boleh disembah. Yang boleh
disembah hanyalah Allah. Tapi dalam waktu yang sama mereka itu bukan sembarang
manusia. Walaupun mereka manusia, jangan sampai nanti ada yang mengatakan, “apa
bedanya saya dengan nabi? Kan sama-sama manusia.” Bedanya, dia manusia
istimewa, kita manusia biasa. Kenapa istimewa? Karena Allah subhanahu wa
ta’ala tidak akan mungkin untuk mengutus seorang nabi dan rasul dari suatu
kaum melainkan pasti orang itu yang terbaik yang ada di saat itu. Jadi Allah
itu tidak mungkin sembarangan untuk mengutus nabi dan rasul. Pasti dipilih oleh
Allah subhanahu wa ta’ala, tidak asal ketemu. Jadi walaupun para nabi
itu manusia, tapi mereka bukan sembarang manusia. Allah berfirman dalam surat
al-An’am ayat 68,
وَكُلًّۭا فَضَّلْنَا عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ
Masing-masing (nabi dan
rasul) Kami lebihkan (derajatnya) di atas umat lain (pada masanya),
Dan ini sudah ijma’ ulama sebagaimana yang
dinukil dari Ibnu Hazm.
Bila Anda pernah mendengar istilah wali, mereka
dikenal sebagai manusia mulia. Tapi di antara wali dengan nabi tetap lebih
mulia nabi. Semulia apapun wali tetep masih dibawahnya nabi. Imam Abu Ja’far
Ath-Thahawi berkata:
ولا نفضل أحداً من الأولياء على أحد من
الأنبياء عليهم السلام ونقول: نبي واحد أفضل من جميع الأولياء
“Dan kita (Ahlus Sunnah) tidak mengutamakan seorang
pun dari para wali diatas seorang pun dari Al-Anbiya dan kita mengatakan:
Seorang Nabi tentu lebih utama dari seluruh para wali.”
Jadi bukan satu lawan satu, satu orang nabi lebih
tinggi daripada seluruh wali. Jadi, para nabi dan rasul dari sekian banyak
manusia merekalah yang terbaik. Namun, di antara para nabi dan rasul sendiri
juga ada level-levelnya diantara sesama nabi dan rasul. Perbedaan yang pertama,
rasul lebih tinggi dari nabi. Diantara para rasul ada lima yang paling tinggi,
yang diistilahkan dengan Ulul ‘Azmi yang terdiri dari Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, nabi
Muhammad ﷺ. Dan diantara lima ini yang paling mulia
adalah nabi Muhammad ﷺ. Itu hirarkinya. Ini di antara sesama nabi
dan rasul. Kalau diantara manusia, jelas para nabi dan rasul yang paling mulia
diantara semua manusia. Di atasnya manusia (biasa), ada nabi, diatas nabi ada rasul,
diatas rasul ada ulul ‘azmi, diatasnya ulul ‘azmi yang paling tinggi adalah
Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bersabda dalam hadits riwayat Muslim,
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آَدَمَ يَوْمَ
اْلقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ، وَبِيَدِيْ لِوَاءُ اْلحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ، وَ مَا
مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آَدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَاءِيْ وَ أَنَا
أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ.
Aku adalah pemimpin anak adam pada hari kiamat dan
bukannya sombong, dan di tanganku bendera Al-Hamd dan bukannya sombong, dan
tidak ada seorang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun, tidak pula Adam juga
yang lainnya ketika itu kecuali semua di bawah benderaku, dan aku orang pertama
yang keluar dari tanah/kubur dan bukannya sombong.
Aku, kata Nabi ﷺ, adalah سَيِّدُ, pemimpin, pemuka, seluruh anak Adam. Makannya nanti pada saat Padang
Mahsyar yang bisa memberikan syafaat setelah manusia mendatangi para nabi dan rasul
dan masing-masing nabi dan rasul semuanya angkat tangan, terakhir datang kepada
Nabi Muhammad ﷺ, dan beliau mengatakan, “Ya, memang akulah
yang ditugaskan oleh Allah untuk memberikan syafaat ini.” Inilah yang
diistilahkan sebagai asy-syafaatul udzma’, syafaat yang paling tinggi. Dan
itulah yang senantiasa kita baca, yang kita minta setiap habis adzan.
اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ اَلدَّعْوَةِ
اَلتَّامَّةِ , وَالصَّلَاةِ اَلْقَائِمَةِ , آتِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيلَةَ
وَالْفَضِيلَةَ , وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا اَلَّذِي وَعَدْتَهُ
Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini
(dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah
(kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan
bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang
telah Engkau janjikan padanya. (HR. Abu Daud: 529)
مَقَامًا مَحْمُودًا artinya sebuah kedudukan yang dipuji oleh
seluruh manusia pada saat itu. Manusia pada saat itu kebingungan, Adam tidak
bisa menolong, Musa tidak bisa, Nuh tidak bisa, Ibrahim juga tidak bisa. Bayangkan,
mereka ini manusia-manusia pilihan, semuanya tidak bisa. Dan pada akhirnya
datang kepada nabi Muhammad ﷺ. Maka jangan heran bahwa diantara nabi dan
rasul yang paling tinggi kedudukannya adalah nabi Muhammad ﷺ.
5.
Mengamalkan syariat nabi Muhammad shallallaahu
‘alayhi wa sallam.
Karena syariat beliau berlaku untuk seluruh manusia,
manusia dan jin, sampai hari kiamat. Berbeda dengan nabi-nabi yang lain, kalau
nabi-nabi yang lain itu syariatnya hanya berlaku untuk kaumnya saja. Allah
berfirman dalam surat al-Anbiya ayat 107,
وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan
untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.
Sehingga sebagai umat islam dan juga umat-umat yang
lainnya setelah diutusnya nabi Muhammad ﷺ, mereka
punya kewajiban untuk mengikuti syariat nabi Muhammad ﷺ
jika ingin mendapatkan
rahmat dari Allah. Oleh karena itu Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat
132,
وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ
لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul
(Muhammad), agar kamu diberi rahmat.
Buah Beriman Kepada Rasul
1.
Menyadari
betapa besar rahmat dan perhatian Allah kepada manusia.
Satu nikmat yang sering kita lupakan adalah nikmat
diutusnya para nabi dan rasul. Jasa mereka itu besar, bahkan sebagian ulama itu
mengatakan jasanya nabi dan rasul itu melebihi jasanya orang tua kepada
anaknya. Karena para nabi dan rasul, merekalah yang mengeluarkan kita dengan
izin Allah مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ
إِلَى ٱلنُّور, dari
kegelapan menuju cahaya. Jika kalian tahu bagaimana kondisi dunia sebelum para
nabi dan rasul diutus, termasuk sebelum nabi Muhammad ﷺ
diutus, kita akan tahu
betapa besar karunia yang Allah berikan kepada umat manusia ini. Betul-betul ظُّلُمَـٰتِ, gelap gulita. Dari semua sisinya, akidahnya,
ibadahnya, akhlaknya. Mereka, ketika nabi Muhammad ﷺ
diutus yang disembah adalah kayu, batu, besi, yang sesembahan itu mereka
sendiri yang membuatnya. Itu kan aneh bin ajaib. Oleh karena itu sering disampaikan
cerita tentang sebagian sahabat ketika mereka sudah masuk islam, mereka sempat
nostalgia, cerita tentang masa-masa kelam dahulu. Ada diantara mereka yang
cerita, “Kok kita bikin tuhan dari adonan tepung. Begitu kita kelaparan, kita
minta izin. ‘Mohon maaf ya, aku makan tangannya’.” Itu kan betul-betul gelap,
bagaimana memakan tuhan, bayangkan. Kemudian diutuslah nabi Muhammad ﷺ. Maka sungguh ajaib dan aneh, orang sudah masuk ke cahaya ingin
gelap lagi, itu aneh. Jangan sampai kita mau dikembalikan ke zaman penyembahan
terhadap batu.
2.
Mensyukuri nikmat yang besar ini.
Apalagi kalau misalnya kita melihat bagaimana masih
adanya manusia-manusia di zaman ini yang menyembah selain Allah subhanahu wa
ta’ala. Bagaimana mereka berebut kotoran binatang dengan dalih bahwa
kotoran itu mendatangkan berkah. Alhamdulillaah kita bersyukur kepada
Allah subhanahu wa ta’ala kita tidak seperti itu. Alhamdulillaah
kita beribadah di tempat yang bersih dan kita menyembah dzat yang maha suci serta
kita diajarkan supaya menjadi orang-orang yang bersih dan suci.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا
تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang
kamu dustakan?
Maka yang kedua adalah bersyukur kepada
Allah. Kalau kita belum bersyukur kepada Allah, berarti kita belum beribadah
kepada Allah. Orang yang tidak bersyukur kepada Allah berarti dia belum
beribadah kepada Allah. Allah berfirman dalam al-Quran surat an-Nahl ayat 114,
وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ
إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu
hanya menyembah kepada-Nya.
3.
Mencintai para nabi dan rasul semuanya dan
memuliakan mereka.
Inilah
yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dengan al hubbu fillaah, cinta
karena Allah. Maksudnya semakin dia patuh kepada Allah maka kita semakin cinta
kepada dirinya. Kita punya banyak teman. Katakanlah dari lima orang teman akrab
kita, kalau diperhatikan, level ketaatan lima orang ini berbeda. Ada yang 50%, 70%,
atau 20%. Seharusnya kecintaan kita kepada lima orang itu berbeda-beda sesuai
dengan ketaatan mereka kepada Allah. Berarti yang ketaatannya paling besar
kepada Allah kita cintai lebih besar, dan yang ketaatannya lebih kecil kepada
Allah kita cintai lebih kecil. Berarti kebenciannya kepada dia berapa? 30%. Itulah
tali keimanan yang paling kuat. Kalau nabi dan rasul kita cintai 100%. Maka
aneh sekali ketika ada orang mengidolakan seorang pemain bola atau seorang
artis padahal dia islam saja tidak. Dicintai habis-habisan, rela menunggu
berjam-jam bahkan menginap di jalan depan hotelnya artis tersebut hanya untuk
melihat ketika artisnya buka jendela kemudian melambaikan tangan. Itu sudah
histeris nangis sampai pingsan. Padahal nabi kita Muhammad ﷺ harus kita cintai 100% dan tidak boleh ada kebencian sedikitpun
kepada beliau. Sedangkan manusia tadi seharusnya tidak kita cintai karena
mereka bukan orang yang beriman. Cinta kita kepada orang lain idealnya itu
dibangun diatas sejauh mana dia taat kepada Allah. Semakin tinggi ketaatannya
kepada Allah, kita akan semakin cintai. Semakin tipis ketaatannya kepada Allah
berarti kecintaan kita kepadanya semakin tipis. Sekarang ini bukan tipis,
karena nggak ada. Karena ini bukan orang yang beriman kepada Allah subhanahu
wa ta’ala.
Komentar
Posting Komentar