Rukun Iman 1.4 : Akidah Diibaratkan Sebagai Pohon
Bismillaah. Assalamu'alaykum.
Kembali bersama Bela di seri rukun iman.
Hari ini kita masuk ke tema akidah diibaratkan sebagai pohon. Ini merupakan seri Rukun Iman 1 yang membahas tentang Fondasi Islam. Insyaa Allaah setelah ini kita bisa masuk ke seri Rukun Iman 2 yang tema utamanya membahas Rukun Iman secara global.
Yuk, langsung masuk saja.
Jadi, ibadah
dalam agama islam perlu dilaksanakan dengan mengaktifkan seluruh potensi yang
kita miliki sebagai pembuktian dari akidah, bahkan termasuk apa yang kita
miliki seperti harta. Jadi bukan hanya mata, telinga, tangan, kaki, tetapi
termasuk yang kita miliki. Jadi antara akidah, ibadah, dan akhlak itu saling
berhubungan. Dan menarik sekali untuk kita perhatikan cerita Allah tentang
sebuah pohon di dalam al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 24-25. Allah subhanahu
wa ta’ala bercerita tentang pohon keimanan.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا
كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ﴿٢٤﴾
Tidakkah kamu
memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik
seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,
Yang dimaksud
dengan kalimat yang baik adalah kalimat tauhid. Allah umpamakan
seperti pohon yang baik, istimewa, dan subur. Pohon yang subur itu akarnya
kokoh menancap dan cabang-cabangnya menjulang tinggi sampai ke langit. Pohon
tersebut adalah pohon keimanan. Akarnya menghujam masuk ke dalam tanah,
cabangnya sampai ke langit.
تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۭ بِإِذْنِ رَبِّهَا
ۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ﴿٢٥﴾
(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin
Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu
ingat.
Pohon keimanan
menghasilkan buah setiap detiknya. Di dunia nyata, tidak ada pohon yang
berbuah setiap detik. Rata-rata pohon berbuah memiliki musim berbuahnya
sendiri. Bahkan, ada pohon buah musiman yang kadang-kadang tidak berbuah.
Ketika tumbuh buah pun, dibutuhkan waktu yang lama supaya kita bisa memetik dan
menikmati buahnya. Sedangkan pohon keimanan berbuah setiap saat dengan izin
Allah subhanahu wa ta’ala.
Para ulama
mengatakan bahwa pohon keimanan membutuhkan lahan. Setelah membutuhkan lahan,
membutuhkan benih, berakar, setelah berakar butuh disiram. Setelah disirami
akan menumbuhkan cabang-cabang. Setelah menumbuhkan cabang akan menghasilkan
buah-buahan. Iman juga sama. Iman membutuhkan lahan, dan lahannya adalah hati.
Oleh karena itu, orang yang tidak memiliki hati tidah bisa menumbuhkan iman.
Maka, bersyukurlah orang-orang yang masih memiliki hati.
Setelah
memiliki hati, maka akan tumbuh akar yang disirami dengan air. Air tersebut
merupakan wahyu dari langit. Makannya wahyu dari langit itu diumpamakan seperti
hujan. Hujan tidak membeda-bedakan antara satu orang dengan orang yang lain
ketika turun. Ketika hujan turun, semuanya basah. Semua permukaan tanah akan
terkena hujan. Namun, efeknya tidak akan sama antara satu tanah dengan tanah
yang lainnya. Tanah yang subur mudah menumbuhkan pohon begitu disiram,
sedangkan tanah yang tandus sulit menumbuhkan pohon meskipun berkali-kali
disiram. Itulah hati manusia. Hati yang disirami wahyu sekali langsung tumbuh
pohon dengan akar yang kuat, itulah hati orang-orang yang beriman. Sedangkan
hati yang tidak menumbuhkan pohon meskipun disirami berkali-kali dengan wahyu
merupakan hati orang-orang kafir.
Setelah tumbuh
akar, akan dihasilkan cabang-cabang. Akar-akar tersebut merupakan akidah,
sedangkan cabang-cabangnya merupakan ibadah dan akhlak. Cabangnya semakin
banyak sehingga orang bisa bernaung di bawahnya. Oleh karena itu, siapapun yang
duduk di samping orang beriman merasa nyaman, sebagaimana nyamannya kita duduk
bernaung di bawah sebuah pohon.
Makannya,
berhati-hatilah bila orang duduk sebentar dengan kita merasa tidak tahan karena
lisan kita yang tajam. Berarti, kita belum berhasil menanam pohon keimanan.
Semakin rindang, orang-orang akan semakin bisa menikmati keberadaan orang
beriman ini. Jadi, orang beriman membuat orang-orang di sekitarnya damai, bukan
membuat yang lainnya ketakutan.
Orang beriman
membuat orang lain damai, tenang, serta nyaman dengan akhlaknya yang mulia dan
senyum manisnya. Sebagaimana dulu para shahabat nabi shallallaahu
‘alayhi wa sallam ketika duduk dengan Rasulullaah shallallaahu
‘alayhi wa sallam, rasanya betah sekali. Sampai kadang-kadang nabi shallallaahu
‘alayhi wa sallam memersilahkan para shahabat meninggalkan rumah
beliau. Sampai akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan
ayat 53 surat al-Ahzab,
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا
تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ
غَيْرَ نَـٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَـٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا
طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ
كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ
ٱلْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَـٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ
حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ
أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ
أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا﴿٥٣﴾
Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika
kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika
kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu
tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu
Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah
tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan)
kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. (Cara) yang
demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu
menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya
selama-lamanya setelahnya (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar
(dosanya) di sisi Allah.
فَٱنتَشِرُو artinya
pulang. Para shahabat itu senang duduk Bernama Rasulullah shallallaahu
‘alayhi wa sallam, rasanya nyaman. Karena Nabi shallallaahu
‘alayhi wa sallam bagaikan pohon yang rindang, maasyaa
Allaah. Dan ketika pohon sudah rindang, akan tumbuh buah yang dapat dirasakan
setiap saat oleh orang yang beriman. Buah tersebut merupakan ketenangan yang
ada di dalam hati. Meski dapat musibah, rejekinya seret, tetapi pada saat itu
mereka merasa tenang, nyaman, karena pohon keimanannya memberikan buah terus
menerus. Menghadapi sekian banyak ujian dan cobaan di dunia dengan hati yang
tenang merupakan buah di dunia. Sedangkan buah di akhirat jauh lebih manis.
Allaah sebutkan di dalam Al-Qu’ran Surat An-Nahl ayat 97,
مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ
وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ
أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ﴿٩٧﴾
Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang
telah mereka kerjakan.
Nanti di
akhirat, kami akan beri balasan yang lebih istimewa dari amalan yang mereka
kerjakan. Yaitu ridhanya Allaah dan surga-Nya.
Komentar
Posting Komentar