Rukun Iman 2.1 : Ketahuilah Hukum-Hukum dari Aturan-Aturan Islam
Pada pertemuan pertama kajian Rukun Iman, telah dibahas Fondasi Islam. Fondasi islam adalah akidah. Dalam berdakwah, para nabi dan rasul ‘alaihi shalaatu wa sallam memprioritaskan akidah. Meski begitu, bukan berarti aspek lain dari ajaran Islam seperti ibadah dan akhlak diabaikan. Namun, konsentrasi pertama mereka dalam berdakwah adalah memperbaiki akidah umatnya.
Ajaran Islam diibaratkan sebagai
aspek-aspek yang membentuk sebuah bangunan besar. Untuk membangun bangunan yang
besar, diperlukan fondasi yang kuat. Tanpa fondasi yang kuat, maka bangunan
tidak mampu kokoh berdiri. Namun, bukan berarti aspek-aspek bangunan lainnya
seperti pintu, jendela, dinding, atap, dan sebagainya menjadi tidak penting.
Aspek-aspek bangunan saling melengkapi untuk membangun sebuah bangunan yang
sempurna.
Ajaran Islam itu memiliki banyak perintah
dan larangan. Kita bisa melihat betapa banyaknya larangan islam yang dirangkum
dalam kitab Al-Kabair Karya Imam Adz-Dzahabi. Dalam kitab tersebut, didapati
sekitar 70-80 larangan. Ada juga ulama yang mendapati lebih dari 100 larangan
dalam ajaran islam. Di antara banyaknya perintah dan larangan, masing-masing
memiliki skala prioritas atau yang dikenal dengan hukum. Ada yang bersifat
wajib (harus dikerjakan), sunnah (dianjurkan untuk dikerjakan), makruh
(dianjurkan untuk ditinggalkan), dan haram (harus ditinggalkan).
Sebagai umat islam yang baik, kita harus
mengenal hukum dari aturan-aturan islam. Jangan sampai ketika kita mengamalkan ajaran islam,
kita lebih fokus untuk menjalankan sesuatu yang sifatnya sekunder dibandingkan
primer. Hal ini merupakan salah satu tipu daya iblis. Iblis memiliki banyak
trik untuk menyesatkan bani Adam. Pertama-tama adalah mengajak manusia untuk
meninggalkan sesuatu yang wajib. Bila gagal dan diketahui bahwa orang tersebut
semangat untuk menjalankan perintah, Iblis mencari trik lain dengan menyibukkan
orang tersebut dengan amalan-amalan sunnah sehingga dia terabaikan dari amalan
yang wajib. Contohnya, melaksanakan tahajjud tapi lupa shalat shubuh. Atau
mendahulukan berbuat baik kepada teman dibandingkan berbuat baik kepada ibu.
Oleh karena itu, pernah ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam,
عَنْ أَبِيْ
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ
بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ
مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu,
belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’
Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali
bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab,
‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau
menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971
dan Muslim no. 2548)
Dalam hadits ini, ibu disebutkan tiga
kali, baru ayah, sedangkan tidak disebutkan berbuat baik kepada teman dalam
hadits ini. Berbuat baik kepada teman memang akhlak yang baik, tapi kita harus
cerdas sebagai seorang muslim untuk mengetahui mana amalan yang memiliki
prioritas paling tinggi. Semakin tinggi prioritas suatu amalan, maka pahalanya
semakin besar. Dan bila amalan tersebut ditinggalkan, maka dosanya juga lebih
besar.
Hal yang paling primer dalam ajaran islam
adalah amalan-amalan dan ibadah-ibadah yang diistilahkan sebagai Rukun Iman dan
Rukun Islam. Rukun Iman
dan Rukun Islam merupakan aspek yang wajib kita penuhi sebagai seorang muslim.
Apabila kita tidak memenuhinya, maka tidak sah keislaman kita. Pada bahasan
kali ini, kita akan fokus membahas rukun iman.
Komentar
Posting Komentar