Rukun Iman : 1.1 Pentingnya Belajar Rukun Iman
Bismillaah.
Assalamu'alaykum. Bela disini.
Sudah bulan Februari, guys. Yeayyy! Sebenarnya saya nggak niat ngeposting apa-apa, sih. Nggak keidean sesuatu, gitu. Tapi alhamdulillaah akhirnya episode pertama rekaman kajian Rukun Iman oleh Abdullah Zaen berhasil saya rangkum! Alhamdulillaah. Rekaman kajiannya bisa didengarkan disini. Saya mendengarkan kajian perihal rukun iman waktu itu atas rekomendasinya Abu Takeru, Maret 2020, yang sebenarnya direkomendasikan buat dengerin kajiannya beliau di Youtube, tapi saya malah kabur ke rekaman Ustadz Abdullah Zaen, haha. Kata Abu Takeru, kalau mau memerbaiki diri perihal keislamannya, cobalah pelajari rukun iman dan penjabarannya. Qaddarallaah baru kesampaian sekarang. Dari delapan rekaman, baru tiga yang saya dengarkan dan berhasil ditranskrip. Semoga bisa mulai belajar rukun iman dari sekarang lagi ya, Aamiin.
Setelah mendengarkan, mentranskrip, dan merangkum episode pertama, saya mendapati lima fokus bahasan. Diantaranya adalah perihal pentingnya belajar rukun iman, buah akidah yang kuat pada pribadi seorang muslim, perhatian Rasulullaah terhadap akidah menjelang wafatnya, saling berkaitannya akidah, ibadah, dan akhlak, serta akidah diibaratkan sebagai pohon. Pada postingan blog kali ini, saya akan membahas Pentingnya Belajar Rukun Iman.
Rukun iman merupakan sebuah tema yang
tidak asing di telinga umat islam. Akan tetapi, banyak di antara kaum
muslimin yang kurang menguasai kandungan dan penjabaran dari rukun iman.
Padahal, rukun iman merupakan sesuatu yang pokok dan vital di ajaran umat
islam. Oleh karena itu, amat disayangkan manakala banyak diantara kita yang
tidak tergerak untuk mendalami rukun iman dan rukun islam. Dan amat disayangkan
pula ketika kita sadar bahwa kita memiliki kekurangan ini, tidak ada rasa
tergerak untuk memerbaiki kekurangan tersebut.
Umat islam perlu memahami bahwasannya
islam itu ibarat sebuah bangunan. Bangunan yang sempurna memiliki fondasi, tiang, dinding, atap, pintu,
jendela, dan sebagainya. Sebuah bangunan akan kuat jika fondasinya kuat.
Semakin tinggi dan besar bangunannya, maka fondasi yang dibutuhkan semakin
dalam dan kuat. Bila diibaratkan sebuah bangunan, maka Islam merupakan bangunan
yang sangat besar. Karena itu, Islam membutuhkan fondasi yang kokoh.
Fondasinya
islam merupakan akidah. Akidah didefinisikan oleh para ulama sebagai
keimanan yang teguh dan pasti kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan
hal-hal ghaib yang lainnya dalam islam tanpa ada keraguan sedikitpun. Maka di
dalam islam, fondasi itu memiliki kedudukan yang istimewa. Makannya, kalau kita
perhatikan, seluruh nabi dan rasul pasti mengawali dakwahnya dengan akidah dan
tauhid. Tidak ada satupun di antara mereka yang tidak mengawali dakwahnya
dengan tauhid.
Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam, pertama kali diutus menjadi nabi dan rasul, beliau
diutus menjadi nabi dengan surat Al-‘Alaq. Sedangkan diutus menjadi rasul
dengan surat Al-Muddatsir. Nabi shallalllaahu ‘alayhi wa sallam mengawali
dakwahnya sama seperti nabi-nabi yang lain, mengawali dakwahnya dengan
mendakwahkan terhadap tauhid. Makannya surat Al-Muddatsir kalau kita baca ayat
1 – 5, maka penekanannya itu ada dalam tauhid.
يَـٰٓأَيُّهَا
ٱلْمُدَّثِّرُ
“Wahai orang yang
berselimut.”
(QS. Al-Muddatsir: 1)
Yang dimaksud adalah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena saat itu Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam kaget, merasa khawatir dan cemas. Kemudian beliau
berselimut.
قُمْ
فَأَنذِرْ
“Bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS. Al-Muddatsir: 2)
Beri
peringatan kepada masyarakatmu. Dakwahi umatmu.
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
“Dan agungkanlah Rabbmu,” (QS. Al-Muddatsir: 3)
Yaitu
Allah subhanahu wa ta’ala.
Inilah tauhid. Tauhid itu bukan sekedar tahu bahwa Allah itu ada. Akan tetapi tauhid
adalah pengagungan terhadap Allah subhanahu wa
ta’ala. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh
Allah untuk mengagungkan Allah dan mendakwahkan kepada umatnya agar mereka
mengagungkan Allah ‘azza wa jal.
Itulah aqidah.
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
“Sucikanlah pakaianmu.” (QS. Al-Muddatsir: 4)
Sebagian
ulama menafsirkan pakaian sebagai baju yang kita pakai. Namun, banyak ulama
menafsirkan bahwa pakaian yang dimaksud adalah hati. Makannya kalau kita
perhatikan doa setelah berwudhu, allaahumaj ‘alni minat
tawwaabiinaa, waj’alnii minal mutathahhiriin. Ya Allah
jadikanlah aku termasuk hamba-hambamu yang senantiasa taubat, dan jadikanlah
aku termasuk hamba-hambamu yang senantiasa bersuci. Suci lahir dan batin.
وَٱلرُّجْزَ فَٱهْجُرْ
“dan tinggalkanlah segala
(perbuatan) yang keji,” (QS. Al-Muddatsir: 5)
Dan
tinggalkanlah kotoran. Kotoran yang dimaksud disini kata para ulama
tafsir adalah syirik.
Syirik itu lawannya tauhid. Jelas sekali di dalam ayat-ayat ini bagaimana Allah
subhanahu wa ta’ala memerintahkan
nabinya agar memprioritaskan dakwahnya terhadap akidah, terhadap tauhid, karena
itu adalah fondasi.
Begitu mendapatkan tugas tersebut, nabi Muhammad shallallaahu ‘alayhi wa sallam selama fase Mekkah, selama kurang lebih 13 tahun, beliau istiqamah untuk terus menanamkan tauhid, menanamkan aqidah kepada para shahabatnya. Efeknya, umat islam kuat mental, berpegang teguh pada prinsip islam, keimanan, karena Allah ta’ala.
Komentar
Posting Komentar