Rukun Iman : 1.2 Buah Akidah Yang Kuat Pada Pribadi Seorang Muslim

 Bismillaah. Assalamu'alaykum. Bela disini.

Sekarang kita masuk ke bahasan dua dari kajian episode pertama rukun iman, yaa. Kali ini, kita akan membahas "Buah Akidah yang Kuat Pada Pribadi Seorang Muslim".

Kita tahu bahwasannya ketika awal-awal dakwah islam di Mekkah, para shahabat adalah kaum minoritas. Kaum mayoritasnya merupakan kaum musyrikin Quraisy. Kaum musyrikin Quraisy suka mengintimidasi, menyiksa fisik dan psikisnya para shahabat. Kita sering dengar cerita tentang Bilal. Begitu Bilal ketahuan masuk islam, majikannya yang bernama Umayyah mengikat leher Bilal menggunakan tali di pagi hari. Kemudian talinya diberikan diberikan kepada anak-anak kecil yang berada di Mekkah sebagai mainan untuk digeret-geret ke gunung-gunung Mekkah. Na’udzubillaahimindzaalik, dianggap sebagai kambing yang diseret-seret. Siang harinya dibawa ke tengah padang pasir. Disuruh telentang di tengah padang pasir yang panas sekali. Kemudian ditaruh batu besar di atas tubuhnya. Dan dikatakan oleh majikannya, “kamu akan terus seperti ini sampai engkau mau meninggalkan ajaran Muhammad”. Apa jawabannya Bilal? “Ahad”. Apa “Ahad”? Esa. Maksudnya Allah. Disuruh untuk ngomong latta, uzza, jawabannya Ahad.

‘Ammar dan keluarganya, ‘Ammar, Yasir, serta Sumayyah Ummu ‘Ammar, disiksa semuanya. Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang saat itu lewat dan dalam kondisi tidak punya kekuatan, beliau hanya bisa menghibur “Shabaran ‘aalaa yaasir”, “sabarlah wahai keluarga Yasir”. “Fa’iida mawaa’iduqul Jannah”, “kalian semua akan masuk surga”. Subhanallaah. Jadilah Sumayyah sebagai wanita yang mati syahid pertama kali dalam islam. Karena ditusuk -maaf- kemaluannya dengan tombak sampai tembus ke belakang oleh Abu Jahal.

Khabbab. Disiapkan bara api, disebarkan di atas tanah, kemudian dilepas bajunya Khabbab dan disuruh telentang di atas bara api itu kemudian ditindih dengan batu besar diatasnya sampai bara api itu padam dengan cairan yang keluar dari tubuhnya Khabbab. Semua manusia-manusia ini sukses menghadapi ujian-ujian berat tadi, dengan izin Allah kemudian dengan akidah yang mereka miliki.

Bila ada orang yang meninggalkan islam hanya karena diiming-imingi harta dunia, bahkan senilai satu kardus mi instan, hal ini menunjukkan rapuhnya akidah. Entah apa yang terjadi kalau mereka mengalami seperti apa yang dialami oleh Bilal, Sumayyah, Khabbab. Itulah buah dari kokohnya suatu akidah. Menjadi muslim yang tidak mudah terombang-ambing oleh situasi yang ada di sekelilingnya.

Sebagian orang itu seperti air di atas daun talas, tidak memiliki pendirian dan suka ikut-ikutan orang di sekitarnya tanpa kesadaran hanya karena mayoritas orang di lingkungannya melakukan hal tertentu. Bagaimana bila orang-orang di sekitarnya masuk sumur, lembah yang ada di neraka? Na’udzubillaahimindzaalik. Hal ini disebabkan oleh kerapuhan akidah yang dimiliki oleh orang-orang tersebut. Oleh karena itu, nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam terus mendakwahkan akidah sekalipun beliau sudah pindah ke Madinah. Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berdakwah di Mekah sekitar 13 tahun dan di Madinah selama 9-10 tahun. Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam ketika di Madinah pun tetap memerhatikan akidah dalam dakwahnya. Selama hayat masih dikandung badan, maka kita tetap berusaha untuk memerjuangkan akidah. Bahkan Rasulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memerhatikan akidah menjelang wafatnya.

Dari Jundub bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu berkata: “Aku mendengar bahwa lima hari sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُوْنَ لِي مِنْكُمْ خَلِيْلٌ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ. ‘Sungguh aku menyatakan kesetiaanku kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) di antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil, seandainya aku menjadikan seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.’” HR. Muslim (no. 532 (23)) bab: An-Nahyu ‘an Binaa-il Masaajid ‘alal Qubuuri wa Ittikhadzis Shuwari fiiha wan Nahyu ‘an Ittikhadzil Qubuuri Masaajid (Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Larangan Membuat Patung-Patung serta Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ. “Laknat Allah atas Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” HR. Al-Bukhari (no. 435, 436, 3453, 3454, 4443, 4444, 5815, 5816) dan Muslim (no. 531 (22)) dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma.

Apa hubungannya menjelang wafat dengan mengingatkan kuburan dijadikan masjid? Para ulama menjelaskan, Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam menyampaikan hal tersebut dalam rangka untuk mewanti-wanti umatnya supaya akidah dan tauhid mereka tidak rusak. Yang disembah tetap Allah, bukan yang ada di dalam kuburan. Jadi, Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam menjelang wafatnya masih memerhatikan masalah tauhid dan akidah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Letter to My Younger Self

Kayra dan Gaun Impiannya

#10 HAAAAHHH!!!! ((Kegajeboan))