#06 Manusia Tidak Beradab
Bismillaah. Assalamu’alaykum. Bela disini.
Udah lama ya sejak terakhir aku upload jurnal pribadi? Terakhir itu
bulan Desember, lima bulan yang lalu. Akhir-akhir ini aku fokus buat namatin
kajian Rukun Iman yang udah aku tunda sejak Maret 2020. Sekarang aku udah
sampai mendengarkan di Rukun Iman keenam, yaitu beriman kepada Qodo dan Qodar.
Cuma belum sempet dilanjutin karena burn out. Banyak hal yang terjadi sejak
awal tahun ini tapi aku harus bertahan hidup. Gapapa istirahat dulu. Nanti
dilanjut lagi insya Allah hari Rabu.
Kalau jurnal ini rada-rada Jaksel, mohon maaf lahir dan batin.
Mumpung masih bulan syawal, iya ga? Haha. Sekarang jam 23:32, aku nggak bisa
tidur dan besok harus kerja pagi-pagi. Ini bau-baunya aku bakal lemes pas
nge-lab, mungkin aku gaakan puasa dulu hari senin. Hello my dearest breakfast
Soto Naila!!!
Di bulan syawal ini aku berusaha membuat diri produktif dengan baca
buku-buku bisnis, lanjut ngapalin al-Quran, mendengarkan dan mentranskrip kajian
15 menit setiap harinya, dan berusaha buat bayar hutang puasa secepatnya buat
ngejar puasa syawal. Tapi ternyata lumayan capek juga hahaha. I wonder how could
I survived Ramadhan? Is it because of Allah’s blessing? If that so, alhamdulillah.
Malam ini aku merenungkan hal yang paling aku ingin rubah dari diriku,
yaitu beradab dan mengontrol diri. I really have zero self-control.
Sering kali aku oversharing, menjawab pertanyaan orang dengan judes, over-kepo,
melakukan sesuatu tanpa rasa malu, dan hal-hal lainnya yang terkait dengan menjaga
adab.
Jujur, aku muak kalau disuruh belajar adab, etika, dan norma masyarakat.
Sebagai orang yang benar-benar nggak punya common sense, sering kali “orang-orang
beradab” mengajarkan adab, etika dan norma masyarakat ketika aku melakukan
ketidaksopananku atas kebodohan yang aku tunjukkan dengan merendahkanku.
“Dasar manusia tidak beradab”
“Tidak tahu malu”
“Tidak bisakah dia mengontrol dirinya sendiri?”
Sejauh yang aku alami selama hidup, aku tidak pernah belajar adab,
etika, dan norma masyarakat secara formal dan terperinci. Maka aku menganggap
wajar bila aku tidak tahu banyak tentang adab, etika, dan norma masyarakat yang
berlaku. Meskipun begitu, rasanya aku tetap tidak bisa mewajarkan perilakuku
yang nggak punya common sense.
Pahit memang menjadi orang yang nggak punya common sense.
Tapi mungkin beberapa perilaku “orang-orang beradab” yang sering aku terima
pantas aku dapatkan. Bukankah manusia itu seperti cermin? Bila diperlakukan
baik, maka manusia akan berlaku baik kepada kita. Sebaliknya, bila diperlakukan
buruk, maka manusia akan berlaku buruk kepada kita. Meskipun sepertinya tidak
100% demikian, haha. Tapi nggak apa-apa. Ganjaran kebaikan yang kulakukan tidak
harus dibayar kontan di dunia, aku yakin Allah Maha Melihat dan Maha Tahu apa
yang aku kerjakan dan apa yang aku niatkan dari apa yang aku lakukan. Lakukan saja
kebaikan untuk Allah, iya nggak? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ
مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Dan barang siapa yang berbuat demikian
karena mencari keridhaan Allâh, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang
besar”. (QS. An Nisâ`:114).
Yap, aku nggak bisa membiarkan perilakuku. Dan entah kenapa Allah
menyadarkanku bahwa kelakuanku selama ini banyak buruknya. Sering kali aku
merasa suci, padahal nggak boleh kan kayak gitu, ya? Haha. It’s a good thing
when I realize that I am not a good person, right? Because if I keep saying
that I am not guilty, that’s ridiculous! I am a human and I made mistakes. But
the most important thing is I have to realize my fault and repent all of my
sin. Allah berfirman,
هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ
الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا
أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan
kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah
kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang
bertakwa.” (QS. An Najm: 32).
Menumbuhkan rasa malu juga baik dalam islam. Rasulullah shallallaahu
‘alayhi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي
البَدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ
الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ” رَوَاهُ البُخَارِي.
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu
‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia
ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR. Bukhari, no.
3484, 6120)
Selain karena rasa-ingin-bertahan-hidup yang meningkat dan nggak
terima disebut sebagai manusia tidak beradab, kurasa nggak ada salahnya untuk
belajar adab, etika, dan norma masyarakat. Sebejar apa aku sampai dibilang
manusia nggak beradab? Hahaha. Mungkin Allah ingin aku biar jadi orang islam
yang baik. Jadi aku nggak malu-maluin agama islam. Iya, nggak? Paling porsi kajiannya
bakal aku selang seling satu hari belajar rukun iman, besoknya belajar adab
islam, besoknya belajar lagi rukun iman, and repeat the cycle! Hahaha.
Bismillah lah, yuk Bela bisa bertahan hidup!
Sekian mungkin misuh-misuh aku di tengah malam ini. Harusnya aku
belajar buat tes BUMN soalnya aku bener-bener gatau apa-apa, mak. Di bis
aja deh belajarnya. Paling nggak akan bawa buku bacaan dan al-Quran. See you
again after BUMN test my babies, I will miss you.
Komentar
Posting Komentar