Rukun Iman : 1.3 Akidah, Ibadah, dan Akhlak Saling Berkaitan
Bismillaah. Assalamu'alaykum.
Kembali bersama Bela di seri rukun iman.
Hari ini kita masuk ke tema saling berkaitannya akidah, ibadah, dan akhlak.
Yuk, langsung masuk saja.
...
Ustadz, apakah
Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam ketika fokus
mendakwahkan akidah, beliau tidak memerhatikan dakwah kepada ibadah atau
akhlaq? Tentu tidak. Karena islam ada akidah, ibadah, dan akhlaknya. Bila
diibaratkan sebuah bangunan, akidah adalah fondasinya, sedangkan ibadah serta
akhlak adalah bangunan di atasnya, dan masing-masing aspek saling mendukung
satu sama lain. Sebagaimana sebuah rumah, apabila fondasinya tidak kuat namun
tidak memiliki tembok, maka tempat tersebut tidak bisa ditinggali. Atau, bila
sebuah bangunan memiliki tembok yang kokoh namun tidak ada atapnya, atau
memiliki tembok dan atap namun tidak memiliki pintu dan jendela, tentu saja
tempat tersebut tidak nyaman dihuni. Jadi, antara akidah, ibadah, dan akhlak
itu saling berhubungan. Maka, keliru bila sebagian orang beralasan
memrioritaskan akidah, kemudian dia tidak memerhatikan aspek-aspek lain seperti
ibadah dan akhlak.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ
خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam
Ash-Shahihah no. 284.)
Jadi, bila
akidah seseorang semakin kuat, maka seharusnya akhlaknya semakin mulia.
Ustadz, ada
orang yang khatam bolak-balik belajar akidah. Namun ketika bertemu, dia tidak
pernah tersenyum, ustadz. Bahkan ketika disalami, dia tidak mau menjawab
kecuali bila salam dengan orang satu kelompoknya. Itu bagaimana ya, ustadz?
Berarti akidahnya belum kuat.
Al-Alamah al-Mubarakfuri
dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi mengatakan bahwa kesempurnaan iman mengharuskan
seseorang untuk berakhlak mulia. Jadi, bila ingin mengetahui kesempurnaan
imannya seseorang, salah satu caranya adalah dengan melihat akhlaknya. Maka,
bila kita hanya membangun fondasi tanpa bangunan, fondasinya tidak akan
terlihat. Namun begitu berdiri sebuah bangunan di atasnya, diberi jendela dan
pintu, maka terlihatlah wujud sebuah bangunan yang sempurna. Akidah yang ada
dalam hati harus diwujudkan dengan sesuatu yang terlihat oleh mata. Sesuatu
yang tampak mata yang diibaratkan seperti tembok dan atap adalah shalat,
bertutur kata yang baik, birrul walidain, puasa, dan
lain-lainnya. Maka, di dalam agama Islam tidak cukup sekedar ingat. Dalam
islam, sesuatu yang ada di dalam hati berupa keyakinan harus diwujudkan dalam
sesuatu yang terlihat. Baik itu ada dalam lisan, ibadah lisan, ibadah hati,
atau ibadah yang ada di dalam anggota tubuh.
Oleh karena
itu, menarik sekali ketika nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam berbicara
tentang iman dalam Hadits Riwayat Muslim.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌ
وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ
شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih,
atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan Lâ ilâha
illallâh, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan.Dan
malu itu termasuk bagian dari iman. (Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh
al-Bukhâri, no. 9 dan dalam al-Adabul Mufrad, no. 598; Muslim, 35 [58], dan
lafazh hadits di atas adalah lafazh riwayat imam Muslim; Ahmad, II/414, 445;
Abu Dawud, no. 4676; At-Tirmidzi, no. 2614; An-Nasâ-I, VIII/110; Ibnu Mâjah,
no. 57; Ibnu Hibban, no. 166, 181, 191-at-Ta’lîqâtul Hisân ‘ala Shahîh Ibni
Hibbân).
Kata Nabi shallallaahu
‘alayhi wa sallam, “iman terdiri dari sekitar 60-70 lebih cabang”.
Jadi, iman itu cabangnya banyak. Setelah itu, nabi shallallaahu ‘alayhi wa
sallam memberi tiga contoh. Yang pertama adalah cabang iman yang paling mulia
dan istimewa, yaitu kalimat “laa ilaaha illallaah”. Sedangkan cabang iman
paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan malu
termasuk cabang iman. Perhatikan baik-baik, tiga jenis ibadah ini dilaksanakan
di tempat yang berbeda. Ucapan laa ilaaha illallaah diucapkan dengan lisan,
menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan dilaksanakan dengan anggota
tubuh, sedangkan malu tempatnya di hati. Lihatlah bagaimana nabi shallallaahu
‘alayhi wa sallam memberi contoh bahwa iman itu tidak cukup dengan
hanya sebuah keyakinan yang ada di dalam hati, tetapi harus diwujudkan.
Makannya ada
ibadah yang membutuhkan aktifnya lisan, perbuatan, dan hati di waktu yang sama,
yaitu shalat. Lisan bertugas membaca bacaan shalat. Ketika lisan mengucapkan
takbir, digerakkanlah tangan, mata dipasang untuk melihat ke tempat sujud,
mulut aktif mengucap bacaan shalat, dan hati berusaha untuk khusyuk meresapi
apa yang dibaca oleh lisannya. Shalat tidak bisa dilaksanakan bila tempat
ibadah tidak aktif, seperti membaca bacaan shalat tanpa Gerakan ataupun
melaksanakan Gerakan shalat tanpa membaca bacaan shalat.
Komentar
Posting Komentar