Rukun Iman 5 : Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah
Definisi Kitab
Yang
dimaksud dengan kitab di sini bukan sembarang kitab, akan tetapi kitab khusus
yang perlu kita imani. Karena bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, kitab
artinya buku. Tentunya bukan sembarang buku. Kitab yang dimaksud disini adalah kitab
yang berisikan firman Allah yang diwahyukan kepada para nabi dan rasul. Sehingga
tidak sembarang kitab yang dimiliki oleh suatu agama harus diyakini. Yang
dimaksud dengan kitab-kitab yang kita yakini disini hanyalah kitab-kitab yang
diberikan oleh Allah para nabi dan rasul. Karena kita tahu bahwasannya
agama itu ada agama yang Allah turunkan dari langit dan agama yang ada di bumi.
Dan seluruh agama memiliki kitab, baik agama yang dari langit maupun yang
muncul di bumi. Nah yang kita maksud disini adalah kitab-kitab yang dimiliki
oleh agama-agama yang diturunkan oleh Allah dari langit.
Makna Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah
Secara
garis besar, para ulama kita menjelaskan beriman kepada kitab-kitab adalah
meyakini dan mengakui bahwa kitab-kitab itu betul-betul firman Allah dan semua
yang dikandungnya adalah hak. Hak artinya benar.
Perhatikan
baik-baik, betul-betul firman Allah. Termasuk Taurat, Injil, Zabur, Semua. Tadi
disebutkan meyakini bahwa kitab-kitab, berarti bukan cuma satu, semuanya! Kita
yakini bahwa semuanya adalah firmannya Allah subhanahu wa ta’ala. Dan
semua yang ada di dalam apa, kitab-kitab tadi adalah hak.
Apa
dalilnya bahwa kitab-kitab itu semuanya firman Allah? Al-Quran surat an-Nisa
ayat 136. Surat an-Nisa ayat 136. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
يَـٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَـٰبِ ٱلَّذِى
نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَـٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن
يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ
فَقَدْ ضَلَّ ضَلَـٰلًۢا بَعِيدًا
Wahai
orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
(Muhammad) dan kepada kitab (al-Quran) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta
kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian,
maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh. (QS. An Nisa’; 136)
Wahai
orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah dan kepada rasulnya. Dan
berimanlah kalian juga kepada kitab yang diturunkan oleh Allah kepada rasulnya.
Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, berarti
kitab yang dimaksud adalah al-Quran. Kita disuruh untuk beriman kepada Allah,
rasulnya, dan al-Quran. Apakah cukup? Dan kalian juga harus beriman dengan
kitab yang diturunkan sebelumnya. Kitab yang diturunkan sebelum al-Quran seperti
Taurat, Injil, Zabur. Kita orang Islam disuruh beriman dengan kitab-kitab
tersebut. Dan ini syarat sahnya keimanan seorang muslim.
Barang
siapa yang kufur, ingkar, tidak percaya kepada Allah, para malaikat dan
kitab-kitabnya. Perhatikan. Di sini Allah memberikan peringatan dan ancaman
keras kepada orang yang tidak percaya kepada kitab-kitabnya, bukan hanya satu
kitab saja. Barang siapa yang tidak percaya, yang ingkar kepada Allah, para
malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, sungguh dia telah
tersesat jauh. Jadi orang islam harus percaya dengan kitab-kitab yang Allah
turunkan sebelum al-Quran. Dan di dalam ayat ini jelas sekali bahwa yang
menurunkan kitab-kitab tersebut adalah Allah.
Cakupan Iman Kepada Kitab-Kitab
1.
Meyakini secara rinci nama-nama kitab yang disebutkan
oleh Allah dan meyakini secara global kitab yang tidak disebutkan namanya oleh
Allah.
Dari keterangan ini, kita bisa menyimpulkan bahwa
kitab itu ada yang namanya disebutkan oleh Allah dan ada yang tidak disebutkan namanya.
Cara berimannya berbeda. Kalau yang disebutkan namanya, maka kita harus imani
secara rinci. Kalau yang tidak disebutkan, berarti kita imani secara global.
Pokoknya ada kitab yang diturunkan kepada nabi, kita yakin ada kitab itu
walaupun kita tidak tahu namanya.
Dan perlu diketahui bahwa kitab yang diturunkan oleh
Allah kepada para nabinya itu banyak. Yang tahu jumlah dan nama semua
kitab-kitab itu hanya Allah. Yang diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala
kepada kita di dalam al-Quran ada empat, Sebagian ulama mengatakan enam.
·
Al-Quran – Muhammad shallallahu ‘alaihi sallam
·
Injil – Isa ‘alaihissalam
·
Taurat – Musa ‘alaihissalam
·
Zabur – Dawud ‘alaihissalam
·
Shuhuf Ibrahim – Ibrahim ‘alaihissalam
·
Shuhuf Musa – Musa ‘alaihissalam
Shuhuf Musa itu tidak sama dengan Taurat. Para ulama
menjelaskan beda. Pertama kali yang diturunkan Shuhuf Musa baru kemudian Allah
turunkan Taurat. Nama-nama inilah nama-nama kitab yang enam inilah yang
disebutkan dalam al-Quran. Al-Quran sendiri misalnya disebutkan dalam surat al-An’am
ayat 19. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَأُوحِىَ إِلَىَّ هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانُ
Al-Quran ini diwahyukan
kepadaku. (QS. Al An’am: 19)
Dan telah diwahyukan kepadaku. Aku disini siapa?
Nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Ini merupakan dalil al-Qur’an.
Terkait injil, Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 46,
وَءَاتَيْنَـٰهُ ٱلْإِنجِيلَ
Dan Kami menurunkan Injil
kepadanya, (QS. Al Maidah: 46)
Pada ayat tersebut, yang
dimaksud -nya disini adalah kepada Nabi Isa ‘alayhissalam. Terkait Zabur, Allah
berfirman dalam surat An-Nisa ayat 163,
وَءَاتَيْنَا دَاوُۥدَ زَبُورًا
Dan Kami telah memberikan
Kitab Zabur kepada Dawud. (QS. An Nisa: 163)
Terkait Taurat, Allah berfirman dalam surat
Al-Maidah ayat 44,
إِنَّآ أَنزَلْنَا ٱلتَّوْرَىٰةَ
Sungguh, Kami yang
menurunkan Kitab Taurat. (QS. Al Maidah: 44)
Terkait Shuhuf Ibrahim
dan Musa, Allah berfirman dalam surat al-A’la ayat 18-19,
إِنَّ هَـٰذَا لَفِى ٱلصُّحُفِ ٱلْأُولَىٰ﴿۱۸﴾ صُحُفِ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ﴿۱۹﴾
Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang
dulu, (yaitu) Shuhuf Ibrahim dan Musa.
Nama-nama kitab yang detil disebutkan oleh Allah
hanya enam. Adapun yang lainnya tidak disebutkan oleh Allah di dalam al-Quran. Dalil
yang menyatakan bahwa ada kitab-kitab lain selain kitab-kitab yang telah
disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 213. Pada ayat tersebut, Allah
menyebutkan bahwasannya setiap nabi diberikan kitab. Padahal jumlah nabi itu
banyak. Nama-nama nabi yang disebutkan di dalam al-Quran ada sekitar 25,
padahal kitab yang disebutkan ada enam. Padahal jumlah nabi tidak hanya 25,
masih banyak nabi-nabi lainnya yang tidak disebutkan oleh Allah subhanahu wa
ta’ala. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 213,
كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةً وَٰحِدَةً فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّـۧنَ
مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ لِيَحْكُمَ
بَيْنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ
Manusia itu (dahulunya)
satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan
peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran,
untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka
perselisihkan. (QS. Al Baqarah: 213)
Manusia itu dahulunya satu umat, yaitu keturunannya
Adam dan Hawa. Kemudian Allah utus para nabi untuk memberikan kabar gembira dan
memberikan peringatan. Kemudian Allah menurunkan bersama para nabi itu kitab. Itulah
dalil bahwa setiap nabi itu diberikan kitab. Bila jumlah nabi banyak, maka
kitabnya juga banyak. Sebagai umat muslim yang baik, kita tidak perlu
mengarang-ngarang nama-nama kitab tersebut.
2.
Mengimani bahwa seluruh kitab tersebut betul-betul
diturunkan dari Allah dan merupakan Firman-Nya.
Baik al-Quran, Taurat, Injil, Zabur, Shuhuf Ibrahim
dan Musa, Allah yang menurunkan semua kitab itu. Bila Allah yang menurunkan
kitab-kitab tersebut, maka kitab-kitab tersebut berisikan firman-firmannya
Allah subhanahu wa ta’ala. Dalilnya adalah surat Ali Imran ayat 2-4.
Allah berfirman,
ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ
ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ﴿٢﴾نَزَّلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا
لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ ٱلتَّوْرَىٰةَ وَٱلْإِنجِيلَ﴿٣﴾مِن قَبْلُ هُدًى
لِّلنَّاسِ وَأَنزَلَ ٱلْفُرْقَانَ ۗ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَـٰتِ
ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ ذُو ٱنتِقَامٍ﴿٤﴾
Allah, tidak ada
tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya).
Dia menurunkan Kitab (Alquran) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran,
membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan Dia menurunkan Taurat dan Injil,
sebelumnya, sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan.
Sungguh, orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh azab
yang berat. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (QS. Ali Imran:
2-4)
Allah turunkan kepadamu Muhammad kitab al-Quran.
Berarti yang menurunkan al-Quran adalah Allah, dan Al-Quran adalah kalamullah.
Kalamullaah artinya perkatannya Allah. Makannya kalau kita membaca
al-Quran mendapatkan Pahala. Berbeda kalau kita baca buku cerita biasa.
Meskipun di dalam al-Quran juga terdapat banyak kisah, namun membaca cerita
yang ada di dalam al-Quran setiap hurufnya mendapatkan sepuluh pahala. Sedangkan
membaca buku cerita biasa tidak mendapatkan pahala. Karena al-Quran adalah
firmannya Allah subhanahu wa ta’ala.
Apakah firman Allah hanya al-Qur’an? Di ayat ketiga
disebutkan bahwa “dan Dia menurunkan Taurat dan Injil.” Siapa yang
turunkan? Allah. Berarti Taurat dan Injil isinya firman Allah, sebagaimana
al-Quran isinya adalah firman Allah. Oleh karena itu di ayat keempat Allah
mengancam orang-orang yang tidak percaya dengan firman-firman Allah tersebut. Sesungguhnya
orang-orang yang kufur, ingkar kepada ayat-ayat Allah. Ayat-ayat Allah berarti
firman-firman Allah. Orang-orang yang inkar, tidak percaya dengan firman-firman
Allah, mereka akan mendapatkan adzab yang pedih. Jadi bahaya apabila kita tidak
percaya dengan Taurat dan Injil, apalagi tidak percaya dengan al-Quran.
Jadi Taurat, Injil, Zabur, Suhuf Ibrahim dan Musa,
semuanya itu isinya adalah firman Allah. Namun, ada tapinya. Al-Quran betul
isinya firman Allah. Yang dimaksud firman Allah di dalam Taurat, Injil, Zabur,
dan seterusnya itu yang mana? Yang dahulu atau sekarang? Maksudnya adalah
kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi dan rasul tersebut, yaitu nabi
Musa, Isa, Dawud, dan Ibrahim.
Jadi yang dimaksud dengan kitab yang isinya asli
firman Allah adalah yang ada di tangan para nabi yang tadi disebutkan. Adapun
yang sekarang, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa yang ada
sekarang telah dirubah oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan itu
Allah sebutkan di dalam surat al Baqarah ayat 75. Allah berfirman,
أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا۟ لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ
يَسْمَعُونَ كَلَـٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُۥ مِنۢ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ
وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Maka apakah kamu
(muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan
segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah
memahaminya, padahal mereka mengetahuinya? (QS. Al Baqarah: 75)
Apakah kalian berharap kuat supaya mereka (ahlul
kitab) beriman kepada kalian? Padahal Sebagian dari mereka sudah mendengar
firmannya Allah kemudian mereka rubah. Jelas Allah memakai kata “rubah”. Mereka
(ahlul kitab) merubah firman Allah subhanahu wa ta’ala, dan cara
merubahnya macam-macam. Kadang ditambahi, kadang dikurangi. Bukti adanya
penambahan adalah firman Allah. Allah ceritakan bagaimana ahlul kitab menambah
firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 79. Disitu Allah bercerita,
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ ٱلْكِتَـٰبَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ
يَقُولُونَ هَـٰذَا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشْتَرُوا۟ بِهِۦ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ
فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا
يَكْسِبُونَ
Maka celakalah
orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian
berkata, “ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah.
Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka
karena apa yang mereka perbuat. (QS. Al Baqarah: 79)
Celaka, yang menulis kitab
dengan tangan mereka kemudian mereka mengatakan “ini dari Allah,” padahal bukan
dari Allah. Berarti begitu
mereka menulis kitab, mereka tambahi, kemudian tambahannya ini dikatakan “ini
dari Allah”. Untuk apa? Untuk mencari uang. Maka hati-hati. Jadi, pengubahan
itu ada yang bentuknya tambahan dan ada yang bentuknya pengurangan. Yang
pengurangan Allah ceritakan dalam surat al-Maidah ayat 15. Allah berfirman,
يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ قَدْ جَآءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ
كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ
Wahai Ahli Kitab!
Sungguh, Rasul kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari
(isi) kitab yang kamu sembunyikan, (QS. Al Maidah: 15)
Wahai Ahli Kitab! Telah datang kepada kalian Rasul
kami. Rasul kami ini menjelaskan kepada kalian banyak hal-hal yang kalian
sembunyikan dari kitab kalian. Disembunyikan berarti dikurangi. Karena awalnya
ada, namun disembunyikan. Maka cakupan kedua dari iman kepada kitab-kitab Allah
adalah meyakini bahwa seluruh kitab itu betul-betul diturunkan Allah dan
merupakan firman-Nya, tapi yang dimaksud kitab itu adalah kitab yang asli, yang
diturunkan kepada para nabi saat itu.
3.
Meyakini bahwa seluruh kitab tersebut mengajarkan
tauhid.
Termasuk kitab-kitab sebelum al-Quran. Karena kitab-kitab
itu dibawa oleh Nabi dan rasul. Nabi dan rasul itu ajarannya semuanya tauhid. Tidak
ada nabi dan rasul yang mengajarkan kesyirikan. Kalau ada orang mengaku nabi
tapi mengajarkan syirik, maka dia nabi palsu. Di Indonesia agak laris dan nggak
kapok-kapok. Bolak-balik ada nabi, padahal bolak-balik masuk penjara. Dan yang
lebih anehnya, setiap nabi palsu ada pengikutnya. Maknanya, masyarakat kita masih
banyak yang akidahnya lemah. Dalil bahwasannya kitab itu semuanya isinya adalah
tauhid, Ali Imran ayat 79-80. Disitu Allah menceritakan,
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ
ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًۭا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَـٰكِن
كُونُوا۟ رَبَّـٰنِيِّـۧنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَـٰبَ وَبِمَا
كُنتُمْ تَدْرُسُونَ ٧٩
Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab
oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia,
"Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah," tetapi (dia
berkata), "Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan
kitab dan karena kamu mempelajarinya!" (QS. Ali Imran : 79-80)
Kalau ada manusia yang sudah diberikan kitab oleh
Allah dan sudah diangkat menjadi nabi, tidak mungkin mengatakan kepada manusia,
“Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah.” Kalau sudah ada nabi yang
dapat kitab, tidak mungkin dia mengajak umatnya untuk menyembah dia sendiri.
Pasti semuanya mengajak untuk menyembah Allah. Berarti kitabnya ini tidak
mungkin isinya kesyirikan, pasti isi kitabnya adalah tauhid, mengajak kepada
peribadatan hanya kepada Allah saja. Dan inilah yang membuat kita semakin yakin
bahwa kitab-kitab yang ada saat ini, selain al-Quran itu telah mengalami
perubahan. Karena di dalamnya ajarannya sudah tidak tauhid lagi. Disitu yang
diajarkan bukan cuma Allah yang disembah, tapi juga ada sesembahan-sesembahan
yang lainnya. Dan ini tidak mungkin Allah yang turunkan. Masa Allah mengajarkan
kesyirikan? Nggak mungkin, mustahil!
4.
Mengamalkan isi al-Quran.
Inilah Ini perbedaannya keimanan kita dengan
al-Quran dengan keimanan kita kepada kitab-kitab yang lainnya. Jadi yang diperintahkan
untuk diamalkan adalah al-Quran. Maka jangan sampai nanti ada orang yang
mengatakan, “Saya mau memadukan.” Makannya ada pemahaman yang muncul ingin
memadukan seluruh agama-agama yang ada karena sama-sama keturunannya nabi
Ibrahim, sehingga seluruh kitab itu diamalkan. Tidak. Iman kepada kitab-kitab
di dalam agama Islam itu bukan seperti itu. Maka yang keempat ini adalah
mengamalkan isi al-Quran. Kita mengamalkan isi al-Quran Karena Allah memerintahkan
kita untuk mengamalkan isi al-Quran. Dalam surat al-An’am ayat 155, Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَهَـٰذَا كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ مُبَارَكٌۭ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُوا۟
لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan ini adalah Kitab (Alquran) yang Kami turunkan
dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat.
Jadi kalau kalian ingin mendapatkan berkah dan
rahmat, ikutilah Al-Quran. Bukan mengikuti primbon. Kalau ingin mendapatkan
berkah, rahmat, kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala, ikutilah
al-Quran. Kenapa kita mengamalkan al-Quran? Karena Allah yang memerintahkan
kita. Kalau kita diperintahkan oleh bos kita, jarang diantara kita yang berani
mengatakan “tidak”. Kalau prajurit disuruh sama komandannya, meskipun perintahnya
itu mungkin sesuatu yang agak membingungkan. Pernah ada seorang komandan yang
cerita sama saya, “Ustadz, saya pernah berbuat dzolim kepada prajurit saya. Prajurit saya
pernah melakukan kesalahan, terus saya bilang ‘masuk kolam!’ Setelah itu saya
beraktivitas, saya lupa prajurit saya masih ada di kolam. Saya baru ingat malem
harinya. Saya langsung cari ternyata masih disitu, Ustadz. Saya ini banyak
dosanya.” Bayangkan, disuruh sama komandan patuh. Yang menyuruh kita untuk
mengikuti al-Quran itu Allah. Kita patuh sama bos kita karena digaji berapa? Allah
ngasih kita berapa? Nggak bisa dihitung! Kok kita masih alasan ini dan itu bila
diperintah Allah? Ya. Jadi kita mengamalkan isi al-Quran karena Allah menyuruh
kita.
2.
Karena Al-Quran itu satu-satunya kitab yang masih
otentik.
Otentik maksudnya asli. Apa yang ada di hadapan kita
saat ini itu sama persis seperti apa yang diturunkan oleh Allah kepada nabi
Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Tidak berbeda, tidak berkurang,
tidak tambah satu huruf pun. Karena Allah sendiri yang berjanji untuk
menjaganya. Allah berfirman dalam surat al-Hijr ayat 9,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan
pasti Kami (pula) yang memeliharanya.
Allah yang menjaga al-Quran. Makannya setiap ada
orang yang mengotak atik al-Quran pasti ketahuan. Yang paling terbaru kemarin.
Al-Quran cetakan surat apa yang ketahuan hilang? Al-Maidah ayat 51 sampai 57. Jadi
kalau al-Quran itu nggak usah usil, jangan macem-macem. Jangankan al-Quran ayat
51-57, jangankan 7 ayat, menghapus satu huruf saja akan ketahuan. Allah yang
jaga, Allah kok dilawan. Dibayar sebesar apapun, dirahasiakan sekuat dan
serahasia apapun, pasti akan ketahuan.
Ustadz, kalau kitab-kitab sebelum al-Quran itu kan
betul sudah mengalami perubahan. Apakah semuanya sudah mengalami perubahan?
Mungkin nggak ada sebagian yang belum pernah dirubah. Nah, kalau kita
mengamalkan yang belum dirubah itu bagaimana? Berarti kalau belum dirubah, itu
masih firman Allah bukan? Masih. Kalau kita amalkan bagaimana, ustadz? Ada yang
mengatakan boleh, ada yang mengatakan tidak. Kamu tahu bahwa itu firman Allah
darimana? Kamu bisa membedakan ini yang asli ini yang palsu itu darimana?
Tapi para ulama mengatakan, kalau anda betul-betul
tahu bahwa itu abash, asli otentik firmannya Allah yang belum dirubah dan tidak
bertentangan dengan al-Quran alias sesuai
dengan al-Quran, silahkan. Jadi syaratnya, satu, kamu harus yakin bahwa
ini asli dan itu caranya nggak tahu gimana. Yang kedua, harus sesuai dengan
al-Quran. Berarti kalau bertentangan dengan al-Quran, tidak perlu diamalkan. Kalau
begitu, lebih baik pakai al-Quran saja, mengamalkan isi al-Quran.
Makannya, khalifah kaum muslimin yang kedua, yaitu
Umar bin Khattab, itu pernah ditegur oleh nabi kita Muhammad shallallaahu
‘alayhi wa sallam. Ceritanya dalam hadits Riwayat Ahmad dan hadits ini
dinyatakan hasan oleh syaikhul Albani.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الَّله أَنَّ
عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ
الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النَّبِيُّ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا
ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ
شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا
بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ
إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Suatu
saat ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menghadap Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari sebagian
Ahli Kitab. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Beliau kemudian
marah dan bersabda, “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul
Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya sungguh aku telah datang
kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Jangan kalian bertanya
sesuatu kepada mereka (Ahlul Kitab) karena (boleh jadi) mereka mengabarkan
al-haq kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut, atau mereka
mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih
hidup niscaya tidak diperkenan baginya melainkan dia harus mengikutiku.”
Pada
suatu hari, kata Jabir, yang menyaksikan kisah ini, Umar bin Khattab datang
menemui Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam membawa kitab yang
beliau dapatkan dari ahlul kitab. Sampai di hadapan nabi shallallaahu
‘alayhi wa sallam, kitab itu dibacakan oleh Umar di hadapan Rasulullaah
shallallaahu ‘alayhi wa sallam, dan nabi shalllallaahu ‘alayhi wa sallam marah
sambal bersabda, “Wahai puteranya khattab,” yaitu Umar. “Wahai puteranya
khattab, gara-gara ini nanti kalian akan bingung, bimbang. Demi Allah! Aku
sudah bawakan untuk kalian kitab yang jelas, yang terang, yang murni, Al-Quran.
Terus buat apa lagi kalian baca-baca ini? Dan ketika baca-baca itu, akan
menimbulkan ekses negatif, apa? Kalian ketika tanya-tanya kepada ahlul kitab,
ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, mereka jawab, jawabannya bener
kemudian kalian ga percaya. Karena kalian ragu. Atau kemungkinan yang kedua,
mereka jawabnya salah kemudian kalian percaya. Ada dua kemungkinan, mereka
jawab kita baca-baca ahlul kitab, isinya bener, kita nggak percaya. Atau
kemungkinan yang kedua, kita baca-baca salah tapi kita percaya. Dan dalam
kondisi itu, keduanya sama-sama bahaya. Kalau ternyata bener kita nggak percaya
berarti kita mendustakan firmannya Allah, kalau kita baca-baca salah kemudian
kita benarkan, berarti kita membenarkan sesuatu yang salah.Kemudian nabi
shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Demi Allah, seandainya sekarang Musa
masih hidup, dia nggak punya pilihan kecuali mengikutiku.” Mengikuti Rasulullah
shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Jadi kalau seandainya nabinya saja masih hidup
ikut aku, masa kalian nggak ikut aku? Dan nanti di akhir zaman, Nabi Isa
‘alayhi salam ketika turun, beliau akan menjalankan syariatnya siapa? Nabi
Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam.
Buah Beriman Kepada Kitab-Kitab.
1.
Menyadari
besarnya perhatian Allah kepada manusia lalu kita bersyukur kepadanya.
Allah itu sangat perhatian kepada kita. Sejak kita
di perut ibu kita, kita sudah diperhatikan sama Allah. Makanannya, nafasnya,
minumnya. Ketika lahir, diperhatikan sama Allah subhanahu wa ta’ala.
Bayi yang baru lahir itu, siapa yang ngajari kalau minum itu caranya menyedot kalau
bukan Allah? Apa ada pelatihan bayi nete? Nggak ada! Dikasih bekal sama Allah
telinga, mulut, mata, tangan. Semuanya lengkap.
Hanya itu saja? Tidak! Allah tahu bahwa di dunia ini
banyak sekali faktor-faktor yang bisa menyesatkan manusia. Ada setan, setan pun
banyak.
مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ
dari (golongan) jin dan manusia."
Ada hawa nafsu bawaan. Allah tahu bahwasannya berbahaya
bila manusia dibiarkan, maka diberikanlah buku panduan. Buku panduan inilah
yang dijadikan sebagai petunjuk bagi mereka.
الٓمٓ ﴿١﴾ذَٰلِكَ ٱلْكِتَـٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ
هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾
Alif Lām Mīm. Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan
padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
Ustadz, sudah ada kitab, kok masih banyak orang yang
tersesat? Apalagi nggak ada kitab. Seandainya sudah diturunkan kitab kok masih
banyak orang yang tersesat, nggak mau ikut kitab tersebut, yang salah manusia
atau kitabnya? Ada rambu rambu lalu lintas, sudah dikasih warna merah diterobos,
kecelakaan, yang salah siapa? Yang nerobos. Udah dikasih tahu jelas-jelas
merah, kuning tandanya memperlambat, kok malah gaspol, yang salah yang gaspol.
Allah itu sangat perhatian dengan kita. Detil seluruh kebutuhan kita itu
dijelaskan, jalan yang bener mana, bahkan jalan yang salah juga dijelaskan
dalam al-Quran. Allah berfirman dalam surat al-Balad ayat 10,
وَهَدَيْنَـٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan
(kebajikkan dan kejahatan).
2.
Kita mengetahui betapa bijaksananya Allah.
Karena setiap umat kitabnya berbeda-beda sesuai
dengan situasi dan kondisi masing-masing. Makannya kaum Nasrani kitabnya Injil,
orang Yahudi kitabnya Taurat, pengikut nabi Dawud kitabnya Zabur, dan pengikutnya
nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam kitabnya Al-Quran. Ini sudah
disesuaikan sama Allah. Ukurannya sudah cocok. Maka jangan ganti ukurannya.
Seperti kamu cocoknya pakai baju ukuran M, jangan pakai ukuran L. Sudah, ini cocok.
Allah maha bijaksana. Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 48,
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan
aturan dan jalan yang terang
3.
Dengan kita beriman kepada kitab-kitab, kita akan
menemukan jalan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Allah berfirman dalam surat al-Israa ayat 9,
إِنَّ هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ
أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ
لَهُمْ أَجْرًۭا كَبِيرًۭا
Sungguh, Alquran ini memberi petunjuk ke (jalan)
yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan
kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar,
Pokoknya kalau kita ikut al-Quran, insya Allah kita sampai. Kalau kita
ikut al-Quran istiqamah, dengan izin Allah kita akan sampai. Karena ini jalan
yang paling lurus. Dan Allah memberikan kabar gembira buat kaum mu’minin yang
beramal shaleh bahwa mereka dijanjikan pahala yang besar di surga-Nya nanti.
Makannya saya katakan bahagia di dunia dan di akhirat. Di dunianya jalannya
lempeng, lurus, gampang. Tapi ya begitulah manusia. Sudah dikasih jalan yang
lurus malah pengen yang belok-belok.
Sudah dipermudah malah mempersulit dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar