Ikan Rasa Tanah, Uang Rp46.500 Melayang
Foto oleh Milo Weiler dari Unsplash
Qaddarallah, ada kejadian tidak menyenangkan.
Sabtu sore, aku baru membuka pesan dari bu RT kalau beliau jualan ikan nila merah. “teh Bela mau berapa kilo? Ikannya baru diambil dari kolam,” tulisnya, disertai poster ikan nila merah yang segar-segar.
Sebenarnya aku sadar disitu Bu RT sedang berjualan. Aku langsung menjawab, “Oh maasyaa Allah. Nggak apa-apa, bu. Saya mah nggak usah.”
Beliau membalas, “Gak suka ikan ya neng Bela?”
Ya… Dibilang nggak suka ikan sih enggak juga, ya. Aku suka banget ikan, khususnya yang dibumbui mamahku. Bodohnya kujawab, “suka, buu”.
Dengan semangat, beliau melanjutkan, “mau berapa kilo hehe. gampang udah terima bersih, neng Bela”, seakan-akan memang mau memberikan ikan itu cuma-cuma.
Aku menjawab, “setengah kilo aja, bu. terima kasih”
Dia bilang, “minimal 1 kg neng, 1 kg isi 3.”
Aku pun menyetujuinya, tanpa benar-benar sadar apa yang aku setujui.
…
Minggu siang, aku baru pulang dari bermain ke Fun World Kings bersama Mamah, adikku, dan Mi, tentu saja untuk menghibur Mi yang kemarin ingin berjalan-jalan.
Sesampainya di rumah, aku dichat bu RT, ditagih untuk mengambil ikan. Dan di momen itu aku baru sadar, “YA ALLAH, INI TEH AKU BELI IKAN YA?!?!”
Duh, kemana otakku kemarin? Kok bisa-bisanya aku mengira sedang diberi cuma-cuma? Mana Bu RT nyangkanya aku beli lagi. Aku merasa dihipnotis. Tapi, dibilang ga punya uang pun aku nggak bisa. Mau disimpan dimana mukaku? Mau dibeli, aku pun tidak rela. Tapi akhirnya aku terpaksa membelinya.
Aku pergi ke rumah beliau dengan May yang naik stroller. Begitu datang ke rumah bu RT, aku pun bertanya, “kirain teh ngasih, bu?”
Dengan santainya bu RT menjawab, “aku kan jualan, neng. Ga liat posternya ya? Si mamah mikir apa ya de pas baca pesan ibu?”
Aku pun memberikan uang sebesar Rp37.000 dengan perasaan campur aduk.
“Sebelum dibumbui, cuci dulu ikannya dengan cuka, ya. Bumbui dengan bawang putih, kunyit, dan garam,” ujar bu RT.
Masalahnya aku tidak pernah mengolah ikan sebelumnya. Aku cukup khawatir dengan permarinasian karena setiap aku memarinasi sesuatu, rasanya tidak pernah meresap. Aku pernah memarinasi tempe, rasanya tetap tawar. Aku juga pernah mengungkep ayam dengan bumbu tradisional maupun instan, rasanya tetap amis. Tapi, aku sudah dewasa, nyaris 30 tahun. Masa menaklukkan sekilo ikan aja nggak bisa.
Tapi, siang-siang begini dimana aku bisa dapat bumbu pasar? Rata-rata pasar dan warung sayur dekat rumahku tutup jam 11. Dengan nekat, aku pergi ke warung biasa dan membeli bumbu bubuk saja. Dan dengan nekat juga, aku bukan membeli bumbu marinasi instan untuk ikan. Aku malah membeli bawang putih bubuk, kunyit bubuk, dan ketumbar bubuk. Kupikir, rempah bubuk sepertinya lebih aman karena sepertinya rempah bubuk hanyalah rempah-rempah yang kandungan airnya dihilangkan. Aku juga membeli kaldu ayam karena ibuku biasa menggunakannya. Dan semua bumbu itu menghabiskan uang sebesar Rp9.500.
Sesampainya di rumah, aku makan siang dulu bersama anak bayiku yang masih masa pemulihan dari bronkopneumonia. Aku makan siang dengan nasi, tahu goreng, perkedel, dan mie goreng. Biasanya anakku ikut makan dengan semangat dalam satu piring bersamaku. Tapi sudah seminggu sejak dia sakit, dia malas makan nasi. Dia malah mengeluarkan semua makanan dari piringku. Aku tidak mau membuatnya trauma makan dengan memaksanya, akhirnya aku makan semua makanan yang berhamburan itu sendirian. Itulah konsekuensi yang anakku dapatkan kalau tidak mau makan, dia tidak makan di saat itu.
Setelah makan siang, aku segera menyiapkan ikan-ikan itu untuk dibumbui. Aku tidak tahu berapa takaran bumbu-bumbu yang harus aku gunakan untuk memarinasi satu kilo ikan. Baik Bu RT dan ibuku tidak membantuku dalam menakar bumbunya dengan benar. Mereka hanya menyebutkan bahan-bahannya, tidak dengan ukurannya.
Aku pun membuka Youtube dan melihat satu reels. Dia bilang untuk membumbui satu kilo ikan, gunakan 5 siung bawang putih, 1 sdm ketumbar, 1 ruas kunyit, dan 1 sdt garam. Aku mencari konversi rempah-rempah. Katanya, 1 siung bawang putih sama dengan seperdelapan sendok teh bubuk bawang putih, dan 1 ruas kunyit setara dengan 1 sdt bubuk kunyit. Aku pun menakar semua bahan ke dalam mangkok kecil dan menambahkan air.
Sebelum memarinasi ikan, aku juga menyiapkan cuka untuk membilas ikan-ikan itu. Bu RT juga tidak memberitahuku sebanyak apa cuka yang harus kugunakan. Akhirnya aku menggunakan 1 sendok makan cuka yang dilarutkan dengan sedikit air untuk membilas ikan-ikan itu. Kemudian, aku balurkan bumbu marinasi racikanku ke permukaan ikannya.
Setelah menunggu setengah jam, aku siap menggoreng ikannya. Tapi minyakku tinggal sedikit lagi, hanya bisa digunakan untuk menggoreng sepotong ikan kecil. Ikan nila yang kudapatkan ukurannya lumayan besar. Bila satu kilo dapat 3 ikan, maka 1 ikannya kira-kira seberat 333 gram. Aku pun memotongnya menjadi tiga bagian. Kepala, badan, dan buntutnya.
Setelah kupotong, akhirnya aku menggoreng ikannya sampai kekuningan. Aku pun mencoba ikan yang sudah kugoreng itu. Di luar, rasanya gurih dan punya rasa manis alami ikan. Sepertinya memang ikannya masih sangat segar. Tapi di dalamnya ternyata masih rasa tanah. Aku sedih sekali dengan ikan ini. Sudah sedih dengan ikan yang susah payah kubeli dengan uang yang ada dan kubumbui dengan susah payah, aku juga sedih karena anakku sedang tidak mau makan. Aku pun beristirahat di kasur sambil menyusui anakku sampai tertidur.
…
Jam 4 pagi, aku baru bangun dari tidur. Aku lupa kalau May belum minum antibiotik dosis keduanya. Dia harusnya makan dulu sebelum minum obat, tapi dia tidak mau makan. Suamiku pun menanyakanku apakah May sudah diberi obat di malam hari? Kujawab belum karena aku ketiduran.
Akhirnya aku dimarahi karena antibiotiknya tidak diberikan. Sedangan dia mendapatkan antibiotiknya dengan susah payah berkeliling ke banyak apotik, jangan lupa uang yang dia keluarkan juga tidak sedikit karena bekerja itu melelahkan. Suamiku juga memarahiku karena membeli ikan yang sebenarnya tidak ingin kubeli, dan akhirnya aku kerepotan sendiri mengurus ikan-ikan itu. Aku jelaskan ceritanya bahwa aku ‘terhipnotis’ bu RT, suamiku masih memarahiku. Katanya aku harusnya lebih teliti baca pesan orang.
Dia menyuruhku pergi ke Bu RT untuk menyuruh Bu RT menggorengnya karena Bu RT sudah merepotkan suamiku dengan merepotkanku, dan membuatku melupakan memberi anakku antibiotik, dan sebagai teguran ke Bu RT kalau dia nggak boleh menawarkan barang sembarangan kepadaku lagi.
Jam 6 pagi, aku pergi ke rumah Bu RT dengan terpaksa bersama May yang naik stroller dengan satu mangkok stainless steel dan satu kotak makan berisi ikan untuk digoreng di rumah Bu RT. Sejujurnya aku malu karena masalahnya tidak harus jadi sebesar ini, tapi syukurlah Bu RT berkenan menggorengkan semua ikanku. Perlu sekitar 1 jam untuk menggoreng semua ikan itu. Selama menunggu, aku mencucikan piring-piring bu RT di wastafel dan anakku melihat-lihat kucing milik bu RT.
Sekitar jam 7, semua ikan tergoreng dengan matang. Aku pun pulang dan menyajikan sarapan untuk keluargaku dengan nasi dan ikan goreng itu. Meskipun ikan-ikan itu sudah dibumbui dan masuk freezer semalaman, ikannya masih punya rasa tanah. Aku pun sedih.
...
Pesan moralnya… entahlah, hahaha. Aku masih terlalu sedih karena mengorbankan Rp46.500-ku yang bisa kupakai beli lauk murah yang enak dengan ikan yang kuolah tanpa ilmu. Aku juga sedih, malu, dan lelah karena dimarahi sebegininya. Ternyata mau ajakan tegas atau ajakan halus, aku tidak bisa menolaknya. Akhirnya aku merepotkan dan orang lain. Hal ini membuatku takut membuka WA dari orang lain. Aku jarang punya uang, jadi kumohon jangan tawari aku dagangan! Aku takut! Hahahaha.
...
Tulisan ini merupakan bagian dari Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Bulan Juli 2026 dengan tema “Momen Salah.”

.jpg)
.jpg)
Duh maaf Bela, aku kok ya ngakak baca cerita ini.
BalasHapusItu Bu RT-nya punya jurus jualan yang tepat banget buat ibu-ibu yang sulit nolak. Tapi lumayan itu kalau bisa minta dimasakin segala. Aku jadi ingat, ada kenalanku yang bisa nolak beli makanan mentah dengan alasan valid dia nggak sempat mengolahnya. Jadi maunya beli matang saja kalau pas perlu.
Tapi menurutku cara paling optimal menolak beli-beli ya tinggal bilang: "Maaf Bu, mungkin lain kali. Sekarang lagi nggak ada budgetnya." Biasanya tidak ada komen lanjutannya.
Hahaha terima kasih telah terhibur, teh Shanty 😭
HapusTeehh ... Aku bacanya ikut sedih tp mau ketawa jg soalnya Bu RT bisa seenteng itu nodongnya hahaha. Keren jg jurusnya beliau.
BalasHapusNext harus bisa belajar lebih kekeuh jawab "tidak" teh. Atau langsung aja saat ditawari begitu tanya aja harganya berapa. Jadi ketahuan apakah dikasih atau disuruh beli. Pukpuk teh, jangan kapok olah ikan lagi yaa hehee ..
Ikan bau tanah begitu biasanya harus banyak bumbunya dan direndam air jeruk nipis dl yang lama. Semangat tetehh...
Teeh, aku mah mau meluk aja ah. Terus mau berdoa semoga Teh Bela diberi kekuatan dan kesabaran ya dalam menghadapi godaan dan ujian hidup dalam membesarkan anak-anak dan membersamai suami. Juga semoga biaya beli ikannya diganti Allah SWT dengan yang lebih banyaak dan berkah. Amiin YRA.
BalasHapus