Rukun Iman 3 : Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah merupakan asas dari seluruh rukun iman. Sehingga ketika seseorang tidak beriman kepada Allah, maka keimanannya kepada rukun-rukun yang lainnya tidak dianggap. Maka, penting sekali rukun iman yang pertama ini untuk dipelajari.
Kajian ini dibagi dalam tiga tema bahasan
sebagai berikut,
1.
Makna iman kepada Allah
2.
Cakupan keimanan kepada Allah
3.
Buah dari iman kepada Allah
Makna Iman Kepada Allah
Iman kepada Allah artinya adalah meyakini
dan mengakui dengan sebenar-benarnya tentang keberadaan Allah, nama-nama-nama
dan sifat-sifat Allah, rububiyyah Allah, dan uluhiyyah Allah.
Cakupan Keimanan Kepada Allah
Dari definisi yang telah disampaikan,
dapat disimpulkan bahwa cakupan keimanan kepada Allah ada empat.
1. 1. Mengimani keberadaan Allah.
Maksud dari
mengimani keberadaan Allah adalah kita harus yakin bahwa Allah itu ada.
Sehingga pemahaman atheisme itu bertolak belakang dengan ajaran islam. Karena
dalam agama Islam, seseorang harus meyakini bahwa Allah itu ada. Meskipun kita
tidak bisa melihat Allah, tidak pernah bertemu Allah, tidak bisa meraba-Nya,
tapi tetap kita yakini bahwa Allah itu ada.
Sesuatu yang tidak
bisa dilihat, atau belum bisa dilihat, dan tidak bisa diraba, belum tentu
menunjukkan bahwa sesuatu itu tidak ada. Karena terdapat sesuatu yang ada namun
tidak bisa dilihat dan diraba. Contohnya akal manusia. Manusia memiliki akal,
akal itu ada namun tidak bisa dilihat dan diraba. Adapun ketika kepala di
belah, tidak ditemukan wujud fisik akal. Yang ada hanyalah otak dan hewan pun
memiliki otak. Mengapa percaya bahwa akal itu ada walaupun tidak bisa
melihatnya? Karena kita bisa merasakan efek keberadaannya. Contohnya, orang
yang berakal dapat diajak berkomunikasi dengan baik, logis, dan rasional.
Kita meyakini
Allah subhanahu wa ta’ala karena kita bisa merasakan efek dari
keberadaannya. Kita bisa merasakannya dari alam semesta yang kita lihat. Allah subhanahu
wa ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 190,
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ
وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan
siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
Dalam pergantian siang dan malam, terjadi terbitnya matahari dari timur
dan tenggelamnya dari barat. Matahari tidak pernah terlambat untuk terbit,
padahal matahari terbit setiap hari. Sedangkan manusia bisa terlambat atau lupa
menyalakan lampu. Keteraturan alam semesta menunjukkan bahwa ada yang mengatur
alam semesta. Dan sang pengatur alam semesta pasti dzat yang Maha Sempurna.
2.
2. Mengimani nama-nama dan
sifat-sifat Allah.
Kita bisa menemukan nama-nama dan sifat-sifat Allah di dalam Al-Quran
dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Quran merupakan firman
Allah dan yang paling paham tentang Allah adalah Allah sendiri. Nama-nama dan
sifat-sifat Allah juga bisa dikenali dari hadits nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam karena beliau mendapatkan wahyu langsung dari Allah subhanahu
wa ta’ala, tentunya dalam beberapa kesempatan melalui malaikat Jibril.
Satu prinsip yang harus kita yakini bahwa nama-nama dan sifat-sifat
Allah itu pasti sempurna. Tidak seperti nama dan sifatnya manusia. Contohnya,
ada seseorang bernama Ahmad. Adakah maling bernama Ahmad? Mungkin ada. Padahal
Ahmad artinya terpuji, namun perilaku dan sifatnya tidak sesuai dengan namanya.
Contoh lain, ada seseorang bernama Shadiq. Shadiq artinya jujur. Tapi bisa saja
walaupun namanya Shadiq, dia melakukan korupsi. Begitulah manusia, antara nama
dengan realitanya bisa tidak sesuai.
Tidak demikian dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Nama-nama dan
sifat-sifat Allah itu pasti sempurna dan sesuai dengan realita. Ketika Allah
memiliki nama ar-Rahman dan ar-Rahim, maka Allah betul-betul memiliki sifat
kasih sayang. Ketika Allah menyandang nama ar-Rahman dan ar-Rahim, pasti kasih
dan sayangnya Allah sempurna. Tidak seperti orang yang mungkin bernama Rahim
namun galak dan tidak pernah tersenyum, misalnya.
Hal lain yang harus kita pahami dalam nama dan sifat Allah adalah, nama
dan sifat Allah tidak bisa dimiripkan dan disamakan dengan nama dan sifat yang
dimiliki oleh manusia. Dalam al-Quran surat asy-Syura’ ayat 11, Allah subhanahu
wa ta’ala berfirman,
فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ
وَٱلْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَمِنَ ٱلْأَنْعَـٰمِ
أَزْوَٰجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ
ٱلْبَصِيرُ
(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu
pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak
pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.
Allah memiliki nama dan sifat as-Samii’ (Yang Maha Mendengar) dan
al-Bashir (Yang Maha Melihat). Manusia juga bisa mendengar dan melihat.
Bedanya, Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat, sedangan manusia bisa
mendengar dan bisa melihat. Maha berarti sifatnya sempurna, sedangkan bisa
sifatnya penuh kekurangan. Manusia memiliki rentang pengelihatan terbatas sejauh
3 km. Sedangkan dari atas ‘Arsy, Allah subhanahu wa ta’ala dapat melihat
semut kecil hitam yang berjalan di atas batu hitam di dalam kegelapan malam.
Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala bisa melihat organ dalam semut tersebut,
karena Allah Maha Melihat. Maka, nama-nama dan sifat-sifat Allah tidak akan
pernah serupa dengan nama-nama dan sifat-sifat yang dimiliki oleh para makhluk.
3.
3. Mengimani Rububiyyah
Allah.
Rububiyyah merupakan perbuatan-perbuatan Allah selaku Tuhan semesta
Alam. Allah adalah Tuhan, dan Tuhan memiliki kekuasaan, kekuatan, mengatur,
menghidupkan, mematikan, memberi rejeki, menyembuhkan, dan lain sebagainya.
Itulah yang namanya perbuatan-perbuatan Tuhan. Dan yang mampu melakukan itu
semua hanyalah Allah, karena Allah adalah Tuhan.
Di bumi ini juga banyak penguasa, akan tetapi kekuasaan para penguasa
bumi jauh tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan Allah. Karena kekuasaan
para penguasa di muka bumi ini terbatas. Kepala Desa hanya berkuasa di desanya
saja. Dia bisa membusungkan dadanya di desanya. Begitu pindah desa, selesailah
kekuasannya. Seorang presiden hanya berkuasa di negaranya saja. Begitu pindah
negara, dia harus patuh dengan presiden dan aturan di negara yang dia kunjungi.
Kekuasaan manusia juga terbatas waktu. Maksimal seseorang memimpin sebuah
daerah di Indonesia dibatasi untuk dua periode. Itulah kekuasaan manusia,
terbatas teritorial dan waktu.
Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala tidak terbatas ruang dan
waktu. Alam semesta ini seluruhnya berada di bawah kekuasaan Allah subhanahu
wa ta’ala. Allah sudah berkuasa sebelum ada langit dan bumi, bahkan Allah
tetap berkuasa setelah langit dan bumi musnah. Dengan kekuasaanya yang
sempurna, Allah memberi kita rejeki, menyembuhkan kita, mematikan kita, dan
mengatur alam semesta. Inilah yang dinamakan rububiyyah.
4.
4. Mengimani Uluhiyyah Allah
Uluhiyyah artinya meyakini bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah
dan diibadahi. Intermezzo, Fir’aun merupakan orang yang tidak beriman kepada
Allah namun percaya akan adanya Allah. Hal ini disebutkan dalam al-Quran surat
an-Naml ayat 14. Allah berfirman,
وَجَحَدُوا۟ بِهَا وَٱسْتَيْقَنَتْهَآ
أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal
hati mereka meyakini kebenarannya.
Mereka, yaitu
Fir’aun dan para pengikutnya, ingkar, tidak percaya dengan apa yang dibawa oleh
Musa karena dorongan kesombongan dan kedzolimannya. Tapi, sebenarnya hati
mereka meyakini. Jadi aslinya Fir’aun itu yakin bahwa Allah itu ada. Mengapa
Fir’aun dikatakan orang yang tidak beriman kepada Allah padahal yakin bahwa
Allah itu ada? Karena poin keempat dari cakupan iman kepada Allah tidak
dipenuhi oleh Fir’aun, yaitu mengimani uluhiyyah Allah. Fir’aun tidak mau
beribadah kepada Allah.
Sekedar yakin
bahwa Allah itu ada belum cukup untuk beriman kepada Allah, harus diiringi
dengan beribadah kepada Allah. Bukan hanya beribadah kepada Allah, tapi
beribadah hanya kepada Allah. Perbedaan beribadah kepada Allah dengan beribadah
hanya kepada Allah adalah beribadah kepada Allah bisa jadi beribadah juga
kepada selain-Nya, sedangkan beribadah hanya kepada Allah berarti hanya Allah
yang diibadahi. Yang diminta dari seorang muslim adalah beribadah hanya kepada
Allah. Karena mendua dalam beribadah tidak diterima dalam islam. Harus fokus
kepada satu sesembahan, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Karena Allah adalah
tuhan yang Maha Esa. Setiap hari minimal 17 kali kita mengucapkan,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ
وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴿٥﴾
Hanya kepada
Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
Perhatikan baik-baik kalimat “hanya”.
Berarti kalau misalnya menyembah Allah dan menyembah selain Allah itu namanya
bukan “hanya.” “Hanya” itu cuma satu, fokus hanya kepada Allah subhanahu wa
ta’ala. Tidak boleh tengak tengok kepada yang lainnya, sudah Allah saja.
Itu namanya “hanya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala”. Inilah
yang diistilahkan dengan tauhid.
Buah Keimanan Kepada Allah
Kalau
orang sudah beriman kepada Allah, banyak buah banyak yang bisa dia petik. Tapi
karena keterbatasan ilmu dan keterbatasan waktu, akan disampaikan tiga buah.
1.
1. Hanya berharap kepada Allah semata.
Orang yang imannya kepada Allah sempurna, maka dia
tidak akan berharap kecuali hanya kepada Allah. Karena Allah yang memiliki
segala sesuatu. Kekuasaan di tangan Allah. Dia yang menciptakan, menghidupkan,
mematikan, memberi rizki, menyembuhkan, mengatur, memiliki, lantas kenapa kita
berharap kepada yang tidak memiliki, dan tidak mengatur, tidak menyembuhkan,
tidak menghidupkan, tidak mematikan, tidak memberi rizki? Surat asy-Syarh ayat
8,
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب
Dan hanya kepada Rabbmulah engkau berharap.
Berharap itu hanya kepada Allah subhanahu wa
ta’ala. Kita bisa mengharapkan apapun, kapanpun, dan dimanapun kepada
Allah. Karena manusia tidak mungkin bisa lepas dari kebutuhan kepada Allah subhanahu
wa ta’ala. Sedetikpun manusia tidak bisa lepas dari Allah subhanahu wa
ta’ala. Kalau kita lepas dari Allah sebentar saja, kita akan mati. Karena
Allah yang memberi nafas. Bukan hanya urusan nafas, makan, minum, sampai
hidayah, istiqamah di atas agama ini. Allah subhanahu wa ta’ala yang
memberikan itu semua kepada kita. Satu detik saja hidayah itu dicabut dari hati
kita, kemudian setelah itu kita mati, tamat kita. Mati dalam keadaan kufur,
mati dalam keadaan tidak beriman, tempatnya dimana? Allah berfirman dalam surat
al-Bayyinah ayat 6,
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَـٰبِ وَٱلْمُشْرِكِينَ فِى
نَارِ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ ٱلْبَرِيَّةِ﴿٦﴾
Sungguh, orang-orang yang
kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam;
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahatnya
makhluk.
2.
2. Tunduk dan patuh kepada aturan dan takdir Allah.
Kenapa harus tunduk kepada aturan Allah? Karena
aturan Allah adalah aturan yang terbaik dan paling sempurna. Kesempurnaan suatu
aturan tergantung siapa yang membuat aturan itu. Bila aturan itu dibuat
manusia, sering ditemui ketidaksempurnaan di dalamnya, makannya sering
direvisi. Kalau aturan Allah nggak ada revisinya. Pernahkah ditemui ayat al-Quran
edisi revisi? Tidak ada. Kemudian Allah buat aturan itu dengan kasih sayangnya.
Allah membuat aturan untuk kita karena Allah sayang kepada kita. Sehingga kita
yakin 100% bahwa ketika kita mengikuti aturan itu, kita pasti baik. Karena
Allah membuat aturan itu hanya untuk kebaikan kita. Tidak ada tendensi apa-apa.
Berbeda dengan aturan yang dibikin oleh manusia. Sering
kali manusia membuat aturan untuk kepentingan pribadinya. Makannya sering ada
gugatan di Mahkamah Konstitusi. Setelah dicek dan diteliti lagi, aturannya
tidak pas. Karena mungkin dulu yang membuatnya memiliki kepentingan pribadi
disitu. Akhirnya dianulir aturan tersebut. Tapi aturan dari Allah subhanahu wa ta’ala sempurna dan didorong dengan kasih sayang
oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Walaupun mungkin ada sebagian aturan yang
tidak enak. Contoh, enak mana zina
dengan menikah? Kalau kita itung-itung dengan logika manusia yang terbatas,
enak Zina. Kenapa? Ga repot. Kalau nikah, khitbah, mahar, saksi, wali, daftar
ke KUA, resepsi, setelah punya anak harus nanggung, memberi nafkah istri,
setelah mati warisan dibagikan kepada anggota keluarga. Kalau zina, selesai
kegiatan, selesai. Walaupun manusia merasa nafsunya itu berat, tapi dia
tetep yakin bahwa ini yang terbaik.
Seorang anak, yang bermain
korek api dilihat oleh bapak dan ibunya kemudian ditegur, “Nak, jangan, bahaya,
nanti kebakaran”. Si anak akan menerima aturan orang tuanya dengan sebal, tapi
kalau dia tahu bahwa orang tuanya mengatakan itu karena dorongan kasih sayang,
maka dia akan menerima dengan hati yang lapang. Seluruh aturan Allah bersumber
dari kasih sayangnya buat kita. Maka terimalah aturan tersebut.
3.
3. Bahagia di dunia dan di
akhirat.
Kebahagiaan, ketenangan,
ketentraman, karunia. hanya bisa diberikan oleh Allah. Siapapun yang mencari
kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, bukan lewat jalur yang sudah ditetapkan
oleh Allah, tidak akan pernah mendapatkannya. Yakinlah itu.
Apakah orang yang tertawa tanda bahagia? Kalau
tertawa tanda bahagia, maka orang yang paling bahagia di dunia adalah orang
yang tertawa 24 jam. Tertawa itu bukan bukti satu-satunya kebahagiaan. Kadang
menangis adalah tanda kebahagiaan. Ketika seorang ibu mendengar kabar anaknya
lulus di sebuah universitas yang sangat dia impi-impikan, maka ibu akan
menangis bahagia. Makannya kebahagiaan ada di dalam mengikuti aturan Allah dan
keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Komentar
Posting Komentar